Penulis
1 bulan lalu · 1586 view · 5 min baca menit baca · Agama 33885_87697.jpg
deny sartika/steemit @denysatika

Misteri Wangi Kertas Alquran Panton Reu

Bila berkunjung ke Aceh, kebanyakan turis, domestik maupun luar, hanya ingin menikmati kopi dan keindahan alam Aceh. Mulai dari lautnya yang indah, gunung, hingga wisata kuliner, termasuk rasa kopi Aceh. Kali ini, saya akan perkenalkan objek wisata religi yang masih misterius.

Alquran berusia lebih 700 tahun yang terletak di Panton Reu, Aceh Barat, memang memiliki keunikan tersendiri. 

Menurut Muchtar (mahasiswa) yang merupakan penduduk asli Panton Reu, Alquran wangi sedikit mistis. Pasalnya, ia pernah melihat harimau yang seolah menjaga Alquran tersebut. Pada saat itu, warga sedang mengadakan kenduri di sekitar rumah, tempat diletakkannya Alquran tersebut.

Alquran Panton Reu yang lebih dikenal dengan sebutan Alquran Wangi merupakan warisan sejarah. Alquran Wangi merupakan peninggalan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang dibawa dari tanah Arab pada abad ke-13, atau 1235 Masehi. 

Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki 2 orang putra, Malikus Saleh dan Abdul Samad. Abdul Samad menetap di Pidie, dan Alquran itu juga dibawa. Adalah Tgk Chik Adam, putra dari Abdul Samad, yang membawa Alquran Wangi ke Kampung Meugo Rayeuk saat ini.

Alquran dengan panjang 25 centimeter, lebar sekitar 20 centimeter, dengan 30 juz tersebut masih menyimpan misteri. Kemisterian bahan dasar apa yang menyebabkan wangi tak lengkang oleh waktu. 

Menurut penjaga Alquran, kertas Alquran Wangi berasal dari kayu yang dinilai langka dan hanya ada pada masanya. Hingga saat ini, para peneliti yang datang, bahkan sebelum tsunami, belum mampu mengungkap bahan dasar pembuatan Alquran tersebut.

Aroma kertas orisinal yang tidak ditemukan pada kertas hasil olahan pabrik memang belum terungkap. Kisah-kisah keramat menambah keistimewaan Alquran wangi. 


Misalnya, kisah orang yang bersumpah dengan Alquran wangi, tetapi melanggar. Akhirnya, ia menderita berbagai macam penyakit hingga ada yang meninggal. Sebab itulah, kata Tgk Meurah Hasan, tak ada pejabat yang berani sumpah jabatan dengan Alquran wangi.

Bila hendak melihat Alquran wangi, kita harus menempuh jarak 30 kilometer lebih dari ibu kota kabupaten. Selain itu, kita harus melewati jembatan gantung khusus kendaraan roda dua yang bergoyang dan berdentum ketika dilalui. Tentu menambah semangat mengunjugi bagi jiwa petualang. 

Namun demikian, pemerintah daerah harusnya dapat mengelola tempat tersebut lebih baik lagi. Alquran wangi bisa menjadi objek wisata yang dapat menambah PAD. Orang-orang luar Aceh, terutama peminat sejarah maupun muslim pada umumnya, pasti tertarik mengunjungi tempat tersebut.

Selama ini, masyarakat hanya mengetahui Alquran Panton Reu ketika momen tertentu, MTQ misalnya. Padahal Alquran yang ditulis tangan dengan kertas yang wangi tersebut dapat bernilai religi sekaligus ilmu pengetahuan maupun secara ekonomi. Tentu menarik bila dikaji lebih dalam mengapa kertas menghasilkan wangi.

Sejauh ini, buku lama menjadi enak di hidung disebabkan senyawa organik volatil (VOC) yang mudah menguap. Penguapan tersebut terjadi di udara hingga sampai ke hidung. Sementara VOC berasal dari proses terurainya senyawa kimia yang bereaksi terhadap cahaya, panas, dan kelembapan. Ada banyak senyawa organik di dalam bubur kertas, seperti selulosa dan lignin.

Bukan itu saja yang menyebabkan bau buku lama terasa menyenangkan. Proses manufaktur untuk pembuatan setiap lembaran buku dan 'pembundelannya' juga menentukan. 

Aroma VOC bisa membantu menentukan kapan buku itu diproduksi, bagaimana mereka dibuat, dan apakah mereka terpapar asap atau rusak karena air. Bagaimana dengan Alquran Panto Reu yang tidak mengalami proses layaknya buku lama?

