Dalam memahami isu homoseksualitas, kita menemukan lebih banyak soal mitos-mitos seputar isu tersebut daripada fakta. Mitos adalah narasi dari masa lalu yang diyakini sebagai kebenaran faktual oleh generasi setelahnya. Mitos bukan apa yang terjadi sesungguhnya, ia adalah rekaan, dugaan, dan "karangan".

Sedangkan fakta adalah kebalikan dari mitos, segala hal yang terkait dengan apa yang benar-benar ada dan terjadi. Mitos-mitos penolakan terhadap orientasi seksual non-heteroseksual, misalnya:

(a) kalau homoseksual diterima publik, maka manusia akan punah, karena hubungan seksual dari homoseks tidak memberikan keturunan yang menjadi ciri khas hubungan seksual heteroseks. 

Asumsi ini bisa dimentahkan: apakah mungkin seluruh manusia di dunia ini akan menjadi homoseks semua hanya dengan menerima homoseksual? Jauh dari akal sehat. Dan ini paronia.

Studi yang berhubungan dengan kependudukan juga telah membuktikan negara-negara yang angka kelahirannya menurun dan penduduknya semakin menua, seperti Jepang, Singapura dan negara-negara maju lainnya tidak ada hubungannya dengan penerimaan negara ini pada homoseksualitas, tetapi angka kelahiran turun karena penduduknya lebih fokus pada produktivitas kerja dan biaya hidup yang tinggi.  

(b) homoseksual kalau diterima akan menular kepada kalangan yang bukan homoseksual. Asumsi ini tidak bisa diterima, karena orientasi seksual lebih banyak bukan soal pilihan, tapi dorongan dari dalam. Meskipun dikenal istilah preferensi seksual (yang berarti orientasi seksual yang dipilih), namun tak sedikit yang menyatakan orientasi seksualnya bukan pilihan.

(c) homoseksual identik dengan penyakit HIV/AIDS. Asumsi ini juga bisa ditolak karena virus HIV menyebar tidak hanya melalui hubungan seksual, tetapi juga melalui transfusi darah, jarum suntik yang bergantian di kalangan pecandu narkoba, jalur perinatal (dari ibu ke anak), transplantasi. Hubungan seksual di kalangan heteroseksual yang tidak aman dan sehat juga beresiko besar dalam penularan HIV.  

(d) homoseksual adalah penyakit jiwa yang menyimpang. Ini adalah dongeng yang terus diceritakan turun-termurun. melalui penelitian ilmiah, sudah ada bantahan dan menghapus homoseksual sebagai penyakit jiwa. Pada tahun 1973 American Psychiatric Association (APA) menghapus kategori homoseksual sebagai gangguan jiwa.

Kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 17 Mei 1990 secara resmi mengeluarkan homoseksual sebagai penyakit. Sehingga 17 Mei dijadikan Peringatan International Day Against Homophobia (IDAHO): hari melawan kebencian terhadap homoseksual.

Di Indonesia sendiri dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa, Edisi II, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tahun 1983 (PPDGJ II) dan (PPDGJ III) 1993, pada point F66 meyebutkan bahwa orientasi seksual (homoseksual, heteroseksual, biseksual) bukan gangguan kejiwaan.

PPDGJ I-III oleh Departemen Kesehatan ditetapkan sebagai acuan profesi kesehatan jiwa dan akademisi di seluruh Indonesia. Sehingga tuduhan homoseksual selalu dikaitkan dengan gangguan jiwa ataupun penyakit hanya sebuah asumsi dan tuduhan yang tidak berasalan lagi.

(e) homoseksual adalah budaya dan produk dari Barat bertentangan dengan nilai-nilai dan budaya ketimuran. Asumsi ini salah besar, karena istilah orientasi seksual non-heteroseksual yang biasa diperinci LGBTIQLesbian, Gay, Biseksual, Transgender/Transeksual, Interseks dan Queermerupakan istilah akademis yang cair bukan label.

Kata Gay dan Lesbian baru terdengar di Indonesia tahun 1970, dan menjadi gerakan untuk kesetaraan tahun 1980. Tapi kalau kita membaca sejarah Indonesia sebelum Indonesia yakni Nusantara telah tercatat keragaman orientasi seksual ini “berahi dan relasi sesama jenis” dan keragaman identitas jender.

Dalam dunia mitologi dan wayang kita menemukan kisah Srikandi perempuan yang berpakaian dan bersikap seperti laki-laki, juga kisah Candra Kirana yang menyamar menjadi laki-laki: Panji Semirang. Di masyarakat Bugis dikenal bissu yang berasal dari transgender laki-laki dan wanita.

Di masyarakat Jawa dikenal istilah wandu (waria). Di Jawa Timur ada budaya warok dan gemblak. Di Pesantren ada budaya mairil dan dalaq yang menunjukkan berahi sesama jenis. Atau yang paling jelas dalam Serat Centhini, kitab sastra Jawa yang ditulis tahun 1814 M ini memunculkan kisah-kisah berahi dan relasi sesama jenis di kalangan masyarakat Jawa, baik di keraton, pesantren dan pedesaan.

Akhirnya, apakah anda masih berpegang erat pada mitos-mitos seputar homoseksual yang jauh dari kebenaran? Atau menggunakan akal sehat anda untuk percaya pada kebenaran yang sesungguhnya?

*Tulisan ini cuplikan dari buku "Islam Tanpa Diskriminasi".