Banyak misteri yang tidak terlepas dari Keraton Yogyakarta. Suasana keraton pada suatu hari Minggu terlihat kerumunan wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara memadati destinasi wisata tersebut.

Notabenenya, Keraton Yogyakarta merupakan salah satu ikon budaya yang memiliki koleksi penyimpanan benda-benda pusaka dengan tujuan agar wisatawan dapat melihat dan mempelajari nilai-nilai kebudayaan dan tradisi Jawa, khususnya yang ada di dalam keraton. 

Tidak hanya sebagai wisata sejarah, keraton turut mempertunjukkan koleksi warisan budaya dalam bentuk kesenian yang telah dilestarikan dan dikemas dalam sebuah pertunjukan yang digelar secara rutin setiap hari Minggu. Pertunjukan seni tersebut dinamakan sebagai Pagelaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta.

Pagelaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta dilaksanakan di Plataran Bangsal Sri Manganti yang berfungsi sebagai tempat pementasan kesenian budaya Keraton Yogyakarta. Selain itu, plataran tersebut turut difungsikan sebagai tempat sultan menjamu tamu. 

Setiap harinya, Plataran Bangsa Sri Manganti menampilkan berbagai macam kesenian yang berbeda-beda, seperti Pagelaran Karawitan , Pertunjukan Wayang Golek, dan Macapatan.

Istilah tari klasik tentunya sudah sering terdengar oleh masyarakat umum. Tetapi tari klasik yang ada di keraton ini memiliki corak yang berbeda, mulai dari ciri, bentuk, serta karakter dalam perwujudan tari klasik terkenal dengan halus atau alusan. Hal ini ditandai oleh seorang maupun kelompok penari yang membawakan tarian dengan gerakan lembut dan pelan yang biasanya terlihat pada saat penari menggambarkan wajah yang penuh dengan kebanggaan.

Dalam setiap pagelaran tari klasik, keberadaan seorang penari memiliki peran penting. Pagelaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta biasanya diawali dengan kesakralan alunan musik gamelan yang terdengar sampai telinga pengunjung, seolah-olah terpanggil untuk segera menuju plataran. 

Apakah kalian tahu bahwa penari yang berasal dari luar membawakan tariannya di keraton menjadi status keluarga abdi dalem di keraton? Tentu saja tidak, penari-penari yang ada di keraton tidak sembarang orang. Notabenenya, penari masih memiliki status keluarga darah biru keraton yang bersifat turun-temurun.

Hal tersebut merupakan warisan budaya, mencerminkan keautentikan yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta, mulai dari penjaga tiket masuk keraton, abdi dalem, prajurit, serta penari yang memiliki status keluarga Kesultanan.

Pagelaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta setiap pekannya diperankan oleh berbagai paguyuban, sekolah, sanggar tari, dan universitas yang ada di wilayah Yogyakarta dengan catatan, yang masih memiliki status keluarga Kesultanan di keraton. 

Pada hari Minggu, 15 September 2019, pagelaran tari klasik diisi oleh siswa SMKI Yogyakarta. Para penari akan membawakan empat jenis tarian, yaitu Tari Golek Ayun-Ayun, Tari Klana Alus Cangklek, Tari Klana Raja, dan Tari Beksan Srikandi Suradewati. 

Sebelum pagelaran ini dimulai, di pinggir Plataran Bangsal Sri Manganti, dikerumuni oleh wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yang pada saat itu berkunjung ke keraton. 

Pagelaran Tari Klasik telah dimulai, nuansa makin terasa khidmat dengan nuansa Jawa yang kental, dilengkapi dengan pembawa acara yang berbahasa kromo. Pembawa acara yang ada di sana menggunakan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris untuk memudahkan wisatawan mancanegara ketika melihat pagelaran tersebut.

Penampilan pertama dibuka oleh Tari Golek Ayun-Ayun, merupakan salah satu bentuk tarian tunggal putri gaya Yogyakarta yang diciptakan pada tahun 1976 oleh Romo Sas. Tarian ini menggambarkan gadis yang sedang menginjak masa remaja dan divisualisasikan dalam gerakan menyembah kemudian dilanjutkan dengan gerakan menghias diri agar terlihat cantik. Kemudian diakhiri dengan duduk sembahan. 

Tari Golek Ayun-Ayun ditarikan dengan gerakan yang sangat lembut dan menggambarkan karakter senang sehingga terlihat  sedang menyulam dan bersolek. Ketika siswa SMKI menari Tari Golek Ayun-Ayun, menggunakan kostum rompi bludru sulam emas.

Dengan menggunakan kain yang bercorak parang rusak dan dilengkapi dengan properti lainnya seperti cincin, gelang klana, kalung tanggalan, dan lain-lain. Tari Golek Ayun-Ayun ini ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan di keraton dengan menggunakan iringan gamelan klasik Jawa gending ayun-ayun.

Penampilan dilanjutkan oleh Tari Klana Alus Cangklek, merupakan salah satu bentuk tarian tunggal putra alus gaya Yogyakarta yang diciptakan pada tahun 1976 oleh K.R.T Candraradana. Tarian ini menggambarkan cerita seorang raja dari Kerajaan Parang Teja, Kerajaan Prabu Jungkung Mardya yang sedang jatuh cinta kepada Dewi Wara Srikandi. 

Tari Klana Alus Cangklek ditarikan dengan gerakan maju gending kemudian kiprahan halus melalui ungkapan gerak Muryani Busana kemudian diakhiri dengan mundur gending. Tarian ini diungkapkan sebagai Muryani Busana karena memiliki makna sebagai orang berbusana sambil bersolek. 

Ketika siswa SMKI menari Tari Klana Alus Cangklek menggunakan kostum kain parang dengan celana cindhe merah dan dilengkapi dengan properti lainnya seperti kulitan perhiasan sumping, keris, sabuk, dan lain-lain. 

Tari Klana Alus Cengklek ini biasanya ditampilkan di istana untuk para raja dan menyambut tamu kehormatan di keraton dengan menggunakan iringan gamelan klasik Jawa gending ladrang cangklek.

Antusiasme para wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara dengan wajah gembira melihat Pagelaran Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Mereka mendokumentasikan kegiatan ini mulai dari awal pertunjukkan gamelan hingga tarian akhir yang ditutup dengan gamelan juga. 

Gerakan tarian yang ditampilkan secara umum sangat lembut dan terlihat memukau. Siswa SMKI Yogyakarta menampilkan tarian dengan ekspresi senyum sehingga terlihat sedang menggambarkan bentuk karakter tokoh seseorang. 

Namun, penulis saat melihatnya tidak merasa bosan karena setiap pergantian tarian, diiringi intro musik gamelan yang berbeda-beda. Kostum yang dikenakan penari juga sangat rapi dengan riasan penari yang dapat memanjakan mata wisatawan ketika melihatnya.

Eksistensi pagelaran Tari Klasik ini merupakan seni tari yang terhormat di Keraton Yogyakarta karena awal mula tarian dibentuk melalui sejarah Kesultanan Yogyakarta yang dapat menyatu dengan dinamika kehidupan Kesultanan di keraton sehingga dapat menjadikan sebagai pegangan hidup para pelakunya. 

Mulai dari gerakan kepala, tangan, badan, dan kaki memiliki makna dan filosofi tertentu. Dalam pemakaian gamelan dan pakaian turut memiliki aturan-aturan yang diterapkan pada tradisi kebudayaan di keraton. Hal tersebut menjadikan Keraton Yogyakarta yang dari dulu hingga sekarang masih terjaga orisinalitasnya .