“Ampuunn, ampuunn…” bocah perempuan itu berteriak sambil lari melewati depan rumah saya, mengenakan seragam lengkap tapi tanpa sepatu atau alas kaki lainnya. Di belakangnya, ibunya mengejar sembari menggenggam sapu lidi. Sama, berteriak-teriak juga.

Jika Anda pikir salah satu dari mereka kesurupan, tidak. Tidak ada dari keduanya yang kesurupan makhluk gaib. Pun, mereka tidak sedang bercanda atau katakanlah praktik drama sandiwara. Keduanya, ibu dan anak itu, sudah beberapa kali melakukan hal yang sama: berteriak-teriak di depan umum.

Tepatnya, si ibu sering memarahi anaknya di depan banyak orang. Seperti pada pagi itu, yang lebih heboh dari biasanya karena pakai acara kejar-kejaran segala. Saya yang baru saja menyeberang sekembalinya dari belanja rutin sebelum memasak, ikut tergagap menyaksikan peristiwa itu.

Pagi itu, si anak perempuan meminta dirinya untuk berangkat sekolah lebih awal. Padahal, jam sekolahnya adalah pukul 11 siang. Entah, mungkin si Ibu yang pekerjaan sehari-harinya bakul buah kemasan keliling merasa permintaan anaknya pagi itu menyulitkan dirinya. Sehingga, hendak dihajarlah si anak ini hingga keluar rumah bahkan lintas RT.

“Anak ini gak tau diri! Jam sekolah masih jam sebelas kok minta berangkat pagi-pagi.” Ibunya menghardik tatkala mereka sudah berhenti berkejaran karena si anak perempuan bersembunyi di balik seorang Ibu yang sedang lewat. Hardikan itu rasanya lebih kepada sebuah pembelaan serta penjelasan meski tak ada seorang pun yang meminta.

Setelah beberapa orang mencoba menenangkan, singkatnya mereka kembali ke rumah. Saya masih terngiang cerita ini walau kini mereka sudah tidak tinggal di daerah dekat rumah saya lagi.

Saya tetiba ingat mereka saat belum lama ada yang bilang pada saya bahwa “modal utama” menjadi orang tua adalah kesiapan finansial.  Memang banyak sekali yang harus disiapkan untuk membesarkan seorang manusia. Itu baru seorang, ya. Coba gandakan jika hendak punya anak lebih dari satu.

Kebutuhan harian tentulah sudah pasti dihitung. Namun ada anggaran lain yang tak kalah penting dan besar: pendidikan dan kesehatan. Dua perkara ini tidak bisa diabaikan. Seorang anak membutuhkan pendidikan dan dana untuk kesehatan selama ia belum bisa mandiri.

Semua itu tentu menjadi tanggung jawab orang tua yang harus dipenuhi, siap atau tidak. Pada kasus Ibu Penjual Buah di atas, kesiapan finansial mungkin adalah yang utama. Mungkin.

Masak, sih?

Apabila Ibu Penjual Buah dan suaminya hidup berkecukupan, pagi itu si anak perempuan bisa diantar oleh layanan ojek online langganan mereka sehingga adegan kejar-kejaran tidak akan pernah ada. Tentu Ibu Penjual Buah sudah tidak lagi berjualan sayur dan buah kemasan, melainkan karyawan sebuah perusahaan, misalnya.

Persoalan kebutuhan secara materi mungkin sudah terlunasi, namun apakah itu menjawab hal lain seperti stabilitas emosi Ibu Penjual Buah terhadap anaknya? Katakanlah, urusan yang berubah lebih baik adalah kondisi finansial. Mereka hidup lebih sejahtera dab berkecukupan.

Tetapi, tanpa mengubah karakter seluruh keluarga, apakah kesiapan finansial kemudian dapat menjamin Ibu Penjual Buah (dan suaminya) menjadi lebih siap sebagai orang tua? Sekarang, terlihat betapa pentingnya manajemen diri sebagai ikhwal penting untuk menjadi orang tua.

Kemudian, jika Ibu Penjual Buah telah mampu mengontrol amuk amarah dalam dirinya, apakah urusan serta-merta selesai? Tidak semudah itu Ferguso.

Situasi yang juga pelik adalah ketika memiliki pasangan yang ternyata belum selesai dengan urusan dirinya sendiri. Bila salah satu dari (calon) orang tua belum dapat mengendalikan dirinya sendiri, Anda akan kerepotan.

Alih-alih mengasuh satu anak, Anda jadi harus mengasuh dua manusia: anak dan pasangan Anda. Anda jadi orang tua bagi pasangan Anda yang seharusnya sudah bisa mengasuh dirinya tanpa bantuan orang lain.

Jika hanya Anda sendiri yang selesai berurusan dengan diri sendiri dan inner child Anda di masa lalu, maka Anda akan kerepotan bahkan merasa “pincang” sebab harus menambal persoalan di sana-sini sendirian. Dalam sebuah institusi yang seharusnya Anda bekerja sama, Anda malah jadi wirausahawan, kerja sendirian.

Ambil contoh ketika anak Anda tantrum. Fase tantrum adalah satu fase yang membutuhkan kesabaran luar biasa serta kesiapan emosional orang tua. Namun jika hanya Anda sendiri yang siap menghadapi fase ini, akhirnya Anda lebih sibuk mengurusi bagaimana caranya agar pasangan Anda tidak ikut “meledak” dalam energi tantrumnya sendiri.

Bayangkan Anda berada di tengah situasi di mana anak balita Anda berteriak dan mengaum meminta perhatian, sementara pasangan Anda juga siap meledak dan menghancurkan pertahanan Anda selama berupaya sabar.

Apalagi, amit-amit, jika pasangan Anda tantrumnya cenderung abusive. Anda jadi sibuk menangani tantrum anak dan pasangan—yang ikutan tantrum—karena tak mampu mengurusi dirinya ketika anak Anda tantrum.

Akan melelahkan sekali berada dalam hubungan yang seperti ini.

Melihat fakta ini, hemat saya, agar menjadi orang tua yang siap menjalankan perannya dengan dewasa, dibutuhkan kecerdasan emosional ketimbang kecerdasan intelektual. Saya tidak bilang kecerdasan intelektual dalam urusan pengasuhan anak itu nonsense, namun kestabilan secara emosional rasanya jauh lebih krusial.

Jadi, boleh ya kalau saya bilang perkara utama sebagai modal menjadi orang tua adalah kondisi emosional diri sendiri yang “bersih”, selesai dengan masa lalu, dan sanggup berkompromi. Nomor dua tentu saja memiliki pasangan dengan kriteria serupa agar upaya-upaya membangun keluarga yang sehat secara mental dapat terwujud.

Urutan selanjutnya bisa kita isi dengan kesiapan finansial dan sebagainya. Jika sudah sama-sama selesai dengan diri sendiri, maka agenda pengasuhan anak niscaya dapat dijalankan dengan lebih dewasa.