Sudah saatnya berpikir jernih tentang kehidupan yang cenderung bergerak ke arah tak setimbang ini. Dengan begitu, paling tidak, nalar berpikir kita cukup waras dan mempunyai kecenderungan untuk setimbang.  

Adapun sasaran untuk berpikir waras tersebut adalah tak perlu jauh-jauh dulu. Paling tidak untuk diri sendiri, itu sudah cukup bagus.

Salah satu teoritis yang mungkin bisa diaplikasikan secara individual adalah menyoal tentang kesetimbangan atau membuat setimbang antara mitos dan logos yang secara definitif sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Mitos dan logos pasti ada di setiap ajaran agama.

Agar fokus, yang sedang dibicarakan bukan masalah "keseimbangan", namun "kesetimbangan". Adalah hal yang mustahil membuat keseimbangan antara logos dan mitos, sebab itu dua hal yang jauh berbeda. Sedang membuat "setimbang" adalah hal yang mungkin saja terjadi, karena pada "kesetimbangan" tidak terlalu menuntut kesamaan komponen. 

Kedamaian hidup itu ibarat benda tegar yang dalam fisika merupakan benda yang bentuknya tidak berubah saat diberi gaya dari luar. Kedamaian itu bisa dianggap sebagai sebuah titik materi yang ukurannya bisa diabaikan, dalam artian fokus pada benda dan gaya saja.

Kesetimbangan adalah ketika kedamaian yang digambarkan sebagai benda tegar tadi mendapat gaya dari luar yang berupa logos dan mitos.

Dengan menggunakan parameter yang bernama "kesetimbangan", maka didapatkan dua keadaan. Pertama, kesetimbangan stabil, yaitu kemampuan sebuah heterogenitas untuk kembali ke posisi semula saat diberi gangguan.

Sedang yang kedua adalah keseimbangan labil atau goyah, di mana heterogenitas itu tidak bisa kembali ke posisi semula saat gangguan dihilangkan. Nah, di sinilah rentan mendapatkan simpangan ekstrem yang disebut dengan radikalisme atau fundamentalisme. 

Keadaan stabil dan goyah juga menyebabkan dikotomi yang makin tinggi antara mitos dan logos. 

Sebagaimana yang sudah lazim dipahami bahwa mitos adalah pengetahuan yang bersifat mistis dan berobjek abstrak dan supranatural. Tentunya kebanyakan tidak berdasarkan fakta. Sedang ukuran kebenarannya ditentukan oleh rasa, terutama keimanan hasil dogmatis lingua sacra atau bahasa-bahasa suci. 

Mitos tidak bisa ditampilkan ataupun ditunjukkan dengan bukti-bukti rasional. Sedangkan logos sebaliknya. Ia adalah pemikiran yang rasional, pragmatis, dan ilmiah.

Pengetahuan mistis yang kelahirannya sebagian besar berdasar atas prasangka yang dibumbui imaginasi akan menjadi sebuah pengetahuan yang sulit diverifikasi dan dibuktikan. Mitos juga bisa muncul dari catatan peristiwa sejarah yang bombastis, dilebih-lebihkan pada bagian tertentunya.

Sedang logos merupakan himpunan fakta-fakta nyata dan realitas yang dapat dibuktikan secara empiris. Logos merupakan hasil observasi dan dirumuskan dengan akal dan pikiran serta nalar yang sehat dan waras. Keseluruhan data-data empirisnya bisa diverifikasi dan dipertanggungjawabkan.

Agama adalah halaman lebar tempat mitos dan logos ditampung. Agama sering dan pasti menggunakan dua elemen nalar tersebut, baik parsial ataupun keduanya.

Kedua elemen, baik mitos maupun logos, berguna untuk menciptakan struktur sosial kehidupan masyarakat yang lengkap. Mitos dan logos sama-sama berperan sesuai dengan kadarnya masing-masing.

Duet keduanya adalah bersifat saling melengkapi. Logos banyak dijumpai dalam sains, seni, hukum, dan kepemerintahan; sedang mitos memenuhi tiap sudut relung jiwa manusia, termasuk takhayul, khurafat dan semua anggapan-anggapan supranatural lainnya. 

Pada kesetimbangan tertentu, mitos dianggap lebih menguasai ayunan lengan neraca, karena berkaitan dengan sesuatu yang langgeng, suci, dan agamis. Sedangkan logos sangat erat hubungannya dengan kreativitas ataupun pikiran dan ide yang diungkapkan dengan perkataan dengan pertimbangan nalar yang mumpuni.

Sebagaimana mitos yang bisa saja cenderung menguasai lengan neraca kesetimbangan, logos pun juga mampu mendominasi mitos. Bukti-buktinya, seperti pencapaian dan prestasi yang luar biasa dalam bidang sains dan teknologi yang secara laten dapat mengubah pikiran dan pandangan hidup.  

Pada akhirnya, rasionalitas bisa saja menjadi satu-satunya sarana mencapai kebenaran, setelah mitos mati. Jika neraca kesetimbangan sudah berat sebelah memihak ke logos, maka matilah mitos. Efeknya adalah kematian Tuhan dan agama di muka bumi. Semua ajaran samawi akan terkubur dalam-dalam di bumi.

Selanjutnya, para penganut dan pemimpin agama akan tenggelam dalam kehampaan atau kekosongan spiritualitas. Keadaan ini bisa membuat sebuah ketertekanan mental dan batin. Ruang kosong nan hampa yang ditinggalkan inilah yang akan membidani kelahiran fundamentalisme dan radikalisme.

Ruang kosong nan hampa yang ditinggalkan mitos akan siap mencetak para fundamentalis dan radikalis, apa pun agama dan kepercayaannya. Mereka akan melakukan segala tindak kekerasan untuk memaksa mitos agar kembali menjadi setimbang, atau bahkan melebihi kalau perlu. 

Ruang kosong atau kesetimbangan jomplang adalah kekuatan-kekuatan tradisionalis dengan semangat konservatisme yang akan terus berjuang membangkitkan kenangan kejayaan masa silam ketika mereka (mitos) mendominasi neraca kesetimbangan.

Para fundamentalis dan radikalis menganggap bahwa pengalaman terdahulu, atau kejayaan masa lampau, akan memberikan jaminan kesuksesan yang telah terbukti oleh lintasan sejarah.

Konsekuensinya, misal di Islam, akan muncul apa yang disebut dengan gerakan kembali ke khilafah, gerakan kembali ke Quran dan Hadis, gerakan Salaf yang salah identitas dan sebagainya. Sedang untuk Kristen, muncul seperti kelompok televangelis, ortodoksi, puritan, calvinisme, dan lainnya.

Kekuatan modernitas yang berorientasi ke arah masa depan yang selalu menggunakan model eksternal sebagai rujukannya akan kembali menghadapi saudara kembarnya, yaitu mitos yang telah dipenuhi dendam sejarah kejayaan masa lalu. 

Kemajuan logos yang diraih melalui upaya kreativitas dan progresivitas akan segera hancur bila tidak bisa menghentikan mitos yang sudah kesurupan dengan ilusi kejayaan masa lalu. Logos yang dilandaskan pada nilai-nilai rasional akan berhadapan dengan mitos yang sudah telanjur kecewa dengan keadaan yang ditimbulkan oleh logos. 

Agama dan sains yang sebenarnya merupakan komponen neraca kesetimbangan antara mitos dan logos, kini saling berebut lengan neraca agar condong berayun ke arah masing-masing.