langkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa. ~Seno Gumira Ajidarma

Ada suatu masa di mana saya mengamini salah satu kutipan Seno Gumira Ajidarma yang cukup viral ini. Dan sebabnya, karena saya sempat berada di fase hidup yang menjemukan tersebut. Saat itu, saya mengangguk dan mengiyakan apa yang dikatakan Mas Seno ini.

Kota berisi mesin, yang di dalamnya sarat dengan rutinitas yang padat dan menjemukan. Pergi pagi dan pulang malam adalah gambaran manusia kota. Begitulah kemudian asumsi yang saya dapat dalam kutipan ini.

Dan kemudian, kemacetan mempertegas seberapa besar beban manusia kota. Suara klakson yang memenuhi nuansa di jalanan sepanjang hari, tentu adalah suara-suara yang lumrah bagi manusia kota. Ditambah kegerahan kota akibat polusi, hal ini membuat emosi tak terkontrol, dan membuat ego kemudian memuncak.

Hal ini kemudian membuat kita pulang dengan perasaan lelah. Malam untuk tidur, dan pagi untuk bekerja kembali. Kita terus melakukan kegiatan repetitif, dan tanpa sempat meluangkan waktu untuk berbicara kepada diri sendiri. Berbicara jujur, apakah kita benar-benar bahagia, atau kita sesungguhnya pantas untuk mendapatkan hal yang lebih baik.

Namun, ada masanya saya tersadar dengan opini yang sangat umum ini. Saya ingin membuat opini tandingan: mungkin, bagi manusia kota kemacetan adalah bentuk kasih sayang kota terhadap kita sendiri. Kota tahu, kita terlalu egois untuk meninggalkan kendaraan mewah kita, dan duduk di bus-bus transportasi yang sudah disediakan itu. Kota tahu, kita mungkin akan terlalu lelah saat sampai di rumah pada malam hari, atau terlanjur sibuk dengan kesibukan kita di siang hari.

Dan mungkin, kota tahu, kita terlalu egois untuk meluangkan diri kita untuk diri sendiri.

Atas sebab inilah mungkin macet hadir, dan memberikan ruang dimensi kepada kita sendiri untuk jujur dari hati ke hati. Estimasi waktu menuju tujuan yang berlebih, akibat macet, seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi renungan singkat dari apa yang kita jalani. Tentang, apakah kamu bahagia dengan pilihanmu ataukah tidak.

Sebagai manusia kota yang egois, tentu ini satu-satunya jalan. Kita ingin bahagia, namun kita tak ingin berkontribusi dalam kemacetan. Jadi, ya, kita harus mulai terbiasa dan menikmatinya. Lagipula, dengan bicara dengan diri sendirilah, kita mampu mengumpulkan semangat untuk kembali menjadi diri kita – alih-alih mengutuk nasib mengapa aku harus menjadi manusia kota.

Kota kemudian sangat berbudi dengan menghadirkan sekat-sekat pribadi antara satu kendaraan dan kendaraan lainnya. Kita bisa bicara dengan diri sendiri. Mau marah? Tentu bisa. Mau nangis? Tentu juga bisa. Mau tertawa? Tentu juga bisa. Bahkan, kita bisa memutar ingatan tentang memori-memori yang telah usang dalam perjalanan yang menyebalkan yang disebut macet itu.

***

Ah, kemudian aku tersadar bahwa ide ini muncul di sebuah kemacetan. Lamunanku, karena bosan terhadap kota, mengantarkanku pada penalaran yang sangat gila ini. Mungkin, aku sudah bosan melacurkan diri dan ingin membangun resistensi terhadap kota. Aku yakin, macet takkan membunuhku, dan aku yakin pula, aku akan tetap waras meski hidup dalam kemacetan. 

Jujur dalam kemacetan.