Kitab ini hasil ukiran tangan di atas kertas hasil tempahan dari kulit sebuah batang kayu. Tidak ada kejelasan kapan dan di mana Syeh Maulana Malek Ibrahim menulis kitab tersebut. Perkiraan memang usianya lebih dari 700 tahun, akan tetapi tidak ada kejelasan kapan dan di mana beliau menulisnya. Penentuan tempat akan menentukan batang kayu yang digunakan.

Bila prosesnya dilakukan di Aceh, maka besar kemungkinan kayu tersebut masih ada. Menurut saya, problem ini butuh ahli sejarah agar jelas keberadaan batang kayu yang digunakan. Tanpa melalui proses kimiawi seperti lazimnya pembuatan kertas, Alquran Panton Reu patut diteliti. Melalui tulisan singkat ini, kiranya ada pihak yang mampu memuaskan hasrat keingintahuan saya.

Kitab ini merupakan warisan Wali Songo yang terkenal. Khazanah Islam sekaligus sejarah Islam yang mampu mengurai kembali datangnya Islam di Indonesia. Profesi Syeh Maulana Malek Ibrahim yang saat itu sebagai pedagang menimbulkan tanya, apakah benar itu hasil tangan beliau atau ada orang yang lain yang membuatnya?

Pelurusan sejarah pembuatan kitab ini penting. Setidaknya, melalui sejarah pembuatan ukiran tangan yang masih wangi hingga sekarang, itu akan menjawab beberapa soal: bagaimana orang-orang terdahulu memanfaatkan sumber daya alam secara bijak; bagaimana proses pemilihan bahan baku yang bertahan lama sekaligus menebar bau harum. 

Bangsa ini terkadang kurang menghargai sejarah. Banyak peristiwa sejarah yang tidak dijadikan pelajaran apalagi ilmu pengetahuan. Padahal, dengan mempelajari sejarah, bangsa ini dapat menjadi pemenang, termasuk dalam industri kertas. 

Bila Alquran Panton Reu bisa menghadirkan bau wangi tanpa bahan kimia, pastilah bahan bakunya istimewa. Kalau memang bahan bakunya masih tersedia, maka budi daya dapat dilakukan. Tentu saja tugas kita bersama, terutama para peneliti yang disponsori perusahaan industri kertas. Penemuan bahan baku utama kitab ini bukan hanya bermanfaat bagi sejarah, akan tetapi bagi industri kertas.


Menurut saya, banyak kitab klasik lainnya yang dapat pula diteliti. Alquran Panton Reu hanya salah satu yang patut diteliti. 

Namun, dengan bau wangi yang menyapa hidung, kitab ini memang pantas dijadikan prioritas penelitian. Saya agak kecewa dengan pemerintah Aceh maupun universitas-universitas di Aceh yang kurang berminat meneliti lebih lanjut sejarah Alquran Panton Reu. 

Kini kitab tersebut masih tersimpan di rumahnya. Sesekali para pengunjung datang untuk melihat. Kisah yang didapatkan hanya silsilah dari tangan ke tangan kitab tersebut. Narasi bagaimana wangi harum dan bahan bakunya tidak pernah diperbincangkan. Hanya kisah mistis dan misteri yang kita dapat. 

Padahal, yang membuat kitab tersebut istimewa bukan pembawanya. Wangi kitab tersebutlah yang kemudian menjadikannya lebih istimewa. Dalam hal ini, harusnya dapat dinarasikan mengapa, tanpa bahan kimia, Alquran Panton Reu bisa bertahan dan wangi.

Dinas Pariwisata Aceh kiranya dapat menambah daftar destinasi wisata halal di Aceh. Saya kira, dengan keistimewaan yang dimiliki Alquran Panton Reu, akan mampu menarik minat wisatawan. Bila sudah hadir wisatawan, maka gairah ekonomi masyarakat sekitar akan tumbuh. Dengan demikian, keberkahan kitab didapatkan.

Semoga tak lama lagi akan ada penelitian yang komprehensif terkait bahan baku kitab tersebut. Bila perlu, akan dikembangkan bahan baku tersebut sebagai bahan pembuat kertas unggulan. 

Bayangkan bila buku bacaan tanpa parfum berbau wangi, sungguh bertambah nikmat membaca buku. Konten buku penting, namun bau buku juga tak kalah penting. Yuk, berkunjung ke Desa Mugo Rayeuk, Aceh Barat.

Artikel Terkait