Mahasiswa
2 tahun lalu · 242 view · 2 menit baca · Pendidikan satri_tidur.jpeg
Satu Khas, Selalu Tidur Baik solat maupun ngaji

Moderinasasi Pondok Pesantren

 “Pendapat saya benar, tapi munkin saja salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi mungkin saja benar”

Kutipan popular di atas diambil dari Imam Syafi’I, suatu kalimat yang tidak diagganggap sangat toleran. 

Sepertinya kalimat itu sudah masuk ke dalam jiwa para pendahulu negeri ini. Pandangan itu dianggap sudah tertanam didalam jiwa bangsa ini karena melihat Indonesia sebagai negara yang sebagian besar berkepercayaan agama Islam namun sangat menghargai agama lain.

Bahkan dengan lantang kelompok besar umat Islam mengidentifikasikan kelompoknya sebagai garda moderat. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang merupakan ormas terbesar telah menguhkan dirinya sebagai garda terdepan wacana keislaman yang berorientasi kebangsaan dan keislaman.

Sulit dimungkinkan pandangan itu tiba-tiba hadir tanpa ada landasan kuat. Atau kalaupun seandainya hadir dengan tiba-tiba dimungkinkan hanya dikalangan ibu kota yang hidup lebih idividulis. Namun, pada kenyataannya pandangan itu benar terjadi dan juga tersebar di berbagai penjuru negeri ini.

Pondok pesantren menjadi jawaban awal untuk melihat pandangan umat Islam Indonesia saat ini. Salah satu bukti pondok pesantren menjadi jawaban ini adalah, tidak sedikit di dalam tubuh pondok pesantren yang tersebar dan mengakar di berbagai pelosok tumbuh kader-kader ulama yang berpandangan moderat dan lebih arif dan mencerahkan.

Pandangan moderat yang ada disejumlah pondok pesantren itu semakin terlihat karena pondok pesantren tidak lagi hanya mengkaji keagamaan.   yang didalamnya juga mengkaji  sejumlah program studi yang bercorak umum.

Asumsi dari luar yang melihat pondok sebagai pendidikan yang hanya diperuntukkan oleh orang “miskin” dan terlihat “ortodok” pun mulai mencair bahkan tak dibenarkan lagi. Bahkan sejumlah santri dianggap mampu bersaing di banyak bidang dan sudah mulai merambah ke kelas menengah dan keatas.

Tidak terkecuali bidang lain ekonomi, militer, birokrasi, diplomat, elite pemerintahan dan intelektual kelas dunia. Sehingga dengan kualitas dan pandangan yang sudah tidak lagi dianggap “kolot” itu, semakin banyak orang tua yang mempercayakan anaknya ke pondok pesantren.

Dengan menguatnya kultur pondok pesantren yang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan dan kesadaran mendirikan perguruan tinggi yang ada di dalam pondok pesantran yang tersebar luas di negeri ini menjadi prestasi pondok pesantren di negeri ini dalam menjaga kemerdekaan. Jika ini terus berkembang, akan menjadi metode baru dalam penguatan kultur keislaman klasik Indonesia yang dibalut dengan kondisi yang relevan pada masa kontemporer.

Jika dilihat dari sisi khazanah keilmuan ini sangat menarik. Pesantren yang merupakan institusi pendidikan keislaman dengan tradisi keilmuan klasik dengan berbagai pengenalan terhadap keilmuan seperti bahasa, sejarah, kalam, tafsir, tasawuf, fiqih, dan bahkan logika dan ditambah upaya perguruan tinggi untuk mendialogkan khazanah tersebut dengan isu-isu aktual dengan berkenalan teori keilmuan modern.

Sikap modernisasi islam yang dilandasi pendidikan akan lebih mengakar dan mutlak diperlukan. Namun, yang tidak kalah penting dalam sikap moderinisasi Islam diatas ialah tindakan kerjasama untuk kemaslahatan umat. Toleransi yang dibangun oleh umat juga harus mampu membangun keadilan sosial. Sebab, masa depan bangsa ini ditentukan sejauh mana proses gerakan masyarakat moderat untuk mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Ayoo Mondok!

Artikel Terkait