14851_40359.jpg
Buku · 4 menit baca

Monolog Cinta Ayah Milenial

Bagaimana menjadi ayah dari seorang bocah perempuan milenial yang lahir di akhir dasawarsa pertama 2000-an, sementara kita adalah generasi zaman susah yang membuka mata di Indonesia awal 1960-an? Di zaman para ayah tempoe doeloe yang mungkin tak pernah membayangkan di abad 21 dunia telah menjadi digital, lengkap dengan lompatan robotik, kecerdasan buatan, biologi molekular, dan teknologi nano.

Era generasi kanak-kanak kini memang sungguh mencengangkan, juga menghempaskan. 60 tahun (1960-an hingga 2018) dunia tidak berubah dalam deret hitung, melainkan deret ukur dengan kecepatan sangat eksponensial. Gegar pun mengguncang, bahkan buat ayah tak gagap kecanggihan modern dan imajinasi yang terasah dibebaskan seperti Hamid Basyaib.

Rekam jejak ‘’al mukarom’’ Hamid yang lebih 20 tahun saya karibi adalah catatan kegelisahan intelektual dengan kecerdasan yang selalu mengundang decak. Dia mirip ensiklopedia berjalan. Fasih meliuk di antara budaya, sastra dan seni, politik-ekonomi canggih, hingga gempita teknologi tinggi abad ini, sembari tanpa kehilangan konteks menyelipkan rentangan film dan musik pop kekinian hingga klasik.

Hamid adalah penafsir, pencerita, dan penyimpul yang cenderung tidak cerewet. Dia mampu meringkus ide-ide besar yang rumit menjadi sederhana, terjelaskan dengan mudah dalam tulisan maupun forum serius hingga bual-bual sore sembari menyeruput kopi. Serta, yang terpenting, bertabur humor (sekaligus menjadi kekuatan terbesarnya) yang kerap sinis dan sarkastik.

Tak mengheran jika di jagad pemikiran dan literasi Indonesia, pendiri beberapa lembaga riset dan Penerbit Alvabet yang kini didapuk jadi Presiden Komisaris Balai Pustaka ini, cukup punya pengaruh. Karenanya, tak ada keraguan: Hamid lebih dari siap menghadapi apa pun tantangan milenium ini, termasuk menjadi ayah dari seorang bocah perempuan (kini) berusia 10 tahun.

Di kalangan penggemar buku, telah lama pula Hamid dikenal sebagai penerjemah dan editor yang tidak sekadar mengalihbahasakan teks. Dia adalah master yang mumpuni membawa sebuah karya dari bahasa yang berbeda menjadi lebih legit dan menggigit dalam bahasa Indonesia. Bacalah Sang Alkemis karya Paulo Coelho (Alvabet, 1999) yang dia terjemahkan—bersama Yunita—dari edisi Inggris (The Alchemist, Harper Flamingo, 1998), Anda bakal setuju: kepiawaian penguasaan bahasanya adalah perpaduan bakat dan kematangan penafsir yang amat terlatih.

Rentang minatnya yang luas—menjadikan Hamid pembelajar lintas ilmu—salah satunya dia demonstrasikan ketika (bersama Yanto Musthofa) menerjemahkan Lords of Rim (Sterling Seagrave, 1995) menjadi Para Pendekar Pesisir (Alvabet, 1999). Buku ekonomi-politik ini, di tangan Hamid (yang formalnya berlatar pendidikan hukum) dan Yanto, menjadi bacaan segar serupa fiksi. Bagi pembaca yang cukup jeli, dari kata dan rangkaian kalimat yang digunakan, mudah membedakan bagian mana hasil terjemahan Hamid dan yang mana dikerjakan oleh Yanto.

Jejeran karya Hamid (baik sebagai penerjemah, editor, maupun penulis) yang tercatat melampaui angka 40 dan ratusan—jika bukan ribuan—artikel yang tersebar di berbagai medium, kian mengukuhkan samudera minatnya mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Jangan luputkan pula sikap rileks, tawa, dan main-mainnya yang antaranya diekspresikan lewat dua buku dari tokoh yang dia kagumi: Gitu Aja Kok Repot!: Ger-geran Bersama Gus Dur (Alvabet, 1999) dan Saya Nggak Mau Jadi Presiden Kok!: Ger-geran Lagi Bersama Gus Dur (Alvabet, 2002) yang dia sunting bersama Fajar W. Hermawan.

