49868_53392.jpg
Ayumi Hamasaki
Hiburan · 3 menit baca

Modal Erotis Payudara Perempuan
— enak dipandang, nikmat digerayang

Kenapa para lelaki selalu menyukai bagian payudara perempuan? Tak peduli ukurannya besar atau kecil, seperti bola basket atau bola bekel, mereka pasti suka.

Tak dimungkiri, ada juga lelaki yang lebih menyukai bagian tubuh perempuan lainnya, misalnya paha, pantat, dan juga bibir. Tapi entah kenapa payudara tetap menjadi bagian tubuh perempuan yang bisa menyuluh imajinasi lelaki.

Saking menjadi ikon kecintaan dan obsesi para lelaki, tak sedikit media, merek, brand, bahkan juga propaganda menggunakan payudara perempuan, seperti iklan ‘Kopi Susu YA!’ dan ‘Segar Sari Susu Soda’.

Hal yang membuat saya merasa penasaran ialah faktor yang membuat lelaki menyukainya. Terkait hal ini, L. Monique Ward, Ann Merriwether, dan Allison Caruthers menyingkap istilah yang disebut Masculinity Ideology (Ideologi Kejantanan, selanjutnya MI). MI berperan pada kepercayaan dan cara pandang lelaki mengenai badan perempuan, yang juga berkaitan dengan banyaknya media yang dikonsumsi oleh lelaki.

Sayangnya, meski paparan tersebut memberi pengetahuan, belum bisa memberi kepuasan. Apalagi memberi kepuasaan yang sama seperti saat menikmati payudara perempuan, jelas ini!

Terdapat sebagian orang yang mengungkapkan bahwa lelaki menyukai payudara perempuan karena sejak lahir lelaki memiliki hubungan intim dengan payudara ibu. Ada rasa kasih sayang yang diberi pada buah hati tatkala ibu menyusui.

Cuma, ungkapan tersebut agak gimana gitu. Soalnya ada pula lelaki yang tak banyak mengonsumsi air susu ibu (ASI) saat bayi, namun tetap tertarik menikmati payudara perempuan.

Terdapat pula pandangan yang menyebut bahwa dari tahun ke tahun manusia memang mengembangkan payudara perempuan untuk keperluan seks (sex). Hanya saja pandangan ini di-counter dengan pandangan yang mengungkapkan bahwa hal ini kurang tepat lantaran untuk keperluan seks, zakar lelaki juga dibutuhkan.

Brian Alexander, yang mendalami dasar neurologis dari perilaku sosial, menyingkap soal payudara ini dengan menyebut bahwa evolusi manusia telah mengubah sirkuit saraf kuno.

Pada awalnya, fungsi utama payudara adalah untuk menguatkan ikatan kasih sayang antara bayi dan ibu, dengan cara menyusui. Tapi sekarang, sirkuit otak ini telah berubah penggunaannya. Selain untuk menguatkan ikatan ibu dan bayi, juga digunakan untuk meningkatkan ikatan antarpasangan. Hasilnya, kebanyakan lelaki menyukai payudara perempuan.

Penuturan Brian lebih make sense buat saya dibandingkan pandangan lainnya «هذا القول أرجح عندي». Pasalnya, kalau ditelisik lebih lanjut, otak para ibu akan dibanjiri dengan neurochemical oxytocin yang juga dikenal dengan love drug.

Neurochemical oxytocin ini membantu ibu untuk fokus pada anak dan memberi rasa kasih sayang melalui ASI. Hormon tersebut juga membanjiri otak perempuan ketika terangsang oleh pasangan saat berhubungan seks. Sirkuit pada otak yang tadinya digunakan untuk bayi, pada saatnya juga digunakan untuk orang dewasa.

Dari sini, dapat diungkapkan bahwa payudara perempuan merupakan sarana untuk mewujudkan kasih sayang, yang membuat orang lain merasa senang.

Kalau ada sebagian perempuan yang payudaranya begitu digilai lelaki, mungkin karena mereka berusaha menyenangkan orang lain melalui payudaranya. Usahanya antara lain dengan rajin merawat keindahannya agar bisa memberi kesenangan saat lelaki menyaksikannya, apalagi bisa merasakan sentuhannya.

Sah-sah saja kalau sebagian perempuan rajin merawat ‘bagian favorit’ atau ‘aset’ atau apalah sebutannya, pokoknya di situlah letaknya. Payudara perempuan termasuk salah satu bagian yang memiliki daya pikat kuat dalam merangsang gairah seks lelaki.

Seks terbilang nafsu yang paling sosial. Tanpa memperhitungkan moral, secara naluriah kita bisa turut bergembira menyaksikan orang lain yang sedang memenuhi nafsu seksnya. Kita punya hasrat kesenangan walaupun sekadar untuk menontonnya. Itulah kenapa ada pornografi, yang melahirkan industri seperti blue film (BF) dan majalah dewasa dengan omzet besar.

Seks berbeda dengan nafsu lain, misalnya nafsu makan. Adakah orang, terutama lelaki, yang sanggup suntuk berjam-jam menyaksikan tayangan dengan sajian berupa adegan-adegan orang sedang makan bakwan biarpun orang itu adalah Via Vallen? Adakah media pendulang iklan yang menjebak pengunjung dengan gambar Grace Natalie sedang mangap ngemplok cilok?

Saking sosialnya nafsu yang satu itu, ia jadi begitu canggih buat menyedot perhatian. Ia jadi empuk sebagai bahan berita dengan judul-judul menggemaskan. Ia juga legit buat stok pengalihan isu, yang bisa dengan gampang ditembakkan sewaktu-waktu. Sebab, kabar terkait seks tidak cuma memberikan informasi, walakin memberdayakan imajinasi.

Referensi

  • Brian Alexander. (2012). The chemistry between us: love, sex, and the science of attraction, hlm. 72-74 dan 108-109. New York City: Penguin. [lihat]
  • Catherine Hakim. (2017). Erotic capital. Dalam European sociological review, 26(5), hlm. 499-518. [lihat]
  • Helen E. Fisher, Arthur Aron, dan Lucy L. Brown. (2006). Romantic love: a mammalian brain system for mate choice. Dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 361(1476), hlm. 2173-2186. [lihat]
  • L. Monique Ward, Ann Merriwether, dan Allison Caruthers. (2006). Breasts are for men: Media, masculinity ideologies, and men’s beliefs about women’s bodies. Dalam Sex Roles, 55(9-10), hlm. 703-714. [lihat]