Terbunuhnya  bocah lima tahun di Sawah Besar mengegerkan berbagai media tanah air. Betapa tidak, kejadian itu berkutat di antara seorang anak, antara pelaku dan korban. Pembunuhnya dilakukan oleh remaja SMP berinisial NF yang masih berusia 15 tahun dan korbannya masih berusia 5 tahun.

Dari awal kasus ini diungkap, polisi mengatakan bahwa alasan NF membunuh bocah 5 tahun karena terinspirasi dari film horror di YouTube dan juga video di WhatsApp. Uniknya dari kasus ini yaitu NF menyerahkan diri ke Polsek Tamansari tanpa merasa menyesal sedikit pun telah membunuh bocah 5 tahun.

Menelisik kasus ini, kita menjadi teringat dengan pendapat Edwin H. Sutherland, yaitu Criminology is the body of knowledge regarding delinquency and crime as social phenomena. Dikatakan oleh Sutherland bahwa kriminologi adalah kumpulan pengetahuan yang membahas kenakalan remaja dan kejahatan sebagai gejala sosial.

Di sini yang menarik adalah Sutherland langsung mendefinisikan sebuah objek remaja. Mungkin dia ingin menekankan bahwa banyak terjadi sebuah fenomena baru atau hal-hal di luar nalar yang dilakukan oleh seorang remaja, termasuk anak dalam melakukan tindakan atau motif kejahatan.

Dalam penyelidikan terhadap pelaku, polisi menemukan beberapa curhatan NF di dalam buku bersampul motif batik. Isi dari curhatan pelaku tersebut berisi "Please dad...don't make me mad, if you not want death. I will make you go to grave". Kemudian ada coretan lainnya, "My dad is my crush, I want to leave my dad or my dad is death".

Tak hanya ada tentang curhatan tentang daddy-nya, pelaku juga menggambar sketsa wanita yang sedang terikat.

Polisi beranggapan bahwa yang pelaku tulis ialah tentang daddy yang pada umumnya menggambarkan tentang sosok ayah kandungnya. Namun, siapa sangka jika daddy yang pelaku tulis tidak ada hubungannya dengan ayah kandungnya sama sekali.

Dalam hal ini, yang perlu diketahui oleh polisi adalah perkembangan komunikasi anak era sekarang. Tidak sedikit hubungan sahabat atau bahkan pacar dalam komunikasi keseharian terbiasa menggunakan panggilan layaknya suami-istri.

Maka dugaan penulis adalah bahwa sosok yang dipanggil daddy ini adalah sosok hidden yang sering diajak curhat atau bahkan sosok yang mampu menginspirasi pelaku.

Karakter NF dalam Keseharian

Dari data yang penulis dapat melalui akun Twitter (@gudogud), NF adalah seseorang yang masokis. Kemudian dari akun Twitter (@tumpahteh), pelaku merupakan remaja yang suka dengan berbagai budaya yang ada di Jepang. Dapat dilihat dari akun Facebook yang menggunakan foto anime di foto profil akunnya.

Kemudian NF juga gemar mengikuti cosplay Jepang. Tanggapan dari para tetangga NF pun melihat NF adalah remaja yang jarang main keluar rumah. Warga sekitar hanya melihat si NF ketika berangkat dan pulang sekolah.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Abdillah dan Nuhafifah yang berjudul Tinjauan Kriminologis terhadap Penyebab Anak Melakukan Tindak Pidana Pembunuhan Berencana (diakses melalui internet pada 19 April 2020), menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak melakukan tindak pidana adalah faktor emosi, faktor agama, faktor keluarga, dan faktor lingkungan

Misteri Sosok Daddy dalam Curhatan Pelaku

Ada fakta mengejutkan di balik tulisan daddy yang pelaku tulis di bukunya, yaitu sosok daddy tersebut bukanlah ayah dari si pelaku, melainkan daddy tersebut ialah sang kekasihnya.

Dalam sebuah utas yang dibuat oleh akun (@gudogud) di Twitter, banyak fakta mengejutkan di balik kasus pembunuhan anak yang dilakukan NF.

Ternyata, si NF adalah sosok remaja yang masokis. Dia gemar memasokis dan dipasokis oleh kekasihnya, seperti tangan dan kakinya diikat lalu pahanya ditampar.

Dari hasil pemeriksaan polisi, motif pembunuhan yang ditemukan adalah karena terinspirasi sebuah film horror ‘Chucky’. Jika mendasarkan ini, maka gabungan latar belakang pembunuhan adalah lingkungan dan emosi.

