Researcher
3 bulan lalu · 205 view · 9 min baca · Lingkungan 17944_75124.jpg

Mitos Paperless dan Petaka Plastik

Paper for a sustainable environment

Sejarah kertas di tanah air adalah sejarah panjang tentang perjuangan umat manusia. Bahkan usia kertas di tanah air jauh lebih tua dari usia Republik. Konon, Kesultanan Banten pada tahun 1662-1663 sudah membuat sebuah naskah berjudul Sejarah Banten yang terbuat dari kertas. 

Sejak abad ke-17, kertas telah digunakan oleh orang Eropa di Indonesia sebagai media komunikasi resmi, terutama banyak digunakan untuk kepentingan administrasi VOC. 

Bataviasche Nouvelles adalah surat kabar pertama yang terbit tahun 1744, sebuah surat kabar official resmi milik pemerintah yang sama jenisnya dengan surat kabar Bataviasche Koloniale Courant yang diterbitkan oleh Daendels sebagai corong resmi pemerintah dalam mempublikasikan berita-berita mengenai reformasi administrasi kolonial. Dari sini penggunaan kertas untuk kepentingan surat kabar berkembang pesat bagaikan jamur di musim hujan.

Dari sini pula, kertas sebagai media penyampai pikiran dan perjuangan dimulai. Medan Prijaji adalah surat kabar pertama yang secara terbuka melakukan kritik terhadap pemerintah kolonial. Melalui Medan Prijaji, Tirto Adhi Soerjo giat membela orang-orang pribumi yang selama ini tertindas dan dirugikan oleh pemerintah kolonial. 

Lahirnya Medan Prijaji turut mengubah kegunaan kertas yang pada mulanya kertas hanya berfungsi sebagai media publikasi resmi, surat menyurat, dan administrasi pemerintah kolonial, namun ditangan Tirto Adhi Soerjo, kertas menjadi medium perlawanan terhadap pemerintahan kolonial dan penyemai kesadaran nasional. Dalam masa jayanya antara tahun 1910-1912, penerbitan Medan Prijaji mencapai tiras 2000 eksemplar.

Tak kalah populer, surat kabar De Locomotief yang digawangi oleh Pieter Brooshooft dan C. Th Van Deventer juga gencar melakukan kritik terhadap kondisi masyarakat pribumi yang mengalami kemelaratan akibat sistem tanam paksa dan memperjuangkan hak-hak masyarakat bumiputera. 

De Locomotief rutin menerbitkan artikel yang menyerukan perlunya pemerintah kolonial membalas budi kepada masyarakat bumiputera, menyejahterakan masyarakat bumiputera. Dari rahim surat kabar inilah politik etis itu dilahirkan. Disini kertas menjadi saksi sejarah sekaligus medium memperjuangkan nilai-nilai etis kemanusiaan, memperjuangkan hak-hak kemanusiaan tanpa pandang warna kulit, etnisitas dan kebangsaan.

Politik etis menghasilkan segolongan kaum cerdik-pandai yang peduli akan nasib bangsanya. Soekarno-Hatta adalah salah satu contoh segolongan cerdik-pandai yang memiliki kesadaran kuat untuk memperjuangkan bangsanya. 

Melalui surat kabar Fikiran Ra’jat, Soekarno giat menerbitkan tulisan-tulisan yang mencerahkan, membongkar sistem kolonialisme dan menyerukan persatuan dikalangan rakyat Indonesia, yang ia beri nama: kaum marhaen. Bahkan dalam beberapa rubrik Fikiran Ra’jat, surat kabar ini bertujuan membangun kesadaran politik rakyat Indonesia, atau minimal agar masyarakat Indonesia mengerti politik. 

Dengan bahasa yang mudah dipahami, surat kabar ini sangat populer dikalangan masyarakat bawah (kaum marhaen) dan dikenal oleh khalayak luas. Diketahui redaksi hingga kewalahan untuk melayani permintaan beratus-ratus langganan. Pada edisi nomor 10-11 yang terbit pada tanggal 9 September 1932, langganan Fikiran Ra’jat telah mencapai 3.997 orang. 

