Lecturer
5 bulan lalu · 602 view · 3 menit baca · Pendidikan 18174_88636.jpg
Foto: Ketua LPPM Unand

Mitos Kuliah untuk Bekerja

Ketika saya mengikuti sebuah program pelatihan penulisan jurnalistik bagi para Dosen dengan judul "Klinik Intensif Artikel Publikasi Ilmiah Populer (Media Massa/Online)" yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Andalas (LPPM Unand) pada Januari 2019, salah satu yang saya perhatikan adalah para narasumber pelatihan tersebut. 

Para narasumber pelatihan adalah wartawan atau jurnalis yang berpengalaman dan bersertifikat sebagai wartawan utama. Ada dua narasumber dalam pelatihan tersebut. Pertama adalah Rommi Delfiano sebagai Redaktur Pelaksana Padang Ekspres dan yang kedua adalah Ikhwan Wahyudi sebagai Redaktur Pelaksana Biro ANTARA Sumatera Barat.

Ketika para wartawan tersebut memperkenalkan diri, saya pun terfokus pada latar belakang pendidikan mereka. Rommi adalah seorang wartawan dengan gelar pendidikan S1 dan S2 Peternakan, dan Ikhwan dengan gelar S1 dan S2 Sosiologi. 

Mereka membuktikan bahwa latar belakang pendidikan tidak menghambat apalagi menghalangi mereka berprofesi. Tentu saja, berprofesi artinya bekerja atau melakukan aktivitas secara rutin yang berkaitan dengan kewartawanan mereka. Bukan berkaitan dengan latar belakang pendidikan mereka. 


Apakah itu sebuah masalah? Bagi saya tidak sama sekali. Justru saya kagum dengan mereka.

Kuliah untuk Belajar. 

Selama ini mungkin kita sering mendengar ucapan atau ungkapan bahwa tujuan kuliah atau sekolah sampai perguruan tinggi adalah agar memperoleh pekerjaan. Artinya, dengan lulus dari sebuah program studi di salah satu kampus, akan menjamin seseorang akan terbebas dari ancaman menjadi pengangguran. Tentu saja ini menyesatkan, karena realitasnya justru seringkali sebaliknya. 

Tingkat pengangguran tertinggi di sebuah daerah justru para sarjana lulusan S1, setidaknya lulusan program Diploma. Dengan kenyataan seperti itu maka sudah saatnya mengembalikan makna kuliah adalah belajar. Menempuh satu episode proses pendidikan yang pastinya bertujuan agar seseorang mengetahui, memahami, dan akhirnya mengerti tentang bidang ilmu yang dipilihnya dan hal-hal yang terkait dengan keilmuan tersebut.

Menjadi sarjana dan magister peternakan artinya selama perkuliahan yang dipelajari adalah tentang ternak dan peternakan, bukan tentang berita dan pemberitaan. Begitupun menjadi sarjana dan magister sosiologi artinya selama perkuliahan yang diperlajari adalah relasi sosial manusia dengan manusia, bukan yang lainnya. Namun apakah itu semua tidak berkontribusi ketika Rommi dan Ikhwan menjadi wartawan? Tentu saja ada, sebagaimana pengakuan mereka ketika menyampaikan perkenalan sebelum memaparkan materi dan diskusi.

Begitupun ketika saya berbicara dengan para Mahasiswa saya, jika kuliah di Program Studi Hubungan Internasional, maka yang harus dipahami dari awal adalah untuk belajar tentang hubungan atau relasi antar bangsa. Jangan dulu berpikir menjadi diplomat atau duta besar. Bukan tidak boleh jika itu sebagai cita-cita, namun yang memang tidak boleh adalah justru itu menjadi beban selama perkuliahan. Artinya, ketika akhirnya kelak tidak bekerja menjadi diplomat atau duta besar, maka jangan merasa kuliah bahkan hidup kalian gagal. 

Pengalaman saya menjadi Dosen selama lebih dari sepuluh tahun, setiap ada Mahasiswa baru yang datang, saya pasti bertanya kepada mereka. "Ngapain kuliah?", berlanjut dengan pertanyaan, "ngapain di HI?". Biasanya saya sarankan mereka untuk memikirkan dan merfleksikan lagi tentang pilihan yang akhirnya harus beekuliah di Hubungan Internasional.


Kuliah Bukan untuk Menentukan Nasib. 

Pesan yang mau saya sampaikan dalam tulisan ini, jangan pernah menganggap kuliah akan menjamin masa depan sesorang pasti lebih baik. Apalagi jika ukurannya bahkan hanya sebatas mendapat pekerjaan atau satu profesi tertentu. Kuliah bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana kehidupan seseorang. 

Berkaitan dengan pekerjaan, seringkali banyak orang juga lupa bahwa itu bukan hanya semata-mata urusan dirinya sendiri saja. Atau bahkan hanya urusan diri seseorang dengan Tuhannya masing-masing. Pekerjaan atau profesi seseorang itu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang lebih kompleks.

Pertama adalah orang harus mengetahui dan memahami tentang adanya pasar kerja. Tempat di mana pekerjaan dan tenaga kerja ditransaksikan. Pekerjaan dan tenaga kerja telah menjadi komoditas, ada permintaan dan ada penawaran. Sebagaimana barang dan jasa, semakin lama pasar kerja diarahkan menjadi pasar kerja yang bebas. Artinya, para pencari kerja berhadapan langsung dengan para pencari tenaga kerja.

Kedua, dalam logika pasar kerja yang bebas maka peran pemerintah atau otoritas negara diminimalisasi. Berfungsi hanya menjadi regulator atau menjamin adanya regulasi untuk mengelolanya. Sedangkan peran para penyedia pekerjaan atau pemburu tenaga kerja lebih dominan. Mereka punya kuasa atas harga tenaga kerja dari yang ditawarkan para pencari kerja.

Ketiga, logika para sarjana atau siapapun para pencari kerja yang hendak menjual tenaga kerjanya harus memiliki daya saing, adalah pemikiran yang lahir dari adanya pasar kerja bebas tersebut. Ketika daya saing selalu dikedepankan, maka bukankah gelar pendidikan menjadi semakin tidak relevan untuk digunakan?


Artikel Terkait