• Gajah Mada 5
  • Hamukti Moksa
  • Langit Kresna Hariadi
  • Tiga Serangkai, 2017.


Akhirnya tuntas juga lima seri Gajah Mada ini. Buku terakhir ini sengaja saya baca pelan-pelan karena tidak ingin cepat selesai. Hehe.

Ya, setiap yang berawal pasti akan menemui akhir. Begitu pun dengan sejarah kekuasaan Mahapatih Gajah Mada.

Pasca terjadinya Perang Bubat, Majapahit berduka. Hayam Wuruk yang benar-benar telah jatuh cinta pada Putri Dyah Pitaloka dari Sunda Galuh menjadi hancur hatinya. Dia tak mengira bahwa yang harusnya menjadi pesta pernikahan berubah menjadi sebuah pemakaman masal.

Keluarga kerajaan Majapahit merasa sedih karena hubungan baik antara mereka dengan kerajaan Sunda Galuh menjadi rusak. Mereka merasa amat bersalah pada pihak Sunda Galuh yang sudah rela datang dari jauh untuk menyerahkan putri mereka menjadi permaisuri Hayam Wuruk malah diserang habis-habisan.

Di sini diceritakan bagaimana akhirnya Gajah Mada harus menanggung akibat yang dia buat di Perang Bubat. Segala kesalahan seakan dijatuhkan padanya. 

Keributan terjadi antara pihak pendukung Gajah Mada dan pihak yang merasa bahwa dia harus dihukum. Akhirnya, setelah upacara layon untuk semua korban Perang Bubat selesai dilaksanakan, Raja Hayam Wuruk memutuskan bahwa Gajah Mada harus dicopot dari jabatannya sebagai Mahapatih.

Gajah Mada sendiri sebenarnya merasa sangat terluka. Dia tak menyangka bahwa ambisinya untuk menyatukan nusantara malah berantakan. Dia bersedih karena merasa pengorbanan dan perjuangannya untuk Majapahit selama puluhan tahun jadi hilang tak berbekas. Dia menyesal, sangat menyesal. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Dengan legawa, Gajah Mada menerima keputusan tersebut dan memilih untuk pindah menyepi ke daerah Sapih, sekitar Tongas, Probolinggo. Tempat yang masih sepi karena terkenal angker tapi indah sekali dengan pemandangan tujuh air terjun. 

Tempat yang lalu oleh Hayam Wuruk diserahkan kepemilikannya kepada Gajah Mada dan diberi nama Madakaripura. (Tempat ini masih ada sampai sekarang, dikenal dengan air terjunnya yang terletak di Dusun Branggah, Desa Negororejo, Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur).

Dalam perjalanannya menuju Madakaripura, Gajah Mada menemui beberapa peristiwa yang memaksanya untuk ikut campur. 

Saat itu, Gajah Mada melewati sebuah kampung yang sangat sepi. Padahal ketika beberapa kali didatanginya sebelum ini merupakan tempat yang amat penuh aktivitas.. Gajah Mada bertanya-tanya dalam hati, ke mana perginya mereka. 

Untuk memastikan penasarannya, ia memutuskan berbelok ke sebuah rumah. Namun, setelah mencoba masuk ke dalam rumah, ia tidak mendapati seorang pun di sana. Akhirnya, Gajah Mada memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. 

Setelah berpacu dengan kudanya beberapa saat, ia melihat ada hal yang berbeda. Sebuah rumah, merupakan satu-satunya rumah yang mengalami nasib berbeda, hangus terbakar dan dengan kasat mata terlihat adanya jejak-jejak perusakan. 

Berbekal pengalaman yang dimiliki sebagai mantan pasukan khusus Bhayangkara, ia mencoba menelusuri jejak hangusnya tersebut. Pada akhirnya, Gajah Mada terbelalak melihat pemandangan yang mendebarkan dari ketinggian tempatnya berada. 

Ia melihat sekelompok orang dalam sebuah barisan berhadapan dengan kelompok lain yang bersikap sama. Dua kelompok itu terlihat seperti sedang siap untuk berperang. Selanjutnya, mereka berasal dari desa Saleces dan desa Pamadan.

Dengan karisma dan jiwa kepemimpinannya, hal-hal tersebut bisa diatasi. Ini menunjukkan bahwa betapa pun Gajah Mada telah dicerca karena kesalahannya, banyak orang yang masih mengagumi dan menghormatinya.

Selepas Gajah Mada lengser, Majapahit justru menemui beberapa masalah. Mulai dari hal-hal kecil di istana, melemahnya armada laut yang mereka miliki, juga kedatangan beberapa penyusup yang diduga adalah kelompok dari Sunda Galuh yang berniat membalas dendam.

Saat semua mulai tak terkendali, dengan berbagai pertimbangan, Raja Hayam Wuruk yang saat itu sudah menikah dengan sepupunya sendiri memutuskan untuk memanggil kembali Gajah Mada. Dia akan menempati posisinya semula sebagai Mahapatih. Dan untuk itu, Raja Hayam Wuruk beserta orang-orang penting istana akan datang ke Madakaripura untuk menjemput Gajah Mada.

Apakah Gajah Mada menerima tawaran itu, kembali ke Majapahit dan membantu Hayam Wuruk mengatasi semua permasalahan? Atau dia akan tetap tinggal di Madakaripura menjalani hidup sunyinya?

Di akhir cerita, digambarkan bahwa akhirnya Gajah Mada memilih untuk moksa. Gajah Mada merasa dia sudah sampai di titik akhirnya, tak akan bisa menahan lajunya waktu. Sang penggegar Hamukti Palapa memilih untuk Hamukti Moksa.

Hal ini masih menimbulkan banyak kontroversi. Mungkin bisa dianggap nyata karena memang sampai detik ini belum ditemukan di mana makam Gajah Mada.

Saya sungguh berterima kasih pada Om Langit Kresna atas bacaan ini. Dari lima seri buku ini, saya jadi mengenal Gajah Mada bukan hanya sebagai seorang yang terkenal dengan sumpahnya. Saya jadi memahami bahwa bagaimana pun Gajah Mada hanya manusia biasa. Ini mungkin fiksi sejarah paling indah yang pernah saya baca.

Tabik.