Dari nomor langganan ini, dapatlah kiranya diperkirakan awalnya majalah Fikiran Ra’jat ini terbit 2000 sampai dengan 3000 eksemplar lalu berkembang mencapai 3.000 sampai dengan 4000 eksemplar.


Bung Hatta, melalui Daulat Ra’jat berupaya “mendidik massa” untuk memahami teori pergerakan. Berbeda dengan Soekarno, Hatta tak ingin surat kabar hanya berfungsi sebagai alat propaganda yang hanya membangkitkan emosi massa. Melainkan sport otak, katanya. 

Dengan surat kabar yang berisi diskursus bahkan perdebatan tentang teori, maka surat kabar dapat menjadi “sekolah” yang bisa menghasilkan kader-kader pergerakan. Tugas surat kabar, kata Bung Hatta yakni menambah pengetahuan, menambah pengertian, dan menambah keinsafan (kesadaran). 

Surat kabar harus bisa menelurkan pengetahuan baru bagi pembacanya, ia bukan hanya sebagai sumber informasi semata melainkan menjadi pemimpin teori para pembacanya.

Namun apapun itu, Soekarno dan Hatta memiliki tujuan yang sama, yakni ingin membebaskan bangsanya dari penindasan. Melalui kertas, Soekarno-Hatta mencurahkan perlawanannya terhadap dominasi, eksploitasi, dan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Disini kertas bukan hanya sebagai medium perlawanan, melainkan juga sebagai medium “renaissance pedagogy”, yakni bagaimana mendidik untuk bangkit. 

Selain itu, kertas juga mengubah dan memajukan corak perjuangan nasional. Kertas berhasil memajukan perlawanan rakyat dari yang bercorak tradisional atau kelokalan digantikan dengan perlawanan yang bercorak modern-intelektual dan bersifat nasional. 

Tanpa kertas, pikiran akan nilai-nilai kemanusiaan, dan kesadaran akan kemerdekaan mungkin tak akan pernah menyebar ke penjuru nusantara.

Dan kita tak boleh lupa bahwa pernyataan sebagai bangsa yang merdeka diketik diatas secarik kertas oleh Sayuti Melik, yakni teks proklamasi 17 Agustus 1945. 

Tentu, teks proklamasi ini menjadi kertas sejarah yang amat penting bagi eksistensi Republik yang telah merdeka. Ia menjadi simbol sebuah bangsa yang setelah sekian tahun dijajah telah meraih kemerdekaan. Ia adalah simbol perjuangan umat manusia.

Mitos Paperless dan Membongkar Cap Buruk Seputar Kertas

Di dunia paperless, peran media cetak seakan bermuka suram dan hendak menemui ajal. Dunia seakan berkumandang tentang senjakala dari peran kertas dalam sejarah peradaban manusia. Namun data berbicara lain, menurut survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) kuartal III 2017 yang dilakukan di 11 kota dan menginterview 17 ribu responden, saat ini media cetak (termasuk Koran, Majalah dan Tabloid) memiliki penetrasi sebesar 8 persen dan dibaca oleh 4,5 juta orang. 

Dari jumlah tersebut, 83 persennya membaca koran. Begitu juga dengan penerbitan buku. Data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) menunjukkan pangsa pasar buku dalam negeri mencapai sekitar Rp 14,1 triliun pertahun. Sekitar 60 persen pasar buku berasal dari pembelian untuk sektor pendidikan. Tercatat pula pada 2018, penjualan buku di Gramedia meningkat sekitar 12,5 persen.

Adanya digitalisasi justru membuat penjualan buku melalui jejaring media online kian marak. Satu gerai daring Berdikari Book, misalnya, dapat menjual 700-1.000 buku yang sangat diminati melalui akun-akun jejaring sosialnya. Jadi yang terjadi tidaklah se-ekstrem apa yang orang kira tentang senjakala media cetak, yang terjadi hanyalah perubahan pola penyaluran dan perolehan buku cetak. 

