Sesungguhnya masyarakat Indonesia diwarisi dengan pengetahuan dari berbagai peristiwa alam yang kerap terjadi sejak “early beginning”. Pengetahuan lokal tersebut terpatri dan diperoleh dari pengalaman panjang akibat berinteraksi terus-menerus dengan ekosistemnya.

Disosialisasikan turun temurun melalui dongeng dan legenda oleh tokoh masyarakat sehingga membudaya di hati masyarakat. Salah satunya pengetahuan dan kearifan ekologi leluhur dahulu dalam memprediksi dan melakukan mitigasi tradisional berkaitan bencana alam.

Kemudian menyisakan pertanyaan, apakah masyarakat lokal sepertinya sudah tidak mampu lagi menalar gejala alam atau ada perilaku alam yang sudah tidak dikenal lagi, sampai akhirnya terjadi bencana longsor terjadi tiba-tiba tanpa bisa diantisipasi lebih dini?

Seperti biasa, budaya saling lempar kesalahan menjadi suatu hal yang wajib pasca bencana alam. Contoh khasus, longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Sabtu (1/4/2017) lalu. Di sisi pemda, antisipasi dini minim dengan alasan gejala hampir tidak terprediksi secara teknologi dan berlangsung dengan begitu cepat.

Padahal dari pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan, sebelumnya pernah terjadi longsor di lereng sebelah barat yang berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi longsor sekarang. Maka dari itu, alangkah baiknya sinkronisasi komunikasi masyarakat, lembaga terkait dan pemerintah untuk siap siaga menghadapi bencana alam sebagai kunci upaya sinergis.

Setelah bencana terjadi, kemudian rame-rame membentuk tim kaji cepat untuk mengamati penyebab bencana. Seakan-akan bencana alam adalah bahan studi yang berkelanjutan. Padahal kesimpulannya ya cuma itu-itu saja. Bencana longsor, mesti tidak jauh-jauh dari bentang alam yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Hal itu sesuai dengan pengamatan tim PVMBG yang menyebutkan bahwa bukit yang disulap menjadi ladang Jahe menjadi salah satu penyebab longsor. Artinya bahwa masyarakat lokal sudah meninggalkan/ melunturkan kearifan ekologi di bentang lahan yang dimilikinya.

Sebenarnya sederhana saja, agar tidak longsor terulang kembali cukup dijadikan hutan atau perkebunan yang ditanami pohon keras yang memiliki perakaran tunjang. Seandainya ingin ditanami jahe, kearifan ekologi mengajarkan tumpang sari, yaitu penanaman jahe dengan didampingi pohon keras, misalnya Mangga.

Sebenarnya sudah banyak ajuan tentang mitigasi bencana alam berbasis teknologi. Namun perlu kita ketahui bahwa bencana alam adalah fenomena alam. Walupun tangan manusia yang lalai dalam memelihara lingkungan ataupun fusi dari keduanya turut berkontribusi terjadinya bencana.

Sebagai fenomena alam harus disikapi secara arif dan spiritualis. Sebagai contoh masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Merapi, di Jawa Tengah, memiliki kemampuan mitigasi tradisional dengan membaca tanda-tanda alam melalui perilaku hewan, seperti turunnya hewan-hewan dari puncak atau keluar dari rimbun hutan, burung-burung atau hewan lainnya mengeluarkan bunyi suara yang tidak biasa.

Kita menyadari bahwa sistem peringatan dini yang dimiliki negeri ini belum terselenggara dengan baik dan optimal. Namun masing-masing daerah sebenarnya memiliki pengetahuan dan kearifan lokal yang beragam dan berbeda bentuknya.

Walaupun istilah yang digunakan berbeda dan cara-cara yang sudah mentradisi tidak sama, semua ini merupakan potensi dalam membangun mitigasi bencana yang berbasis pada potensi kearifan lokal. Boleh dikatakan lokal namun nilai yang terkandung bersifat universal sehingga dapat diterapkan dan direvitalisasi.