Kita melihat sendiri perkembangan dunia yang semakin maju. Teori tetang penciptaan dan hukum alam jadi semakin kompleks. Walau begitu, dari zaman Newton sampai zaman Einstein tidak pernah ada jawaban pasti soal asal-usul alam semesta. 

Hanya saja, para ilmuwan percaya bahwa kita sudah semakin dekat pada satu teori yang dapat menjawab semua pertanyaan tersebut.

Memahami soal alam semesta membuat kita paham bahwa segala sesuatu tidaklah asal-asalan, melainkan segala sesuatu bersikap dengan mengikuti satu hukum yang kemudian disebut hukum alam (law of nature). 

Pemahaman ini akhirnya membedakan manusia menjadi dua kelompok: kuno dan modern, manusia kuno memercayai mitos, memercayai bahwa gempa bumi, gunung meletus atau badai terjadi karena alam mengamuk, tapi manusia modern mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi ada penyebabnya, semua itu adalah bagian dari hukum alam. 

Sebenarnya 300 tahun sebelum masehi, hal ini sudah pernah dikemukan oleh Aristoteles bahwa bumi beserta semua hal kompleks yang ada di dalamnya dapat dijelaskan dengan satu prinsip yang sederhana.

Di dalam ilmu kimia, kimiawan mempelajari reaksi, yang besar atau kecil, yang lambat atau yang cempat. Semua reaksi itu hanya mengacu pada satu tujuan, kestabilan dan keseimbangan. Begitu pula segala sesuatu di dalam alam semesta, setiap kejadian adalah hasil dari keseimbangan.

Fisikawan klasik seperti Demokritus kemudian Archimedes hingga Newton telah berhasil mempelajari beberapa hukum yang ada di Alam. Saat itu tujuan mereka mempelajarinya adalah untuk membantu mempermudah pekerjaan manusia. Mereka tidak menganggap temuan mereka sebagai suatu hukum melainkan sebagai bagian dari observasi dan perhitungan.

Penemu pertama yang secara tidak langsung membuka jalan untuk teori penciptaan alam semesta adalah Demokritus. Beliau mengeluarkan postulat bahwa segala sesuatu tersusun atas partikel yang tidak dapat dibagi-bagi lagi yang kemudian disebut dengan atom. 

Demokritus juga percaya bahwa segala sesuatu itu ada karena hasil tumbukan antar atom. Postulat ini masih dipakai hingga saat ini bahkan untuk para kimiawan untuk menjelaskan bagaimana suatu reaksi bisa terjadi di dalam sebuah gelas beker. 

Tumbukan antar atom hanya bisa terjadi jika atom memiliki pergerakan. Saat dua atom bertumbukan dan saling berikatan, mereka tidak berhenti melakukan pergerakan, mereka bervibrasi dan atau berotasi dan atau melakukan pergerakan yang lain. Hal ini akan sulit terjadi jika mereka tetap harus memertahankan ikatan. 

Fenomen ini kemudian dijelaskan dengan hukum inersia bahwa atom yang lebih kecil-lah yang akan melakukan pergerak ke arah atom yang lebih besar. Hukum ini juga dijadikan penjelasan bagaimana planet-planet mengitari matahari dan bukan sebaliknya.

Kepercayaan soal atom ini tidak serta merta diterima begitu saja, bahkan Archimedes menolak konsep tersebut karena dia tidak bisa menerima bahwa manusia dibentuk dari satu komponen tak bernyawa. Tidak seperti bagaimana planet-planet berputar pada garis orbitnya dan tak meleset atau bergeser sedikit pun, persis seperti robot-robot yang bekerja dengan daya yang tinggi. Mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk tidak patuh.

Pertanyaan soal asal-usul penciptaan alam semesta beserta isinya menjadi misteri yang sampai saat ini belum terpecahkan. Menurut Stephen Hawking dalam bukunya The Grand Design, pertanyaan soal penciptaan ini bisa terjawab dengan pertanyaan kenapa bukan bagaimana. 