Melalui ruang-ruang daring, buku-buku sastra, humaniora, ilmu sosial memperoleh tempat yang lebih teperhatikan di antara para peminatnya. Industri percetakan juga mencatatkan angka yang positif. Menurut Badan Pusat Statistik, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada kuartal ketiga 2017 untuk sektor percetakan dan reproduksi media rekaman naik sebesar 14,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Mitos lain yang kerapkali ramai dalam perbincangan publik yakni industri kertas dan budaya cetak tidak ramah lingkungan dibanding industri digital dan komunikasi elektronik yang dianggap lebih hemat sumber daya dan lebih ramah lingkungan. Kertas mendapat cap buruk sebagai perusak lingkungan dan salah satu sumber “deforestasi”. 

Namun data lagi-lagi berbicara lain, menurut American Forest And Paper Association (AFANDPA) pada 2012 lebih dari 65 persen kertas di AS dapat didaur ulang dan ini menjadikan kertas komoditas yang paling dapat didaur ulang. Sedangkan pembuatan produk elektronik seperti telepon dan laptop justru meninggalkan jejak karbon, serta menyedot energi yang cukup banyak yang dibutuhkan untuk memberi daya pada barang elektronik tersebut. 

Maka yang ada perkembangan media elektronik dan digitalisasi justru berbahaya bagi bumi kita, ia menghadirkan eksploitasi sumber daya yang relatif lebih banyak dibanding industri kertas.

Artinya, cap buruk bahwa industri kertas penghasil emisi dan merusak lingkungan juga tak terbukti. Laporan Ecofys 2013 menyebutkan industri kertas hanya menyumbang 1 persen dari total emisi global. Berdasarkan laporan Ecofys penyumbang terbesar emisi karbon terbesar justru industri mineral non-logam sebesar 6 persen, disusul industri besi dan baja sebesar 4,8 persen dan industri kimia/petrokimia sebesar 4,3 persen. 

Bahkan laporan European Declaration on Paper Recycling 2015 menunjukan bahwa pada tahun 2015 daur ulang kertas di Eropa mencapai 71,5 persen dengan jumlah 1,2 juta ton kertas yang didaur ulang selama 2015. Angka ini meningkat sebesar 1,4 persen atau setara dengan 0,8 juta ton kertas. Hal ini menujukan bahwa kertas adalah barang yang tak berhenti menjadi sampah melainkan memiliki fungsi lain yang masih bisa dimanfaatkan kembali.

Industri kertas juga kerap dituduh sebagai dalang deforestasi. Namun data Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan fakta lain, bahwa industri kertas hanya menyumbang 11 persen dari penebangan kayu hutan di dunia. Sedangkan 53 persen penebangan kayu hutan dunia digunakan untuk produksi energi dan 28 persen penebangan kayu hutan untuk kepentingan konstruksi. 

Semua cap buruk yang distempelkan pada industri kertas dan budaya cetak hanyalah mitos modern yang dibaliknya menyembunyikan fakta lain bahwa industri teknologi dan mesin-elektronik menghasilkan emisi karbon dan kerusakan lingkungan lebih banyak untuk produksi bahan baku dan daya yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya.


Sehingga era kejayaan teknologi dan paperless society berpotensi membawa kita pada apa yang disebut Herbert Marcuse sebagai “dominasi rasio-instrumental”. Dimana rasio tak lagi membawa masyarakat menjadi kritis dan rasional, melainkan hanya menyembunyikan irasionalitas demi kepentingan industri teknologi dan mesin-elektronik untuk menguasai. 

Atas nama prinsip efisiensi, produktivitas, kelancaran, kepastian matematis, dan perhitungan untung-rugi, digitalisasi masyarakat telah mengelabuhi dan membuat masyarakat seakan menutup mata dengan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan teknologi-digital di era paperless society.

Malapetaka Plastik: Back To The Paper

Kita tentu masih ingat, hampir setahun yang lalu video Rich Horner telah membukakan mata kita bahwa kini laut kita dipenuhi oleh sampah plastik. Video yang menggambarkan kondisi laut Nusa Penida Bali yang penuh dengan sampah plastik ini adalah salah satu potret dari gambaran suram mengenai krisis plastik yang mencengkram Asia. 

