Malam minggu sering menjadi siksaan panjang buat para jomblo. Ketika semua tempat penuh dengan seringai nyinyir untuk didiami, ketika gedung bioskop jadi pelarian, paling salah saat lampunya belum juga dimatikan. Terutama, ketika membayangkan seseorang yang mendekam dalam pikirannya tengah asyik-masyuk menggauli malam penuh mitos cinta bersama orang lain.

Mereka yang tidak bisa menerima kejombloannya sangat mungkin hanyut dalam frustrasi yang menjengkelkan. Ada bahkan teman saya yang paling senior dalam menjomblo, sampai menyinggahi desa demi desa di setiap akhir pekan.

Ah, saya agak hiperbolik. Lupa menyebutkan bahwa pekerjaannya memang survei ke desa-desa. Tapi saya curiga, sebab ingin menjauhi hiruk pikuk kota yang amat sadis terhadap para jomblo itulah dia selalu memilih bekerja di akhir pekan dan beristirahat di hari kerja.

Memang wajar sih, banyak para jomblo yang akhirnya tersudutkan menjelang akhir pekan. Hari Jumat merupakan sumber kecemasan bagi mereka. Terutama bila melihat provokasi yang dilancarkan dari segala arah: media massa dengan segenap konco-konconya, lingkungan, orang terdekat. Semuanya kerap bersekutu mengejek dan membunuh eksistensi para jomblo ini.

Lihat saja acara-acara televisi di malam minggu, selalu beraroma cinta. Mereka yang putus asa terhadap konsep sialan ini seolah diingatkan atas derita kesendiriannya yang tak berkesudahan.

Atau baca deh status-status di media sosial. Jika itu datang dari orang yang baru jadian, status mereka bikin para jomblo berseru: “Noraknya gak ketulungan!”

Sementara mereka yang menjomblo, lebih parah lagi dia yang sedang patah hati, timeline miliknya sudah beralih-fungsi menjadi tembok ratapan. Hadeuuh!

Separah itukah?

Faktanya memang begitu. Banyak orang yang memusuhi kejombloannya, meratapinya. Hingga persoalan terbesar dalam hidupnya tiada lain adalah kesendirian yang maha terkutuk itu.

Anda bisa setuju, bisa juga tidak jika saya katakan bahwa kita seringkali menyumbang banyak alasan atas kepedihan semu para jomblo itu. Saya sebut kepedihan semu karena memang: ledekan-ledekan, anjuran atau tips, bahkan sorot simpatik buat para jomblo hanyalah mitos yang dilanggengkan begitu solid oleh masyarakat manusia.

Mitos itu berasal dari kepercayaan bahwa manusia hanya bisa bertahan hidup ketika ia berhasil membangun kroni, memperbanyak keturunan, menyelamatkan spesiesnya dari kepunahan. Mungkin jika dirunut kembali pada sejarah homo sapien selama 70 ribu tahun itu, kepercayaan tersebut mengakar dari trauma manusia yang semula tidak begitu istimewa di hadapan rimba raya.

Yuval Noah Harari dalam Sapiens: a Brief History of Humankind menceritakan tentang licik sekaligus cerdiknya homo sapien selama menapaki tangga demi tangga hingga sampai ke puncak piramida rantai makanan.

Ya, pandangan umum sekaligus mengagulkan tentang apa yang oleh Harari disebut sebagai Revolusi Kognitif itu memang pencapaian luar biasa manusia. Tapi Harari juga melihat sisi lain dari pencapaian tersebut. Sebuah sisi gelap yang menentukan karakter penakut dalam diri manusia.

Saya coba sarikan pandangan Harari soal ini. Menarik ketika ia menggambarkan Homo Sapien laiknya Dictator of Banana Republic. Anda bertanya-tanya maksudnya?

Begini. Homo sapien, atau kita bahasakan manusia saja, semula adalah spesies “kelas menengah” dalam struktur rantai makanan. Di rimba raya, spesies ini tidak memiliki ketangkasan yang luar biasa jika dibandingkan dengan para predator lainnya yang telah terlatih menjadi penguasa makanan selama ratusan ribu tahun. Untuk memperoleh makanan, awalnya homo sapien hanya berani mengendap-endap, menunggui remah-remah sisa predator lain.

