Selama masa pandemi Covid-19, kita pernah dihebohkan oleh adanya kabar bahwa ratusan siswa SMA di salah satu daerah di Jawa Tengah mengajukan dispensasi nikah akibat kehamilan tak diinginkan yang terjadi selama proses belajar dari rumah. Diduga kurangnya pengawasan orang tua menjadi penyebabnya.

Sontak kabar tersebut membuat prihatin para pemerhati pendidikan yang menyayangkan kurangnya perhatian dan kontrol dari orang tua di mana seharusnya perhatian dan kontrol orang tua lebih efektif selama masa belajar dari rumah. Faktanya berita tersebut sebenarnya hasil plintiran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selama pandemi ini pula, sistem belajar dilakukan dari rumah secara daring. Sistem belajar tersebut menimbulkan persoalan bagi siswa atau pelajar yang berasal dari keluarga kelas sosial menengah ke bawah. Siswa atau pelajar dari keluarga tersebut mengalami kendala dan kesulitan dalam melakukan belajar daring seperti tidak memiliki android.

Kendala lain seperti terbatasnya dana untuk membeli kuota internet untuk keperluan belajar daring. Meskipun kini ada bantuan kuota gratis dari pemerintah, tetapi belum tentu pemberian bantuan kuota tersebut dapat merata karena kurangnya ketersediaan informasi mengenai siswa yang seharusnya mendapatkan kuota internet gratis.

Hal ini juga sebagai penekanan bahwa seharusnya kuota gratis hanya diperuntukkan bagi siswa di mana keluarganya mengalami himpitan ekonomi selama pandemi ini. Bantuan kuota gratis itu pun menyasar mahasiswa terutama yang mahasiswa perantau demi melancarkan proses perkuliahan.

Ada kasus mengenai seorang bapak yang nekat mencuri gabah yang didorong oleh keterpaksaan karena tidak memiliki penghasilan selama wabah Corona. Begitu pun ada kasus seorang bapak yang bekerja serabutan yang nekat mencuri telepon genggam android demi kebutuhan belajar daring anaknya.

Kedua bapak tersebut awalnya diproses hukum, tetapi karena mempertimbangkan aspek kemanusiaan selama masa pandemi global, kedua bapak tersebut dilepaskan dan permasalahannya diselesaikan secara kekeluargaan. Kedua bapak tersebut bahkan mendapat bantuan sembako dan telepon genggam android dari pihak terkait.

Pemberian bantuan tersebut sebagai bentuk empati terhadap himpitan sosial dan ekonomi selama masa pandemi Covid-19. Namun, tetap saja tindakan kedua bapak tersebut tidak dibenarkan oleh norma hukum yang berlaku dalam masyarakat.

Keluarga sebagai Institusi Pembentuk Masyarakat

Masyarakat yang merasakan dampak Covid-19 baik dalam ranah global maupun lokal adalah masyarakat yang terbentuk dari tatanan keluarga. Keluarga merupakan sebuah institusi sosial dan tentu masalah-masalah yang ditimbulkan karena wabah pandemi berpangkal pada lingkup keluarga.

Pada umumnya di Indonesia, pemahaman mengenai keluarga adalah institusi masyarakat yang terdiri dari ayah (suami), ibu (istri), dan anak kandung. Secara sosiologis, itu dikenal sebagai keluarga inti atau keluarga batih atau nuclear family. Keluarga inti terbentuk melalui proses pernikahan.

Makna lain secara khusus terhadap keluarga adalan institusi yang terdiri dari ayah (suami), ibu (istri), anak kandung, nenek, kakek, paman, bibi, keponakan, sepupu, cucu, ipar, dan tingkatan keturunan keluarga ditambah dengan kerabat dekat dan kerabat jauh. Secara sosiologis, itu lebih dikenal sebagai keluarga besar.

Institusi keluarga yang secara umum adalah keluarga inti memiliki fungsi dalam tatanan masyarakat. Fungsi tersebut meliputi fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi protektif, fungsi sosialisasi, dan fungsi afeksi.