Dalam hal ini peneliti tidak berhenti hanya di sekadar observasi tapi mereka ingin tahu kenapa segala sesuatu bersikap seperti itu. Untuk menjelaskan sesuatu mereka membutuhkan data dan sebelum menetapkan sebuah hukum, mereka perlu tahu terlebih dahulu bagaimana sistem itu dihidupkan.

Jangankan memahami soal semesta, memahami zat kecil tak kasat mata seperti atom sangatlah rumit. J.J. Thomson adalah fisikawan yang mengungkap soal penyusun lain dari atom, elektron. Dia menembakkan arus listrik ke dalam sebuah tabung kosong yang mana listrik itu tidak diteruskan begitu saja, sebagian ditolak. 

Dia memunculkan spekulasi bahwa sesuatu yang tidak bisa dilihatnya itu adalah elektron. Penelitian ini akhirnya menjadi rampung dengan keberadaan dua penyusun lain dari atom, yaitu neutron dan proton. Sekarang pertanyaannya, bagaimana mereka bisa meyakini adanya sesuatu yang tidak bisa mereka lihat? 

Para ilmuwan tidak pernah tahu dengan pasti bahwa atom memang terdiri atas tiga komponen tersebut. Mereka menyimpulkan seperti itu karena dari eksperimen mereka melihat adanya sifat-sifat yang bertolak-belakang. Sifat-sifat inilah yang mereka baca dan kemudian mereka beri nama. 

Para ilmuwan juga tidak akan pernah bisa mengisolasi salah satu komponen atom karena energi yang sangat kuat yang mengikat ketiganya dalam satu tempat yang mampu meluluhlantahkan bumi jika sampai terpecah. 

Nyatanya, model atom ini masih bisa digunakan hingga sekarang karena model ini cocok untuk setiap eksperimen, tapi jika satu eksperimen yang lain tidak bisa memenuhi kriteria dari model ini, sudah seharusnya model tersebut diganti.

Eksperimen yang tidak sesuai dengan kriteria model pernah dilakukan sebelumnya. Menurut Newton, cahaya dibentuk oleh partikel-partikel foton. Hal ini masih sesuai dengan percobaan bahwa cahaya merambat melalui garis lurus dan hal ini juga masih bisa menjelaskan eksperimen tentang pembiasan cahaya pada dua fasa berbeda. 

Saat eksperimen soal interferensi cahaya mulai dilakukan, ilmuwan kebingungan untuk menjelaskan jika cahaya bersikap sebagai partikel. Dalam hal ini cahaya bersikap sebagai gelombang. Saat dua puncak gelombang yang sama bertemu maka akan terjadi interferensi sehingga menghasilkan gelombang yang lebih besar. 

Percobaan tentang ini juga dilakukan dengan lensa, cahaya yang dihasilkan akan menghasilkan pola terang dan gelap. Para ilmuwan tidak bisa menghapuskan model cahaya sebagai partikel sehingga mereka menggunakan dua model dan mengatakan bahwa cahaya bisa bersikap sebagai partikel dan bisa juga bersikap sebagai gelombang. Padahal partikel dan gelombang adalah dua hal yang kontradiktif karena keduanya memiliki sifat yang berbeda.

Hal ini tidak berhenti di sana, atom yang kita kenal berbentuk seperti bola mulai memunculkan sikap-sikap anehnya di eksperimen yang lain. Saat molekul ditembakan ke arah bidang yang telah diberi dua celah, ilmuwan berharap bahwa molekul itu akan masuk melalui celah dan jatuh pada tempat yang berhadapan dengan celah. 

Tapi molekul tidak merambat lurus sebagaimana seharusnya melainkan molekul mengisi setiap bagian dan mengisi lebih banyak bagian yang berada di antara dua celah. Di sini molekul tidak bersikap sebagai partikel, mereka bersikap sebagai gelombang karena eksperimen ini bisa dijelaskan dengan baik melalui interferensi.