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, ada sekitar delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut Asia setiap tahunnya. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Komunitas Divers Clean Action (DCA) merilis temuan bahwa 63 persen sampah di lautan Indonesia berupa sampah plastik sekali pakai. Sampah ini sulit didaur ulang karena prosesnya lama dan harga yang rendah di tingkat pengepul.

Gambaran yang lebih ironis disebutkan dalam laporan American Association for The Advancement of Science (AAAS) 2010 bahwa Indonesia merupakan negara pembuang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Cina. Dalam setahun, sampah plastik yang dibuang ke laut di Indonesia mencapai 1,2 juta ton. 

Sampah plastik sangat sulit terurai di darat, apalagi di laut. Plastik akan membentuk gugus sampah mengambang atau terakumulasi di dasar laut. Sampah plastik dapat menjebak lumba-lumba, penyu hingga paus. Serpihan plastik kecil (micro-plastic) juga berbahaya karena bisa termakan oleh hewan-hewan laut. 

Hasil penelitian dari University of Exeter menyebutkan sampah plastik telah membunuh 1.000 penyu laut setiap tahunnya. Sedangkan riset dari Environment Agency Austria and Medical University of Vienna memprediksi pada tahun 2050, rerata spesies laut di bumi akan mengonsumsi plastik.

Tentu, apabila spesies laut banyak mengkonsumsi plastik punya dampak yang berbahaya bagi manusia. Micro-plastic yang dimakan oleh ikan dikhawatirkan menjadi salah satu sumber racun karsinogen. Racun itu berpotensi masuk ke dalam rantai makanan (food chain) yang akan dikonsumsi oleh manusia. 

Micro-plastic ini bisa berubah menjadi racun yang dapat menimbulkan penyakit yang serius bagi manusia. Bukan hanya itu, sampah plastik juga berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim. 

Menurut riset Scripss Institution of Oceanography at University of California San Diego bahwa keberadaan sampah plastik di laut bisa berpengaruh pada keseimbangan karbon yang terjadi secara alami biologi di laut. Bila sampah plastik yang akhirnya terfragmen menjadi mikroplastik ini tak ditanggulangi, fungsi laut sebagai penyimpan karbon secara biologi tersebut bisa berhenti.

Dengan resiko yang begitu berbahaya, penggunaan plastik perlu mendapatkan pertimbangan dari pemerintah sebagai regulator dan industri. Terutama industri makanan dan minuman sebagai penghasil sampah plastik terbanyak berdasarkan temuan Greenpeace. Botol plastik, bungkus makanan dan kantong plastik adalah jenis sampah plastik yang paling banyak ditemukan. 

Data Institute of Sustainability Leadership University of Cambridge menemukan lebih dari 78 juta ton kemasan plastik diproduksi oleh industri di seluruh dunia setiap tahun, dengan nilai hampir $198 miliar (Rp3.000 triliun). Apabila industri makanan dan minuman mampu mengubah kemasan produknya dari plastik ke kertas maka ia bukan saja menyelamatkan bumi namun juga berhasil melakukan efisiensi produksi. 

Salah satu penemuan yang berasal dari Meksiko telah berhasil merancang botol plastik bekas atau botol PET (Polyethylene Therepthalate) menjadi kertas mineral atau kertas peta. Proses produksinya 15 persen lebih murah karena tidak memerlukan bahan kimia seperti klorin. 


Kertas ini ramah lingkungan karena terurai hanya dalam enam bulan. Namun industri minuman dan makanan kurang bergairah menanggapi inovasi ini. Disinilah perlunya peran pemerintah, ilmuwan dan masyarakat sipil untuk mendorong agar produksi plastik bisa dikurangi.

 Revolusi industri 4.0 yang saat ini ramai digaungkan harusnya ikut memikirkan bagaimana manusia bisa terbebas dari budaya plastik yang membahayakan semua spesies di bumi. Tak ada cara lain, jawabannya hanya satu: Back To The Paper.

Artikel Terkait