Fungsi reproduksi yakni fungsi dalam pengaturan jumlah anak kandung; fungsi ekonomi yakni fungsi pemenuhan kebutuhan nafkah. Kedua fungsi tersebut umumnya sebagai kebutuhan biologis dan kebutuhan primer.

Fungsi sosialisasi yakni fungsi memberikan pengajaran nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat; fungsi protektif yakni fungsi memberikan perlindungan bagi anggota keluarga; fungsi afeksi yakni fungsi pemberian cinta kasih dan rasa tenteram terhadap anggota keluarga. Ketiga fungsi tersebut umumnya sebagai kebutuhan sosial dan psikologis.

Insitusi keluarga yang mampu menjalankan fungsi-fungsi tersebut, maka masyarakat akan dengan sendirinya memiliki ketahanan atau keajegan hidup yang solid selama masa pandemi global. Masa pandemi tersebut khususnya ketika diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masa transisi menuju new normal ataupun kembali lagi ke PSBB.

Sebagai contoh pemenuhan kebutuhan reproduksi atau biologis untuk mengontrol keinginan menambah keturunan selama masa pandemi. Fungsi ekonomi sebagai jalan untuk menjaga ketahanan pangan keluarga dan kebutuhan pokok lain selama masa pandemi.

Dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan psikologis, fungsi sosialisasi untuk memberikan edukasi protokol kesehatan. Fungsi afeksi untuk memberikan perhatian dan semangat kepada anggota keluarga selama masa pandemi. Fungsi protektif untuk melindungi anggota keluarga dari penularan virus Corona.

Modal Sosial pada Institusi Keluarga

Dalam memperkuat fungsi tersebut, hendaknya mengutamakan persatuan antar anggota keluarga inti dan juga anggota keluarga besar yang dapat membentuk modal sosial. Dari hal itu dapat membentuk tindakan yang saling menopang dan mendukung dalam membentuk ketahanan hidup di masa pandemi global.

Contoh dalam hal yang paling krusial seperti masalah ekonomi. Dalam mengatasi himpitan ekonomi selama pandemi, membutuhkan informasi dan kerjasama dengan anggota keluarga lain dalam menjalankan pekerjaan baru atau memperbaiki usaha ekonomi.

Pembentukan modal sosial pada institusi keluarga harus dilandasi oleh nilai-nilai dan norma yang disepakati bersama antar anggota keluarga inti dan juga pada anggota-anggota keluarga besar. Nilai-nilai dan norma tersebut dapat berasal dari ajaran agama yang dianut atau nilai-nilai budaya yang ada dalam lingkup komunitas tempat tinggal.

Nilai-nilai dan norma tersebut selanjutnya dapat membentuk trust atau sikap saling percaya antar anggota keluarga dalam menjalankan fungsi institusi keluarga. Nilai-nilai trust tersebut dapat memperkuat ikatan pada institusi keluarga khususnya pada keluarga inti.

Sebagai contoh sebuah keluarga memiliki nilai dan norma bahwa tidak boleh menikah di usia anak-anak. Dari hal itu maka dengan sepenuh hati peran ayah dan ibu akan mengarahkan anaknya agar memilih lingkungan pergaulan yang baik agar tidak terjerumus ke dalam perilaku sosial yang menyimpang.

Dalam menjalankan peran tersebut tentu tidak selalu dominan pada peran ayah dan ibu, tetapi juga bisa mengandalkan trust dan kerjasama dengan anggota keluarga besar, kerabat, atau tetangga. Trust dan kerjasama dalam mengawasi perilaku dan tindakan anak-anak terutama yang belum menginjak usia dewasa yang rentan dengan pergaulan yang menyimpang.

Unsur-unsur penting dalam modal sosial seperti nilai dan norma, trust, dan kerjasama atau jejaring sosial menjadi penting dalam memperkuat peran keluarga. Dari hal itu mampu membentuk ketahanan hidup masyarakat baik secara struktural maupun kultural pada berbagai situasi, tidak hanya pada masa pandemi Covid-19.

Maka dari itu, peran keluarga melalui modal sosial dalam kehidupan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dan berkontribusi pada penguatan fungsi institusi sosial yang lain. Hal itu karena antar satu institusi sosial dengan institusi sosial yang lain sifatnya saling terkait.