Banyak teori yang akhirnya sulit untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada skala atomik. Teori klasik yang kita kenal hanya bisa menjelaskan segala sesuatu yang dekat dengan kehidupan kita sedangkan Fisika Quantum dapat menjelaskan tentang benda pada skala atomik yang sifat-sifatnya sama sekali berbeda dengan yang terjadi di kehidupan kita.

Hal ini tidak mudah dilakukan untuk mewujudkan teori pada skala atomik dengan data kuantitatif. Semua penelitian soal benda skala atomik seperti elektron, memiliki massa dan muatan yang tidak memiliki nilai pasti melainkan tak terbatas (infinity), hal ini diungkapkan oleh Richard Feyman. 

Tapi jika tidak didapatkan nilainya maka akan sulit bagi peneliti untuk menggunakannya, sehingga mereka mencoba memprediksi nilai pastinya. Angka yang diprediksi berdasarkan teori tidak pernah dekat dengan hasil observasi. Sehinggga dalam Fisika Kuantum kita mengenal probabilitas. 

Seperti gerak dari partikel yang melalui celah, menurut Fisika Quantum setiap partikel itu memiliki probabilitas untuk bisa ditemukan di mana saja, tidak ada angka yang bisa menjawab dengan akurat. Fisika Quantum memberikan setiap kemungkinan untuk sikap tidak biasa dari setiap objek.

Melakukan eksperimen terhadap benda skala atomik tidak sama dengan eksperimen yang dilakukan di kehidupan sehari-hari kita. Kita tidak bisa melakukan observasi untuk melihat apa yang terjadi karena para ilmuwan tidak pernah melihat sendiri apa yang terjadi di sana. 

Mereka melakukan penelitian itu dengan memberikan gangguan, saat gangguan diberikan maka zat tersebut akan bersikap tidak biasa, keseimbangannya terganggu. Gangguan itulah yang direkam oleh para peneliti sebelum muncul banyak teori dan postulat.

Penjelasan soal atom ini akan menjadi cukup untuk memberikan pandangan bagaimana para ilmuwan menjelaskan soal penciptaan alam semesta. Bagi ilmuwan bukan sebuah kebetulan manusia ada di Bumi. 

Untuk menjelaskan soal keberadaan semesta ilmuwan menggunakan Teori Quantum untuk menyiapkan setiap kemungkinan sejarah yang ada. Bahkan dalam hal ini diharapkan para ilmuwan bisa menggunakan Fisika Quantum dalam segala aspek kehidupan yang mana sampai sekarang hal ini masih tidak memungkinkan. 

Tidak ada teori tentang segala sesuatu karena bahkan empat kelas gaya yang ada di alam, yaitu gravitasi, elektromagnetik, nuklir berkekuatan lemah dan nuklir berkekuatan kuat tidak bisa digabungkan dalam satu hukum teori quantum. Selain itu, ilmuwan bisa saja melakukan prediksi terhadap segala sesuatu yang bersifat infinit, tapi tidak semua yang bersifat infinit tersebut bisa dibuat parameternya.

Pertanyaan soal ‘kenapa semesta seperti ini’ adalah pertanyaan yang masih terlalu absurd. Kita seperti tengah mempertanyakan kenapa jari-jari tangan kita seperti ini, kenapa jumlahnya tidak enam, atau kenapa bentuknya seperti pipa-pipa kecil, dan atau, kenapa kita punya kaki hanya dua dan kenapa tidak delapan. 

Jawabannya begitu jelas, fungsi tubuh kita-lah yang menciptakan kita. Kita tidak bisa memaksakan ke dua telinga kita untuk fungsi lain kecuali mendengar. Begitulah pula semesta kita diciptakan, tidak ada satupun di dunia yang tidak memiliki fungsi bahkan hewan-hewan aneh di dasar laut sekalipun. Alasan kenapa segala sesuatu ada dan bukannya tidak ada tidak terlepas dari apa dan bagaimana kegunaannya.

Lalu siapa yang menciptakan, apa ledakan besar secara tiba-tiba yang pernah terjadi yang kemudian bisa memunculkan planet-planet, bintang dan bahkan manusia di dalamnya? 

