Di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara terjadi Kongres Luar Biasa (KLB) yang menunjuk Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang baru. Menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

AHY mulai panik saat mengetahui hal tersebut. Sebab Moeldoko lebih berpengalaman dalam bidang politik. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) marah karena anaknya mendapatkan gangguan yang cukup besar. 

Sayangnya SBY sudah pensiun. Meski saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, tetapi tajinya sudah banyak menghilang. Walau wibawanya sama, tapi pengaruhnya telah jauh menurun.

Jika hasil KLB tersebut disahkan presiden, maka Moeldoko akan menjadi Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko polhukam) menggantikan Mahfud MD. Sebab Jokowi membutuhkan dukungan dari partai, termasuk Demokrat. 

Moeldoko sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) pernah mengatakan bahwa ia menghormati SBY sebagai atasan. Tapi begitu ada dorongan dari pihak tertentu, ia langsung bergerak. Setelahnya kudeta selesai dan berhasil. Ia akan kembali menghormati SBY. Meski SBY nanti tidak lagi menyapa, untuk waktu yang lama.

Moeldoko kelihatannya bernafsu dan siap menjadi presiden 2024. Meski ia mengatakan ada paksaan banyak pihak, tapi tetap saja ambisi pada kekuasaan dari dirinya begitu terasa. Buktinya ia pasrah saja diangkat menjadi ketum baru. 

Orang-orang Demokrat sepertinya tidak lagi menginginkan hanya sebagai penonton, menyukseskan penyelenggaraan pemilihan umum, dan membiarkan partai lain mengambil peran lebih. Mereka ingin jadi calon kuat berikutnya dalam pemilihan presiden. 

Kalau AHY yang mewakili Demokrat, tentunya bisa memakan waktu lama menjadi presiden. Sebab AHY dalam hal komunikasi dan pengalaman politiknya dinilai masih kurang. Sementara Moeldoko tampil dominan.

Lihat saja pengalamannya di bidang pendidikan, milter, politik dan instansi pemerintah. Menjadi Kepala KSP dua kali sudah membuktikan keahlian dan kepiawaiannya dalam memimpin.

Maka dengan profil Moeldoko yang dinilai tangguh untuk melawan kerasnya pemilihan presiden berikutnya setelah Jokowi yang tak terkalahkan. Oleh karena itulah, banyak orang memilih Moeldoko walau ia berada diluar Demokrat.

AHY bersama prajuritnya menganggap hal itu tidak sopan dan kemudian bersiap melawan. Dinilai sebagai pemberontak, padahal merupakan bagian dari Partai. Pangeran baru yang menjadi Raja melawan pangeran negeri seberang yang ingin merebut tahta. 

Moeldoko menepis isu sebelumnya tentang partai Demokrat, dengan mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa. Ia hanya silaturrahmi dengan mantan kader Demokrat. Malu-malu tapi mau. Pura-pura naif sambil menyembunyikan niat menjadi penguasa baru Partai Demokrat.

Dua lawan satu, yaitu kubu AHY dan SBY melawan kubu Moeldoko. AHY menyerukan lawan Moeldoko, maka 34 Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Demokrat langsung bersatu, terutama yang ada di Jakarta. 

Setelahnya SBY berseru, daerah Jateng langsung siap siaga. Sementara pendukung Moeldoko tidak diketahui identitas kubunya. Katanya mantan kader dan petinggi partai. Sepertinya di internal Demokrat banyak yang tidak menyukai AHY, buktinya terjadi KLB.

Keributan ini terjadi akibat ketidakpuasan internal partai terhadap kepemimpinan baru yang dianggap belum cakap. Sebab AHY dinilai masih belum siap untuk maju dalam pemilihan presiden 2024.

Kubu pembela AHY merupakan kubu yang taat aturan. Sementara kubu pemerontak merupakan kubu opportunis yang melihat peluang ke depan dan ingin melakukan perubahan. Mereka melihat peluang meraih kekuasaan dengan pemimpin yang dinilai kompeten.

Kalau AHY dan SBY kekurangan uang untuk menggerakkan partai, maka hal inilah yang terjadi. Sebab partai akan bergerak jika uang tersedia. Seperti uang bensin, konsumsi, menggelar pertemuan, rapat, diskusi. Dapat apa yang didapat dari partai Demokrat, kalau partainya tidak maju? Dengan Moeldoko yang masih menjabat dan kaya, yang lebih banyak uang, maka segenap partai akan bersemangat.

Moeldoko masih menjabat sebagai KSP dan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Dimana Prabowo pun pernah menjabat sebagai Ketua HKTI. Biasanya di bidang pertanian memiliki kekayaan yang besar.

Orang menilai Moeldoko tidak etis. Sebab hal ini dinilai bisa menjatuhkan nama baik Jokowi. Moeldoko masih menjabat, tetapi membuat kekacauan di Demokrat. Moeldoko dianggap culas karena termasuk mewakili pemerintah. Jadi ialah sama menganggap bahwa Pemerintah yang menghancurkan Demokrat, tentu tidak.

Solusinya ialah memecat Moeldoko, sehingga terjadi penyelesaian. Konflik internal yang menjadi eksternal karena ada nama Moeldoko. Padahal yang dibawa hanya namanya. Tapi orangnya tidak ikut. Taktik yang biasa dilakukan. Mencantumkan nama orang berpengaruh, supaya gentar.

Tapi Demokrat tidak takut, mereka hanya panik. Mereka lalu menyiapkan berkas-berkas dan persyaratan legal. Kalau mau KLB itu harus ada syarat-syaratnya. Lihat saja syarat-syaratnya, maka KLB ini tidak sah. Sebab persyaratannya akan jalan kalau SBY setuju. Kalau tidak, jangan harap.

KLB bukan sesuatu yang mudah terjadi. Kalau KLB terjadi, kita bisa berpikir bahwa banyak sekali orang yang mendukung Moeldoko. Wajar jika AHY sedikit panik. Tapi ia berusaha tetap tenang dan melawan sekuat tenaga. Ketidakadilan yang terjadi. Ia merupakan Ketua Umum Partai Demokrat yang resmi. Sehingga semua ada aturannya, kalau melawan akan ada sanksi.

Sepertinya SBY jadi kesal dengan keputusan AHY yang terlampau cepat berada di jalur politik. AHY dinilai melakukan blunder fatal dengan meninggalkan bidang militer. Tapi apapun keputusan, yang memutuskan adalah AHY sendiri. Ia mungkin menilai bahwa bidang politik semakin cepat terjun semakin baik. Sehingga akan ada banyak pengalaman. Sayang ia lupa bahwa politik bukanlah hal yang mudah. Ia harus lebih cerdas lagi melihat peluang, dan bersikap taktis 

Dan mari kita tunggu bersama apa yang akan terjadi selanjutnya. Ataukah sudah ada yang menebaknya? Sebab sejarah kadang terulang.


Daftar Bacaan

https://nasional.sindonews.com/read/356820/12/moeldoko-disahkan-jadi-ketum-demokrat-mahfud-tersingkir-dari-menkopolhukam-1615086236

https://www.jawapos.com/nasional/politik/03/02/2021/moeldoko-saya-menghormati-sby-tidak-mungkin-ingin-kudeta-ahy/