Akan tetapi, melalui otaknya yang berukuran jauh lebih besar dibanding spesies lain, mereka berhasil menemukan cara-cara efektif untuk menaklukkan mangsa. Anda pasti ingat tentang beragam tools yang digunakan oleh manusia purba, yang kemudian melahirkan istilah: jaman batu, jaman api, jaman agrikultur.

Singkat kata, sebab kemampuan kinerja otaknya, manusia dengan sigap dan teramat cepat sampai di ujung piramida rantai makanan. Hanya dalam kurun waktu puluhan ribu tahun. Sementara para predator, seperti dalam jenis harimau dan hiu, mereka membutuhkan waktu lebih dari satu juta tahun untuk sampai pada posisi tersebut. Pencapaian menjadi raja hutan mereka tempuh secara gradual, kalem. Tidak grasak-grusuk seperti homo sapien.

Layaknya mendadak bintang yang mencengangkan sesama artis dan para produser, homo sapien ini juga membingungkan bukan hanya para predator, tetapi ekosistem itu sendiri. Para predator yang mencapai puncak piramida secara lamban, memungkinkan ekosistem untuk mengembangkan keseimbangan biologisnya secara bertahap.

Karena itu, saat berada di puncak piramida, makhluk-makhluk tangkas ini telah benar-benar terbentuk secara matang. Kondisi fisik mereka memang meyakinkan untuk melahap binatang yang berada di bawah levelnya.

Lain halnya dengan homo sapien. Karena terlalu cepat naik tingkat, ekosistem gagap dalam menyempurnakan kematangan biologisnya. Manusia tak lebih hebat dan tangkas dibanding predator lain bila diukur dari segi fisiknya.

Karena itu, kata Harari, meskipun manusia kemudian menguasai rantai makanan, tetapi spesies ini selalu dilanda kekhawatiran, ketakutan dan kecemasan. Sebab mereka harus terus mengelak dari intaian para predator yang mampu mengoyak tubuhnya dalam satu serangan saja.

Nah, balik lagi ke persoalan sesungguhnya yang ingin saya bahas: mitos jomblo.

Mungkin terkesan melebih-lebihkan jika saya merunut sangat jauh hingga ke sejarah awal manusia. Tapi, saya kira memang jelas pengaruhnya. Seluruh ketakutan yang diawetkan manusia tentang kesendirian, berasal dari trauma genetik warisan leluhur mereka yang menjalani hidup di kebuasan rimba raya.

Betapa setiap jengkal kaki yang ditinggalkan para leluhur pada masa itu bisa memancing predator lain untuk memangsanya. Tak heran jika kepunahan adalah ancaman terbesar bagi mereka. Tak heran pula jika insting untuk bertahan hidup dengan membangun kroni dan memperbanyak keturunan menjadi semangat utamanya.

Tetapi, haruskah semua itu kita pertahankan dalam konteks kehidupan sekarang? Ketika kemampuan manusia bukan lagi sekedar memanipulasi binatang yang disebut predator, melainkan ia sendiri telah menjelma predator paling berbahaya di muka bumi ini.

Bahkan sifat predator manusia bisa juga memangsa keturunannya sendiri. Lihat saja, betapa banyak anak-anak yang karakter dan masa depannya dikikis-habis oleh orangtua mereka. Belum lagi pembunuhan sesungguhnya, yang oleh media-media busuk itu seringkali diumbar hingga ke akar-akarnya, melalui bahasa paling mengerikan.

Saya melantur terlalu jauh?

Memang itulah kenyataannya. Manusia sering merasa tidak cukup dengan dirinya sendiri dan dengan apa yang dimilikinya. Karena itu hasrat untuk bersekongkol, lantas saling menguasai mengalir deras dalam tubuhnya.

Maka mengendaplah kepercayaan dan karakter dasar manusia itu menjadi mitos tentang betapa angkernya hidup sendiri. Dari sana pula kejombloan yang semula dijauhi hanya lantaran insting bertahan hidup kini berevolusi menjadi simbol kehinaan.

Banyak dari kita yang tanpa sadar menertawakan orang yang memilih atau terpaksa hidup sendiri. Padahal, bisa jadi, mereka yang menertawakan kesendirian orang lain pada dasarnya tengah nyinyir dengan situasi pelik yang dihadapinya. Ketika persekutuan ternyata menuntut konsekuensi yang tidak sebanding dengan kebebasan yang harus dilepaskannya.