Psikolog Feminis
1 bulan lalu · 466 view · 4 min baca menit baca · Filsafat 86601_28479.jpg
L. Prang & Co., diunduh dari situs commons.wikimedia.org

Mitologi Psikhe

Psikhe adalah seorang putri yang memiliki kecantikan tiada tara. Tidak hanya kedua kakaknya yang iri hati dengan kecantikannya, tetapi juga Afrodit, Dewi kecantikan. Afrodit merasa terabaikan karena orang-orang sangat terpesona dengan kecantikan Psikhe datang untuk mengagumi dan menyembah putri ini seperti dewi. 

Cemburu terhadap Psikhe, Afrodit memerintahkan anaknya Eros (dikenal juga sebagai Cupid) untuk membuat Psikhe jatuh cinta kepada makhluk terjahat dan terburuk yang paling dibenci orang sedunia. Ketika Eros hendak menjalankan tugasnya, ia tertancap anak panahnya sendiri dan jatuh cinta kepada Psikhe. 

Sementara itu, meski memiliki kecantikan yang luar biasa, Psikhe tidak memiliki pendamping. Orang-orang sangat terpesona oleh kecantikannya sehingga lebih melihatnya seperti sebuah karya seni yang agung, tak tersentuh. 

Ayah Psikhe menemui Apollon (dalam bahasa latin disebut Apollo), meminta petunjuk darinya mengenai pasangan hidup Psikhe. Apollon menyarankan agar Psikhe dibawa ke puncak gunung. Di sanalah makhluk menyeramkan akan datang menjemput dan menikahinya. 

Dengan berat hati, ayah Psikhe melaksanakan perintah Apollon. Proses perkawinan dan kematian Psikhe pun menjadi satu ritual. Ia dihias dalam pakaian kematian dan dibawa ke puncak gunung. 

Tetapi Zefiros, dewa angin, mengantarkan Psikhe ke sebuah bukit, tidak jauh dari tempat kediaman Eros. (Versi lain mengatakan bahwa ketika Eros tertancap panah asmara, ia membawa Psikhe ke istananya). Psikhe ditinggalkan di sebuah padang rumput dan ia pun tertidur. 

Ketika terbangun, ia menjelajahi tempat itu dan menemukan sebuah rumah yang indah bertiang emas, berlantai permata, berdinding perak, dan beratap gading. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk masuk, dan di sana pesta sudah menantinya. Ia menikmati hidangan lezat yang disajikan oleh dayang-dayang gaib yang kemudian mengantarkannya ke dalam sebuah kamar. 


Dalam kamar yang sangat gelap itu, Eros, yang tidak dapat ia lihat, menemuinya, dan mereka pun memadu cinta. Ia melarang Psikhe untuk melihat wajahnya atau mencari tahu siapa dirinya. Jika Psikhe tidak menuruti larangan ini, hubungan mereka terpaksa harus berakhir, demikian kata Eros tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. 

Psikhe adalah manusia biasa, bukan dewi. Ia tidak diizinkan untuk mengenali Eros yang adalah dewa. Apalagi dengan mencintai Psikhe dan hidup bersamanya, bukan hanya ia gagal melaksanakan perintah ibunya, tetapi ia paham bahwa Afrodit akan merasa dikhianati. 

Meski diliputi rasa keingintahuan yang besar, Psikhe menerima aturan yang ditetapkan Eros. Eros mengunjunginya kala malam tiba dan meninggalkannya menjelang dini hari. Psikhe tidak dapat melihat wajah kekasihnya dalam kegelapan dan tidak mengenali siapa ia sesungguhnya. Namun ia bahagia. 

Sementara itu, di bumi, keluarga Psikhe berduka memikirkan kemungkinan Psikhe sudah meninggal. Psikhe melihat kedua kakaknya menangis meratapi kepergiannya. Ia meminta Eros untuk menjemput mereka mengunjungi dirinya dan tinggal beberapa waktu bersamanya. 

Eros mengabulkan permintaan Psikhe dan meminta Zefiros mengantarkan kedua kakak Psikhe ke istananya. Kedua saudara perempuan ini melihat hidup Psikhe bahagia dan penuh kemewahan, terbakar rasa iri hati. Mereka meracuni pikiran Psikhe bahwa pasangannya adalah seorang monster jahat yang menyeramkan yang sewaktu-waktu akan memakannya. 