Jika memang hal itu terjadi kenapa manusia memiliki ruh tetapi planet-planet tidak? Dan jika manusia tersusun sama seperti planet maupun matahari, maka kehendak bebas itu juga tidak akan pernah ada.

Sampai sekarang, teori bigbang menjadi teori yang paling bisa diterima oleh para ilmuwan. Teori bigbang ini menyatakan bahwa penciptaan semesta berasal dari reaksi fusi nuklir yang hebat yang menghasilkan energi yang begitu luar biasa besar. Reaksi tersebut berawal dari tiga unsur utama yaitu hidrogen, helium, dan litium. 

Dari tiga unsur tersebut setelah ledakan nuklir terjadi, muncullah unsur yang lebih besar termasuk karbon. Karbon ini kemudian bisa dijadikan dasar pengukuran untuk mengukur umur Bumi. Dengan cara itu disimpulkan bahwa umur Bumi tidak lebih dari sepuluh milyar tahun. 

Tapi lagi-lagi muncul pertanyaan bagaimana kekuatan nuklir tersebut bisa tepat untuk menciptakan alam semesta? Jika kekuatannya tersebut lebih kecil maka mungkin semua hidrogen hanya bisa membentuk helium dan jika terlalu besar maka tidak akan pernah ada bibit untuk interstellar. Keseimbangan yang terjadi itulah yang menjadi kunci dari penciptaan untuk mendapatkan semesta yang stabil. 

Sesuai dengan asumsi Newton bahwa sistem solar kita tidak tercipta melalui kekacauan melainkan melalui ukuran yang sangat akurat. Semua teori-teori, observasi yang telah dilakukan hanya akan membawa manusia pada kesimpulan bahwa semesta berisi keberagaman yang menakjubkan.

Dan yang lebih penting lagi dari gambaran soal semua teori tersebut: tidak pernah ada tentang atom, gelombang, atau galaksi. Ilmuwan tidak pernah tau bagaimana modelnya, mereka hanya bisa menggambarkan bagaimana sikapnya sisanya adalah karena kerja otak manusia yang menakjubkan. 

Kita mencoba menganalogikannya ke dalam kehidupan sehingga kita memperoleh gambarannya tak peduli apakah itu benar atau salah, tapi lagi, ini adalah persoal bagaimana manusia bisa menemukan polanya dan menganggap sesuatu tersebut elegan.

Walau ilmu pengetahuan terus berkembang dan kita jadi semakin hebat untuk menjelaskan hukum alam. Kita akhirnya meyakini bahwa keberadaan manusia dan alam semesta bukan lagi misteri, melainkan memiliki makna. Bukan seperti saat kita melihat kue di atas meja yang mungkin sebelumnya diletakkan ibu di sana agar kita tidak kelaparan. 

Hanya karena kita tidak melihat ibu meletakannya di sana, kita jadi meragukan soal kemunculannya. Kenapa kue itu ada di sana dan bukannya tidak ada? Para ilmuwan mencoba kembali ke masa lalu, mereka memotong, mencincang, mengupas setiap bagian kue itu untuk membuat sebuah petunjuk penciptaaan. 

Pada akhirnya mereka akan menemukan apa saja yang menyusun kue tersebut, kapan kue itu dibuat, kenapa kue itu ada di sana, tapi mereka tidak akan pernah menemukan pencipta kue tersebut ada di dalamnya.

Walau kehebatan kita terhadap ilmu pengetahuan sudah jauh dari yang bisa kita bayangkan, kita sudah berhasil menciptakan satu teori besar yang merupakan gabungan dari banyak teori. Hawking menyebutnya sebagai M-theory

Saat semua teori tersebut mulai rampung kita mungkin akan merasa bahwa fenomena yang terjadi adalah hal biasa karena itu adalah bagian dari bagaimana semesta bekerja. 

Walau begitu, sepintar apapun manusia melampaui kapasitasnya untuk memahami alam semesta, kepercayaan kepada Tuhan juga tidak pernah mati, untuk beberapa orang yang memercayainya, semua penemuan ini hanya akan membawa ketakjuban.