1 tahun lalu · 930 view · 3 menit baca · Perempuan 28279.jpg
Tipsiana.com

Mitos Kecantikan Perempuan Asia

Film "Crazy Little Thing Called Love" melanggengkan mitos kecantikan perempuan di Asia

Tubuh yang indah dan seksi, wajah jelita, kulit cemerlang, payudara montok adalah paket yang dikejar hampir setiap kaum perempuan agar kecantikannya menyamai para dewi yang hidup dalam dongeng. Tetapi mengapa harus menjadi seorang dewi jika tubuhnya hanya menjadi obyek permainan kaum lelaki? Sementara itu, ada peran lain yang lebih penting menanti. Germaine Greer

Agaknya apa yang disampaikan oleh Germaine Greer di atas merupakan hal yang menjadi dambaan kaum hawa. Dengan menampilkan diri bak putri dari kayangan, hampir semua perempuan merias diri sebening dan semolek mungkin.

Tentu tindakan itu bermacam-macam tujuan tentunya. Ada yang memang melakukannya untuk merawat diri atau juga untuk menarik lawan jenisnya. Hal terakhir ini kerapkali dilakukan oleh para perempuan ABG (Anak Baru Gede).

Dalam tulisan ini, saya lebih berfokus terutama pada perempuan yang merasa cantik jika sudah memiliki kulit yang putih. Banyak perempuan terutama di Asia berlomba-lomba untuk memiliki kulit yang cemerlang.

Tentu saja ini bukanlah suatu permasalahan. Karena siapa yang tidak mau memiliki kulit menawan seperti artis iklan pemutih kulit ponds di televisi itu? Tetapi menjadi persoalan jikalau banyak perempuan yang merasa dirinya tidak cantik jika belum memiliki kulit yang putih. Sehingga berbagai usaha mereka lakukan untuk memutihkan kulitnya, bahkan juga dengan operasi.

Pernah suatu kali saya menonton film berjudul Crazy Little Thing Called Love hasil industri film dari negeri ginseng Thailand. Fokus dari film ini ada pada seorang perempuan yang suka terhadap seorang laki-laki.

Perempuan ini awalnya memiliki kulit yang cokelat dan dianggap jelek oleh teman-teman sekitarnya. Hingga pada akhirnya ia berubah drastis dengan usaha teman-temannya untuk bisa memiliki kulit putih. Perubahannya ini pun membuat orang tidak lagi mengejek dia karena kini perempuan itu telah dianggap cantik.

Tampak sekali bahwa film ini pun melanggengkan mitos yang kini anehnya sudah mulai dihidupi dan bahkan dianggap fakta bahwa perempuan Asia yang cantik adalah yang memiliki kulit yang putih. Padahal yang saya ketahui sampai saat ini, bahwa sejatinya perempuan yang tinggal di Asia disebut memiliki karakteristik, yaitu berkulit cokelat dengan warna kuning.

Hal ini disebabkan karena faktor dari genetika, juga karena perbedaan kondisi tempat tinggal. Ini pun terjadi juga pada perempuan non Asia yang memiliki kulit putih juga karena hal ini. Artinya, sejatinya perbedaan ini adalah lumrah dikarenakan faktor biologi (gen) dan juga geografis serta musim di wilayah.

Jika dilihat dalam KBBI, kata "cantik" didefinisikan sebagai elok, indah dalam bentuk. Tidak sedikit pun disebutkan bahwa yang cantik adalah yang memiliki kulit putih.

Definisi ini hanya berakhir seperti itu. Artinya, masyarakat kita dan juga di dalamnya para kaum hawa yang membangun pemikiran bahwa cantik itu harus yang seperti ini dan seperti itu.

Sayangnya, para perempuan di Asia termasuk di Indonesia menjadikan perempuan non Asia menjadi patokan dari sesuatu yang dinamakan dengan kecantikan. Sehingga tidak heran banyak yang berlomba-lomba mengubah warna kulit dengan memberikan patokan dari warna kulit perempuan Barat (non Asia)

Tindakan ini pun agaknya secara latah diikuti oleh tiap-tiap perempuan di Indonesia. Bahkan tidak sekadar mengubah warna kulit, tetapi sampai mengubah bentuk tubuh lainnya seperti wajah, hidung yang dikenal dengan operasi plastik, dilakukan demi memenuhi tuntutan “cantik” yang sesungguhnya hanyalah mitos belaka itu.

Tidak heran, di banyak tempat berdiri pula klinik kecantikan yang menawarkan pemutih kulit dan lain sebagainya. Karena memenuhi tuntutan perempuan yang banyak ingin mengutak-atik tubuhnya agar tidak lagi dikatakan jelek, lebih tepatnya agar dapat mencapai mitos kecantikan seperti perempuan Barat: berkulit putih, hidung mancung, langsing, dsb.

Sebenarnya tidak salah perempuan Asia terkhusus yang ada di Indonesia memiliki kulit yang putih. Saya juga sedang berkeinginan untuk menyalahkan para perempuan yang berkulit putih, jika karena memang bawaan dari lahir begitu. Artinya karena faktor biologi. Juga pada perempuan yang karena usaha sendiri menjadikan kulit yang sebelumnya cokelat kuning menjadi putih.

Tetapi, saya ingin memberi pemahaman yang entah untuk kesekian kalinya (artinya sudah banyak sebelum saya melakukan hal ini) terkhusus pada perempuan yang ingin mengubah kulitnya menjadi putih karena merasa minder dan menganggap diri jelek.

Saya mau mengingatkan bahwa jangan sekali pun mau terkena mitos bahwa perempuan yang cantik adalah yang memiliki kulit putih. Karena definisi itu amatlah tidak menghargai perempuan secara keseluruhan. Masa kan Anda (perempuan) mau dianggap tidak cantik hanya karena tidak langsing, tidak mancung, tidak berkulit putih, dan lain-lain?

Coba lihat para perempuan Indonesia masa lampau. Dengan balutan kebaya dengan kulit yang cokelat dan bukan putih, mereka tetaplah anggun dan saya merasa juga mereka cantik!

Berhenti meyakini bahwa perempuan itu cantik kalau memiliki kulit putih. Lebih daripada itu, perempuan cantik jika menghargai tubuhnya dan tidak mengutak-atik hanya demi memenuhi tuntutan laki-laki.

Perempuan cantik itu yang mampu menampilkan prestasi dalam hidupnya. Perempuan cantik itu dilihat dari ketulusannya, pun juga dari kegarangannya dalam menentang ketidakadilan di sekitarnya.

Perempuan itu cantik dari dalam bukan dari luarnya saja. Karena cantik dari luar sejatinya redup oleh waktu, tetapi yang dari dalam tetap bersinar selamanya. Jadi, perempuan, masihkah kau mau terjerat mitos kecantikan itu? #RespectWomen

Artikel Terkait