Jika kita menyatakan bahwa perempuan adalah makhluk setengah jadi atau makhluk yang tidak sempurna sebagaimana ungkapan seorang filsuf Yunani, maka kita akan menjadi musuh besar kaum feminis. Kata yang paling cocok dinobatkan kepada mereka adalah makhluk yang berkebutuhan khusus.

Karena pada esensinya, kebutuhan mereka lebih banyak dan tergolong sangat ribet dibandingkan lelaki. Walaupun ada kesamaan antara kebutuhan lelaki dan perempuan, semua itu terdapat hanya pada yang bersifat umum. 

Jika kita komparasikan antara lelaki dan perempuan dengan sedikit lebih mendalam, maka kita akan dikagetkan bahwa bukan hanya dari segi material, tetapi dari segi emosional dan spiritual perempuan mendapatkan perlakuan khusus.

Karena kekhususannya tersebut, banyak yang mencoba memahami dan mengenal perempuan. Kendati demikian, sejauh ini belum ada yang mengatakan bahwa mereka telah memahami dan mengenal perempuan dengan segala seluk-beluknya. Sungguh, makhluk yang paling sulit dipahami dan dimengerti di muka bumi ini adalah perempuan.

Karena memahami dan memngenal perempuan hampir sama sulitnya dengan memahami dan menganal Tuhan. Hal ini tentunya bukan karena semata-mata perempuan terlampau rumit, tetapi juga mereka begitu istimewa dan unik. Oleh karena itu, tidak sedikit lelaki yang sangat kebingungan memilih cara-cara yang tepat dan benar di mata dalam memperlakukan perempuan.

Perempuan dengan perasaan dan emosinya dikatakan sebagai makhluk dzu wujuh (makhluk dengan berbagai wajah/ganda). Pada satu wajah tersimpan keindahan dan kemuliaan dan pada wajah yang lain tersimpan ancaman dan bahaya yang begitu besar.

Karena itu, tidak heran jika secara mendadak perubahan emosional perempuan sering kita jumpai kapan dan di mana pun, karena kehadirannya tidak mengenal tempat dan waktu. Pada bagain wajah yang menyimpan keindahan dan kemuliaan, perempuan menjadi incaran utama para lelaki sebagai harta yang paling berharga di alam semesta ini.

Sementara pada bagain wajah yang menyimpan ancaman dan bahaya, perempuan adalah musuh lelaki dan dunia. Hal ini tentu dengan melihat bagaimana dampak dari bahaya yang meraka timbulkan. Dalam terminan lain, perempuan dikatakan sebagai al-mar’ah yang identik dengan cermin (Mir’ah).

Karena identik dengan cermin, maka apa pun yang kita perbuat di depan perempuan, seperti itu juga bayangan yang akan muncul. Jadi, seperti apa pun yang kita lakukan terhadap perempuan, seperti itulah perempuan akan memperlakukan kita.

Perempuan dalam Sejarah

Dalam perkembangan sejarah hidup manusia, rasanya tidak akan sempurna untuk dibicarakan tanpa mengikutsertakan perempuan. Jatuh-bangunnya sebuah peradaban yang dilalui oleh manusia sepanjang sejarah kehidupan ini sebagian besarnya diperankan oleh perempuan. Bahkan jatuhnya sifat kemanusiaan manusia pertama (Adam) juga terdapat peran perempuan.

Dengan berkaca pada kasus Adam, tidak sedikit literatur dalam sejarah klasik menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan dipandang remeh dari lelaki. Dalam filsafat Yunani misalnya, memandang perempuan sebagai pembawa segala keburukan dan kerusakan dalam kehidupan. Sehingga mereka sering dikatakan sebagai makhluk yang terkutuk.

Seiring dengan perkembangan sejarah, perempuan mulai diterima sebagai makhluk yang sangat dibutuhkan oleh lelaki. Tanpa perempuan, kehidupan lelaki sendiri tidak akan sempurna. Lelaki tak ubahnya akan menjadi seperti makhluk yang pincang di perantara semesta ini. Dengan menyadari hal ini, perlakuan terhadap perempuan mengalami pergeseran yang signifikan.

Perempuan yang semula sering dipandang rendah dan diremehkan, sedikit demi sedikit mulai diberikan ruang untuk mereka bereksistensi. Terutama dalam Islam, pada awal munculnya, menaruh perhatian khusus kepada perempuan. Perempuan yang semula dianggap sebagai malapetaka dan bencana, bahkan aib bagi keluarga, mulai dimuliakan.

Uniknya lagi, dalam doktrinagama Islam (Alquran), Allah menaruh perhatian khusus kepada perempuan dengan menamai satu surat dari nama panggilan mereka, yaitu An-Nisa. Hal ini seharusnya menjadi suatu persitiwa yang dapat membuka mata dan kesadaran kita (lelaki) agar memperlakukan perempuan sebagaimana mestinya.

Selain itu, dalam sabda kenabian mengatakan, "Tidaklah mulia seorang lelaki kecuali dia memuliakan perempuan." Sungguh keistimewaan tersendiri bagi perempuan. Ketika tidak ada doktrin agama yang memberikan perhatian khusus kepada kaum lelaki, perempuan malah mendapatkannya.

Di luar daripada perkembangan Islam, di Prancis pada abad ke-18 sampai awal abad ke-20, perempuan mulai menyuarakan kesetaraan serta kebebasan dalam pilihan politik. Sehingga perempuan yang semula dipandang sebagai makhluk yang tidak punya hak bahkan dalam bersuara mulai diberikan ruang.

Hal ini menjadi gerakan feminisme gelombang pertama yang tercatat dalam sejarah. Menyusul kemudian gelombang kedua sekitar 1960-an sampai 1970-an yang secara khusus menuntut kesetaran antara perempuan dan lelaki dalam karier dan pekerjaan.

Sampai pada awal 2000 atau gelombang ketiga, perempuan menyuarakan untuk mendapatkan hak yang sama dengan lelaki pada lingkungan sosial (Dunia Filsafat-Ledalero: Feminisme). Pada gelombang yang mutakhir ini, tidak hanya pilihan politik, karier dan pekerjaan menjadi tuntutan feminisme.

Olahrga yang semula biasa dilakukan oleh lelaki juga dilakukan oleh perempuan. Sebagai contoh ialah tinju, sepak bola, berkuda, dan masih banyak lainnya yang pada esensinya sesuai dengan tenaga serta fisik lelaki menjadi permainan pada keseharian para perempuan.

Hingga akhirnya berujung pada kesamaan mutlak antara kodrat dan kemanusiaan lelaki dan perempuan. Sekarang di era 5.0, entah misteri apa lagi yang akan dihadirkan oleh perempuan> Ataukah perjalanan sejarah kehidupan manusia akan terbalik di mana perempuan sebagai pemimpinnya?