Mitra Tutur
2 minggu lalu · 285 view · 5 min baca · Cerpen 55192_42810.jpg

Mitra Hidup

Cepatlah! Bukankah kau sudah berjanji untuk menyediakan kopi hangat racikan tanganmu sendiri?” Gumam laki-laki paruh baya itu meminta istrinya membuatkan kopi khas yang biasa menemaninya menyambut pagi.

Sembari menunggu, tengoklah cendetmu itu. Sedari subuh, dia tak pernah berhenti menggerutu. Aku rasa dia lapar, Pak.” Istrinya yang sibuk meracik kopi, tak lupa pula mengingatkan suaminya memberi makan burung yang sudah ia pelihara berates-ratus hari silam.

Suara cendet itu memang sering meresahkan. Pagi ini saja, aku harus merelakan setengah perjalanan mimpi basahku karenanya. Sial, bukan! Ya sudahlah. Aku bergegas mandi, mengambil jatah sarapan, lalu menikmati secangkir kopi yang sudah tersaji di beranda rumah bersama kedua orang paruh baya tersebut yang ternyata adalah orang tuaku.

Pagi itu, banyak hal yang ingin kuceritakan kepada mereka perihal hidup yang masih butuh banyak revisian. Namun, aku sadar, menceritakan keresahan yang sifatnya privasi hanya akan menghancurkan momen pagi yang terbalut hangatnya kebersamaan.

Terlalu kejam jika aku harus merusak kemesraan kami dengan curhatan-curhatan konyol yang jika diserut oleh hati, pahitnya melebihi kopi.

Aku sangat menikmati suasa pagi itu. Terlebih, saat kedua paruh baya tersebut bernostalgia dengan kenangan-kenangan manis tempo dulunya. Aku jadi terbawa suasana. Banyak moment pahit, katanya. Pun begitu dengan yang manis, lebih banyak lagi.

Tak jarang, bapak juga suka menyinggung gaya kaum muda sekarang perihal pacaran yang menurutnya jauh berbeda dengan apa yang dulu dialaminya. Terlalu hambar dan kekanakan, sambungnya.

Tahun pertama pacaran, kalau sedang rindu-rindunya, bapak sama ibu dulu harus nunggu tiga hari dulu balasan surat masing-masing. Maklumlah, masih pakek surat-suratan. Gak seperti sekarang, serba instan, tapi gak ada kesan.” Celotehnya sambil menyeruput kopi. 

Sudah dikasih serba mudah buat komunikasi, malah kebanyakan putus-nyambungnya,” lanjutnya.

Apa yang dikatakan bapak benar adanya. Aku saja yang pernah delapan bulan menjalin hubungan harus merasakan lima kali putus. Mereka sudah empat puluh enam tahun menikah, namun tak pernah sekalipun aku dengar ada percekcokan. 

Dari cerita yang tersiar, mereka hanya menjalin tiga bulan masa pacaran, lalu memantapkan niat ke pelaminan.

Tak ada alat komunikasi canggih yang  mampu mendukung hubungan mereka. Adalah sebuah bolpoin kuno, secarcik kertas, dan tukang pos yang siap menjadi media manual untuk saling mengirimi isi hati.

Contohlah kami yang tak banyak mengeluh dalam bercinta. Bapak mencintai ibumu secara sederhana; tanpa embel-embel identitas. Kami saling menerima dan mengagumi kelemahan dan kekurangan masing-masing, karena hanya itu yang kami punya.” Perkataan bapak seolah menjadi sebuah tamparan keras yang mendarat di hati.

Aku tahu bahwa dari dulu dia memang penggemar Khalil Gibran, tapi baru kali ini kudengar kata-kata sebijak itu keluar langsung dari mulutnya yang sedikit basah bekas serutan kopi. Jangankan aku, Gibran pun akan tersentak kaget jika mendengar kata-kata yang baru saja bapakku lontarkan.

Selepas magrib, aku langsung menyibukkan diri dengan smart phone kesayangan. Sembari mengusap layar, kubiarkan saja jempolku membuka galeri foto yang tak lain isinya ialah sang pujaan. Sayangnya, sudah setahun lebih aku dan dia berstatus mantan. Aku tak tahu, apa yang membuat kami putus begitu saja. padahal, setahuku, diapun masih enggan membuang rasa.

Dasar ego. Pantas saja tadi pagi aku cukup tersinggung dengan apa yang dikatakan bapak. Rupanya, inilah salah satu penyebabnya. Aku tak begitu yakin jika pacaran gaya lama – seperti surat-suratan – selalu menjamin keharmonisan, bukan pula kecanggihan IPTEK yang sering menjerumuskan. 