Lingkungan dibentuk oleh hobi melihat film horor yang berisi perbuatan sadisme dan pembunuhan yang akhirnya memengaruhi emosi kejiwaan pelaku. Jadi, di era modern, motif kejahatan, apalagi yang pelakunya seorang anak, tidak lagi motif tunggal namun gabungan, seiring dengan perkembangan jiwa anak.

Tentu hal itu dapat mengundang spekulasi lama terkuak kembali, yaitu pengaruh film terhadap psikologi anak. Masa remaja adalah masa di mana mencari jati diri. Sehingga, dari sebuah film dapat memengaruhi gaya hidup atau psikis pada remaja yang membuat mereka melenceng dari aturan sosial yang sudah ada.

Penulis berpendapat bahwa polisi perlu mengembangkan kasus ini dengan menemukan sosok ‘daddy’ sehingga akan terkuak kemungkinan adanya aktor intelektual, inspiratory atau pihak lain yang dapat disebut pleigend (ikut sertanya seseorang dalam perbuatan kejahatan).

Mengingat pelaku dan korban adalah anak, maka negara dalam hal ini harus hadir secara utuh, kondisinya harus dilindungi karena amanat UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pendapat penulis terhadap kejahatan pembunuhan yang melibatkan anak sangat penting untuk ditemukan dan diungkap secara tuntas sehingga strategi menentukan langkah preventif, strategi pembinaan anak, termasuk strategi pembinaan hukum anak menjadi terintegrasi dan utuh.

Yang sangat penting ditemukan penyebab fundamental adalah ‘benarkah satu-satunya alasan NF melakukan pembunuhan itu karena terinspirasi film horor’?

Terhadap kejahatan yang dilakukan orang dewasa dapatlah pengertian ‘kepastian hukumnya’ diwujudkan melalui telah dihukumnya si pelaku. Namun anak dalam hal ini adalah remaja yang merupakan generasi penerus bangsa. Maka perkembangan kejiwaan anak itu harus tetap mendapatkan perhatian.

Jika memang film membawa pengaruh yang buruk, jangan sampai membiarkan masalah ini terus terjadi. Maka dari itu, pengawasan orang tua terhadap apa saja yang ditonton anak-anak di rumah adalah hal yang penting.

Perspektif dalam kasus ini, penulis dapat menyampaikan beberapa hal, yaitu:

1. Terdapatnya asas ‘cogitationis poenam nemo patitur’ secara bebas diartikan bahwa tidak ada seorang pun dapat dihukum atas apa yang ia pikirkan. Asas ini merupakan prinsip hukum yang sangat umum.

Maka akan sangat tampak adanya kondisi yang kontraproduktif, yaitu di sisi lain terdapat anak yang kehilangan nyawa di sisi lain pelakunya mendasarkan motif karena pengaruh pikiran (dari sebuah film) dengan keadaan pelaku yang tidak mungkin dijatuhi hukuman pidana selayaknya orang dewasa.

Jika permasalahan ini tidak diungkap tuntas dalam proses peradilannya, maka akan sangat banyak fenomena di masa mendatang berbagai macam kejahatan akan dilakukan oleh anak. Dalam hal ini, sifat hukum haruslah predicable, yaitu memiliki daya jangkau ke depan

2. Membicarakan peran lingkungan, maka terdapat 3 peranan elemen, yaitu peran keluarga, peran sekolah, dan peranan luar sekolah. Dalam perkembangan remaja, terutama orang tua sangat dibutuhkan oleh anak guna memberikan pemahaman tentang hal-hal apa saja yang patut dan tidak ditiru.

Berawal dengan mengedukasi anak, nantinya anak dapat menyaring dengan sendirinya dari apa yang mereka lihat dari film yang ditontonnya. Sedikitnya waktu komunikasi antara orang tua dan anak di rumah sangat rentan mengendalikan dan menjaga perkembangan jiwa anak, apalagi jika faktor luar sekolah sangat kuat memengaruhi dan jarang terpantau oleh peran keluarga dan sekolah.

3. ‘sosok daddy’ menjadi strategis untuk digali dan diungkap dalam kasus ini, karena akan banyak ‘daddy-daddy’ lain yang bergentanyangan dengan berbagai alasan eksperimen mereka karena mereka tidak terungkap dan dianggap bukan penyebab langsung atas hilangnya nyawa seseorang.

Hal ini sejalan dengan teori struktural terfokus pada cara masyarakat diorganisasikan dan dampak dari tingkah laku.

Teori struktural juga lazim disebut StrainTheories karena, “Their assumption that a disorganized society creates strain which leads to deviant behavior”. Tegasnya, asumsi dasarnya adalah masyarakat yang menciptakan ketegangan dan dapat mengarah pada tingkah laku menyimpang. Dan masyarakat itu salah satunya adalah ‘sosok daddy’.