Hamid yang kompleks itulah yang saya harapkan tercermin dari Love Letter from a Father: 24 Cerita untuk Alma Sophia (Wahyu Media, 2018) yang dia tulis sebagai hadiah HUT ke-10 putrinya. Ketika memegang buku yang dikirim dua hari sebelum launching pada Sabtu, 20 Oktober 2018, saya membayangkan selain tumpahan kasih untuk Alma, isinya mencerminkan kecerdasan dan kenakalan khasnya. Setidaknya, saya bersiap menyimak sembari cengar-cengir.

Hamid yang serius, seingat saya, hanya ketika dia sedang terlelap.

Saya ternyata keliru. Benar, semua tulisannya yang selalu dimulai dengan ‘’Dear Alma’’, ibarat musik adalah rangkaian komposisi lengkap melenakan. Jikalau diandaikan film, buku ini adalah tontonan yang memaksa kita menangguhkan apa pun, termasuk beranjak ke kamar kecil di tengah pertunjukkan—sesuatu yang semestinya manusiawi belaka.

Dibuka dengan cerita Joy, ikan-ikan, dan Flamingo yang diilhami film pendek A Joy Story (peraih Oscar 2017), Hamid dengan gemulai berpindah dari satu topik ke topik lain seperti penari lentur meliuki panggung; atau pelukis yang memainkan kuas dan wolaaaah, di atas kanvas sebuah lanskap indah tersaji dari paduan multiwarna.

Dari kisah ke kisah, Hamid mendemonstrasikan kekayaan rekamannya terhadap banyak hal, isu, dan aspek. Dongeng tua semacam Baju Baru Sang Kaisar ditutur kembali dengan santai dan ringkas; ilmu pengetahuan, kegigihan, etika, dan moral ilmuwan disajikan tanpa menjadi tausiah yang mengerutkan jidat; laku kanak-kanak Alma main detektif atau kesedihannya karena kehilangan boneka kesayangan dipapar bukan sebagai nostalgi; hingga urusan serupa bubarnya grup musik One Direction dan rumitnya ihwal sebuah lukisan atau patung legendaris bisa seharga 10 kali tepukan jidat: setara lebih dari Rp6 triliun.

Tatkala menulis untuk Alma, Hamid tidak sedang mengetuk keyboard. Dia memang tengah menutup mata dan menderaskan kisah.

Pendek kata, buku 124 halaman dengan ilustrasi memanjakan selera ini, menampilkan semua sisi Hamid yang saya kenal, minus humor temperatur tinggi yang biasanya berlontaran dari tuturan atau tulisannya. Namun, seyampang itu pula, saya menemukan sesuatu yang amat jarang dia tampilkan: kemesraan yang ikhlas dan khusyuk. 

Seluruh cerita yang dituturkan Hamid untuk Alma ditulis dengan penuh cinta dan kebijakan. Dia menuturkan kisah (bukan dongeng) pengantar tidur yang saya yakin akan hidup di setiap benak kanak-kanak, siapapun ayahnya dan bahkan bila itu bukan Alma.

Ganti kata "Dear Alma’’ menjadi nama putra atau putri kita, dan Anda akan terkejut: cerita-cerita Hamid adalah kisah-kisah yang setiap kita—setidaknya yang memiliki putra-putri usia 10 tahun—ingin tuturkan sebagai pengantar tidur. Cerita yang tidak hanya memanjakan imajinasi, mengajarkan etika, moralitas, dan laku; tetapi juga menunjukkan penghormatan pada anak-anak bahwa nasihat terbaik bukanlah yang verbal dan menggurui.

Bahkan jika ‘’Dear Alma’’ ditiadakan, kita bisa membayangkan Hamid sedang selonjor di sisi ranjang Alma—yang belakangan lebih banyak bermukim di Bali menemani Ibunya—sembari monolog mangalirkan cerita. Atau justru kita sendiri yang menjadi Hamid dan Alma adalah putra-putri kita yang sedang meringkuk dalam selimut ditemani boneka kesayangan.

Lewat buku ini, yang memang menentang semua kecenderungan buku anak-anak umumnya, Hamid membuktikan dia telah paripurna sebagai penulis. Dia berhasil menyajikan karut-marut dan kerumitan dunia dengan bahasa sederhana dan ringkas, untuk semua usia—dari balita hingga aki-aki dan nini-nini. Dengan limitasi waktu yang sangat panjang dan lama.

Menyimak halaman demi halaman Love Letters from a Father, sebagai seorang ayah, sungguh saya cemburu pada Hamid.