Selebihnya, ini perihal ego masing-masing. Begitu kusimpulkan.

Tepat pukul 10.15 malam – angka keramat yang mengingatkanku bahwa dua tahun yang lalu dia menerima cintaku tepat pada pukul itu – aku memberanikan diri mengiriminya pesan duluan. Aku yakin dia juga sedari dulu menunggu. Hanya saja rasa malu mendominasi parasnya yang cantik nan ayu, pikirku.

Persetan dengan rasa salah, kecewa, benci dan gelisah yang entah siapa diantara kami yang memualainya terlebih dahulu. Ego harus kubuang jauh, rindulah yang seharusnya tumbuh.

Hai. Bagaimana kabarmu? Semoga kamu tetap cantik seperti saat kumenjumpaimu delapan bulan yang lalu. Aku tidak tahu, apakah mengirimimu pesan tanpa permisi seperti ini akan membuatmu tersenyum malu atau mungkin sebaliknya. 

Yang jelas, ini bukan kehendakku, aku hanya menuruti kata hati yang seolah meronta dan ingin terbebas dari elegi ini. 

Kamu tahu? Tadi pagi aku sempat mengobrol panjang bersama dua orang paruh baya perihal menjalin cinta dari dua dimensi berbeda. Ada keresahan yang aku dapati, lantaran mereka yang seolah menyinggung cara kita yang tak cukup dewasa dalam menyatukan hati. 

Mereka adalah kedua orangtuaku yang aku harap akan menjadi orangtuamu juga, nantinya. 

Kendati demikian, aku juga belajar banyak dari mereka. Bayangkan saja, selama 46 tahun, mereka tak sekalipun mendapati kata putus. Sementara, hubungan kita yang baru seumuran jagung saja harus kandas tanpa alasan. Egois, bukan? Kita menzalimi hati masing-masing, hingga sama-sama merasa terasing. 

Bersamaan dengan terkirimnya pesan ini, aku ingin kita, kau dan aku, kembali menyatu. Seperti halnya kopi dan gula yang jika diracik dengan cinta, akan menimbulkan aroma dan rasa yang membekas lama, dan tentunya akan terasa lebih istimewa jika dihidangkan secangkir berdua. 

Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?

Aku ingin kita membuang jauh ego masing-masing; mengenal kembali rasa yang dulunya kita anggap asing. Membuktikannya kepada kedua paruh baya tersebut bahwa kita akan membawa hubungan ini pada level usia perkawinan mereka saat ini, bahkan lebih dari pada itu. Nantinya, kita akan tinggal seatap bersama mereka. 

Aku sudah putuskan untuk tetap mencintaimu. Membiarkan rasa ini beranjak tumbuh, merekah, menahun dan menua. Aku tak tahu dengan keputusanmu, apakah kau juga begitu? Yang jelas, membunuh kenangan yang sempat kita lukis bersama, bagiku, tak akan cukup menghapus namamu yang sudah mengakar keras di hati. 

Menetaplah! Jangan sebatas menemani. Jadikan aku sebuah tujuan, bukan tempat persinggahan. Aku ingin kita seperti kedua paruh baya tersebut, selalu bersama dalam sakit dan sehat. Melukis cerita panjang dalam hidup yang singkat. Raga kita boleh melemah, tetapi rasa harus terus menguat. 

Beranak pinak; berkumpul menemani buah hati ketika sama-sama letih karena aktifitas kerja. Dan tentunya akan kita realisasikan mimpi sederhana yang pernah kita bangun dua tahun yang lalu. Dimana, aku ingin sempat menyaksikan uban pertama di rambutmu kelak, lalu kita pun siap menyambut senja manis. 

Sebagai penutup, aku ingin mengutarakan apa yang selama dua tahun ini terpendam. Adalah aku akan mencintaimu, lebih banyak dari detak, lebih besar dari sabar, lebih lama dari selamanya.

Dengan sedikit gugup, sembari merem membaca bismillah, kutekan tombol kirim dan menunggu balasan. Lima menit kemudian, balasan datang. Semakin gugup, pesan pun kubuka perlahan.

Maaf, pulsa anda habis.” Brengsek! Balasan dari operator itu membuatku menggerutu. Sudahlah. Tak apa jika malam ini dia tak jadi membaca pesan yang lebih dulu berubah spam. Di lain waktu, dia akan membaca tulisan ini. Aku yakin itu.

Aku tunggu balasanmu!

Artikel Terkait