Dengan mengantongi gelar sarjana, Hida mencatatkan sejarah di keluarga besarnya. Pasalnya, belum ada satu pun orang dari keluarganya yang bisa menempuh pendidikan sampai sarjana.

Umumnya keluarga Hida hanya sekolah sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) dan bekerja sebagai petani atau buruh di kota. Sebenarnya, Hida tidak sendiri ada dua saudara sepupunya yang juga berkuliah di kampus yang sama, tapi belum diwisuda.

Hida tidak bisa menafikan keberhasilannya menjadi seorang sarjana adalah hasil kucuran keringat dari bapaknya. Setiap berziarah ke makam bapaknya, Hida seperti memasuki lorong waktu, kembali ke masa lalu mengenang hari-hari bersama bapaknya. Ada banyak peristiwa dan penuturan yang sangat diingat oleh Hida, tapi satu hal yang paling dia ingat ketika itu. Bapaknya sering mengatakan,"Bapak mah cuma modal dengkul kerja juga," itu bukan ucapan alegoris, tapi memang begitu adanya.

Sampai detik ini Hida tidak pernah melihat ijazah tanda bapaknya pernah lulus SMA, jangankan itu, ijazah Sekolah Menengah Pertama pun tidak pernah dilihatnya barang sekali. Meski tanpa ijazah, di tahun 80-an akhir bapaknya memberanikan diri mengadu nasib di Jakarta. Kisah ini sering dituturkan oleh bapak Hida atau sesekali kakak perempuannya juga ikut menambahkan.

Tidak jelas pekerjaan apa yang sempat dilakukan bapaknya, yang Hida tahu semasa muda bapaknya pernah mampir di beberapa tempat seperti Surabaya, Kalimantan, dan Brunei untuk bekerja. Katanya tidak untuk bekerja lama, hanya mengerjakan beberapa proyek kecil dalam waktu yang singkat.

Pekerjaan yang terang dituturkan oleh bapaknya Hida adalah teknisi mesin pembuat kaus kaki. Dari sana cerita "modal dengkul" mulai terang. Seorang pemuda desa yang tak sekolah tinggi, tak kursus mesin, apalagi masuk sekolah kejuruan, bisa menjadi seorang dokter bagi mesin-mesin penuh gerigi dan rantai. Entah dari mana keahlian itu didapatkan bapaknya Hida. Hida menduga semuanya otodidak dan modal nekat.

Jakarta bukan hanya perihal pekerjaan, bagi bapak Hida Jakarta adalah kota bersejarah karena ia menemukan jodohnya yang tidak pernah ia duga. Di akhir 1994 bapak Hida resmi menikahi gadis asal Kuningan yang kelak menjadi mamahnya Hida. Bersama istrinya perjuangan hidup dijalani bersama.

Kehidupan di Ibu Kota tidak selalu mulus, krisis moneter yang menghantam Indonesia juga membuat Sang Bapak terkena imbas pemutusan hubungan kerja (PHK). Waktu itu usia Hida belum genap tiga tahun dan sedang lucu-lucunya. Tidak kehabisan akal, bapak Hida mencoba berjualan keset kaki yang terbuat dari limbah kaus kaki. Ia berkeliling menggunakan sepeda dari rumah ke rumah, dari tempat ramai satu ke tempat lainnya. Penuturan lainnya, bapaknya pernah menggenjot dari Cengkareng, Jakarta sampai rumahnya di Bogor. Kondisi itu seolah menegaskan situasi negara yang sedang krisis berimbas kepada keluarga kecilnya bapak Hida.

Tidak lama berjualan keset kaki, bapak Hida kembali bekerja sebagai teknisi mesin dan bertahan di Jakarta sampai Hida naik kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Di masa-masa ini sangat lekat diingatan Hida saat setiap sore bapanya mengajak bersepeda ke taman kota sampai magrib tiba. Hida naik di depan dengan jok hasil modifikasi bapaknya.

Saat naik kelas dua, bapaknya pindah kerja ke daerah Tangerang, ia pun harus mencari kontrakan baru yang lebih dekat dengan tempat kerjanya, namun nampaknya lebih dekat dengan rumah neneknya Hida. Hida tidak lagi sendiri, waktu itu Hida sudah mempunyai adik laki-laki. 

Letak yang lumayan jauh dari tempat kerja membuat bapak Hida hanya pulang seminggu sekali. Hida menjadi jarang bertemu bapaknya, tapi apa mau dikata semuanya harus dilakukan agar roda kehidupan bisa terus berputar.

Hanya dua tahun bertahan di daerah Tangerang, Hida terpaksa harus berpisah dengan teman-teman rumahnya yang sudah terlanjur akrab. Bapaknya mengajak Mamah, Hida, dan Al pindah ke Bogor ke rumah neneknya. 

Nampaknya bapak sudah punya rencana membangun rumah di sana. Terhitung sejak kelas 4 SD sampai Hari ini Hida tinggal di sana. Dengan modal dengkul saja bapak Hida bisa membiayai Si Anak Sulung dan adiknya sekolah, lebih lagi bisa membuat rumah yang memang tidak megah.

Di kampung halaman, Hida tumbuh menjadi anak desa yang gemar main layangan, main bola, menangkap ikan, dan main kelereng. Kehidupan di desa mendidik Hida menjadi anak yang aktif dan bersahabat dengan alam. 

Memasuki SMP merebak kabar bahwa bapaknya akan pergi keluarga negeri untuk bekerja. Kian hari kabar itu semakin jelas terlihat saat bapaknya sibuk mengurus berkas seperti paspor dan visa. "Bapak mau kerja ke Meksiko," bapaknya menjelaskan tujuannya mengurus berkas.

Kali ini bapak tidak mungkin membawa serta keluarganya untuk ikut ke Meksiko karena perusahaan tidak mengizinkannya. Lagi-lagi istilah modal dengkul benar-benar dibuktikan oleh bapak. Hida tak habis pikir keahlian bapaknya dalam merancang dan membetulkan mesin kaus kaki membawanya sampai ke negeri Suku Aztec.

Air mata keluarga tumpah saat melepas keberangkatannya di Bandara Soekarno Hatta, tapi Hida menahan air mata agar terlihat tegar padahal kenyataannya hati Hida sangat sedih berbulan-bulan ke depan tidak bisa bertemu dengan bapaknya. Hida berupaya tegar, maklum ia sudah punyak dua adik satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Ia ingin menunjukkan sebagai anak sulung dia kuat.

Setelah 10 bukan bekerja di Meksiko bapaknya kembali ke tanah air membawa satu koper oleh-oleh untuk ketiga anaknya. Sampai sekarang Hida masih menyimpan baju hadiah dari bapaknya. Kenang-kenangan dari perjalanan seorang bapak yang bisa keluar negeri karena keahliannya bukan karena ijazah atau uangnya.

Sampai detik ini Hida tidak habis pikir, sebesar apa jiwa pejuang yang tertanam di dalam hati bapaknya. Hidupnya selalu optimis dengan tidak bergantung pada ijazah atau gelar jabatan lainnya. Dengan modal dengkul bapak bisa melawati banyak episode hidup dengan sabar hingga akhirnya kini ada di pusara berhadap-hadapan dengan Hida yang tak sanggup menahan laju air mata.