Psikhe didorong rasa penasaran untuk menyingkap misteri, menyalakan lentera ketika Eros sedang terlelap. Ia terpana mendapati pria tertampan yang pernah ia lihat. Tanpa disadarinya, setetes minyak panas dari lentera jatuh ke atas pundak kanan Eros. 

Eros terbangun dan terbang melarikan diri dalam marah dan kecewa terhadap Psikhe yang melanggar janjinya. Psikhe berusaha mencegah dengan menangkap kaki Eros. Ia menggantungkan tangannya pada satu kakinya, mengiba agar Eros tidak meninggalkannya. 

Lelah bergantung dalam kondisi demikian, Psikhe terjatuh. Eros tidak tega melihat Psikhe, menempatkan Psikhe dengan lembut di atas rerumputan untuk kemudian benar-benar pergi meninggalkannya. 

Sepeninggal Eros, Psikhe putus asa dan penuh penyesalan. Ia menjatuhkan diri ke dalam sungai. Namun sungai yang berbelas hati kepadanya, menghanyutkannya menuju ke kediaman Dewa Pan. Pan menyarankan Psikhe untuk memperjuangkan cinta Eros. 

Psikhe meminta bantuan Ceres dan Junon, namun mereka tidak dapat melakukan itu terhadap Afrodit karena melanggar kode etik sebagai sesama dewi. Psikhe pun menyadari bahwa ia sendiri yang harus menghadapi langsung Afrodit dan meminta pengampunannya. 

Sementara itu, Eros, terbakar kulit bahunya, pergi ke istana ibunya untuk meminta perawatan. Afrodit ketika mendapati anaknya dengan luka bakar dan mendengar tentang hubungan Eros dan Psikhe menjadi murka. Ia mengurung Eros di istananya dan memerintahkan Mercure untuk membawa Psikhe ke hadapannya. 

Setibanya Psikhe, ia memerintahkan Kesedihan dan Kecemasan untuk menyiksa Psikhe. Setelah itu, ia menjadikan Psikhe sebagai budaknya. Psikhe harus melakukan tugas-tugas yang mustahil untuk diselesaikan. Psikhe menerima hukuman ini dengan harapan mendapatkan kembali cinta Eros. 

Jatuh-bangun Psikhe berusaha melaksanakan tugas demi tugas yang diperintahkan Afrodit. Ia bahkan berusaha mengakhiri hidupnya sebanyak dua kali. Tetapi dengan bantuan semut, alang-alang, burung elang, dan menara yang dapat berbicara, ia berhasil menyelesaikan tugas-tugas berat itu.

Pada tugas yang ketiga, Psikhe harus pergi ke neraka untuk mendapatkan sebongkah kecantikan dari Dewi Persefone dan memasukkannya ke dalam kotak. Afrodit merasa kecantikannya memudar akibat upayanya menyembuhkan luka Eros sehingga membutuhkan bongkahan kecantikan itu. 

Baca Juga: Sang Dewi

Ketika Psikhe akhirnya berhasil menunaikan tugas ini, ia sudah sangat lelah. Dalam keletihan itu, ia tergoda untuk menggunakan bongkahan kecantikan dari Persephónê. 

Dalam pemikiran Psikhe, kecantikan dewi dapat membantunya untuk menaklukkan kembali Eros. Ketika ia membuka kotak tersebut, ia diserang rasa kantuk yang sangat kuat. Ia pun tertidur pulas dan tidak dapat digerakkan. 

Sementara itu, Eros yang sudah sembuh dari luka bakarnya melarikan diri dari istana Afrodit. Ia mencari Psikhe dan menemukannya. Dengan ujung panahnya, ia membangunkan Psikhe dari kutukan tidur panjangnya. 

Masih sangat mencintai Psikhe, Eros membawanya menemui Zeus. Ia memohon pada Zeus untuk memberikan keabadian kepada Psyché, dan Eros berjanji akan selalu siap sedia membantunya kelak sebagai balasan. 

Zeus mengabulkan permintaan Eros. Ia memanggil semua dewa-dewi, termasuk Afrodit, berkumpul untuk merestui hubungan Eros dan Psikhe. Ia memerintahkan Afrodit untuk tidak lagi mengganggu Psikhe. Eros dan Psikhe hidup bahagia, dan memiliki seorang anak yang mereka namakan Hedone.

Demikian mitologi Psikhe. Mengenai interpretasi mitologi ini, dalam kaitannya dengan psikologi, dapat dilihat dalam tulisan: Mengapa Ilmu Ini Bernama Psikologi?

Artikel Terkait