Pada tahun 2014, data WHO merilis hasil penelitian mereka di mana secara global, setiap tahunnya lebih dari 800.000 orang meninggal karena bunuh diri, atau 1 kematian setiap 40 detik. Angka ini berdasar penelitian selama 10 tahun di 172 negara (beritasatu.com).

Itu berarti pada tahun ini, empat tahun kemudian, jumlah kasus kematian, baik yang wajar maupun yang tidak wajar, tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Randy Alcorn menulis, “Tiga orang mati setiap detik, 180 orang setiap menit, dan hampir 11.000 orang mati setiap jam” (Ron Rhodes; 2013, 15-16). Berarti pada saat Anda membaca tulisan ini, terdapat ratusan orang telah mati di luar sana, dan entah ke mana mereka pergi.

Fakta mengenai kematian memang begitu dekat dengan kehidupan manusia, namun pada umumnya manusia tidak ingin membicarakan tema tersebut. Ketika mulai menulis ide dalam tema ini, seorang Rekan kerja memberi respons dengan nada yang sedikit ngeri, “ngapain nulis tentang kematian... hati-hati loh”. Respons tersebut mewakili kecenderungan manusia modern saat ini. 

Manusia memang lebih cenderung untuk memilih berbicara mengenai kehidupan, meskipun pahit, sulit, dan menderita. Perhatikan saja iklan-iklan yang populer saat ini, sebagian besar dari produk-produk tersebut menawarkan hal-hal yang menyangkut beragam cara agar manusia dapat terus sehat, bugar, awet muda, dan panjang umur. 

Perhatikan juga setiap doa dan ucapan yang disampaikan bagi mereka yang berulang tahun, semuanya berkaitan dengan harapan umur panjang dan kebahagiaan di dunia ini. Hal tersebut tentu tidak keliru, namun secara implisit di sisi lain hal ini justru membuktikan suatu bentuk ketakutan manusia terhadap fakta kematian. 

Pada dasarnya kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa betapa sering pun kita berolahraga, berapa banyak vitamin atau makanan sehat yang kita santap, betapa pun normalnya tekanan darah serta rendahnya kadar kolesterol dalam darah kita, suatu saat kita pasti akan mati. Kahlil Gibran menulis suatu bait puisi mengenai isu tersebut dengan kalimat yang sangat baik:

“Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk mati tidak harus tua. Jangan terperdaya dengan badan yang sehat, karena syarat untuk mati pula tidak harus sakit” (Kahlil Gibran dalam William Wiguna; 2015, 29). 

Dalam bukunya, Tanatologi, I.G. Indra, juga menegaskan hal serupa. Ia menulis, “kematian telah terukir di wajah semua yang hidup. Saat ketika kita memulai kehidupan, sesungguhnya kita memulai kematian. Kabar kelahiran seorang bayi manusia berarti tanda penggalian sebuah kubur yang baru” (Ichwei G. Indra; 2016, 109). 

Seperti hari kelahiran kita yang dirayakan dengan senyuman, hari kematian kita pun akan diperingati dengan air mata. Kematian datang secara tiba-tiba dalam hidup manusia dan menghentikan semua kehebatan, kegagahan, kecantikan, dan semua pencapaian dalam hidupnya. Kematian juga menjumpai semua manusia tanpa kecuali—baik anak-anak, remaja, orang tua, kaya—miskin, yang sakit, maupun yang sehat, bahkan dokter yang paling hebat sekalipun.

Kematian Sebagai Misteri

Rhodes mengungkap misteri kematian dengan satu kisah klasik yang menyentuh. Filsuf besar, Diogenes, sedang memperhatikan dengan seksama koleksi besar dari tulang-tulang manusia yang bertumpukan satu dengan yang lain. Sesaat kemudian Aleksander Agung mendekat dan bertanya kepadanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"

Diogenes menjawab, “Aku sedang mencari tulang-tulang ayahmu, tetapi tampaknya aku tidak bisa membedakan tulang-tulangnya dari tulang-tulang para budak.” 

Seketika itu juga Aleksander mengerti maksud dari perkataan itu, “Semua manusia sama di hadapan kematian” (Ron Rhodes; 2013, 15-16). Demikianlah nasib manusia di hadapan kematian. Kematian tidak mengenal belas kasih, ia menjumpai siapa saja, dan di mana saja, siap ataupun tidak.

Berbicara mengenai kematian berarti berbicara mengenai misteri Ilahi. Misteri ini memaksa semua manusia untuk mencari suatu pegangan hidup. Untuk menjawab hal tersebut, manusia modern biasanya memilih untuk bersandar pada dua hal: pertama, melalui agama; dan kedua, melalui sains. 

Agama-agama besar Asia Timur memandang kematian sebagai gerbang reinkarnasi menuju perputaran roda kehidupan berikutnya di dunia. Sedangkan agama-agama Asia Barat (kelompok Semitik) memandang kematian sebagai akhir dari kehidupan fana menuju kehidupan kekal di alam baka. 

Berbeda dengan kedua kelompok tersebut, kalangan saintisme yang berpaut pada keyakinan sains modern memandang kematian sebagai suatu keadaan di mana berhentinya reaksi biokimia dalam tubuh manusia. Sehingga, seperti halnya hewan (keyakinan evolusionisme materialistik), manusia mengalami kematian, dan semuanya berakhir. Tidak ada pengharapan dan kehidupan apa pun di luar sana setelah kematian (Ichwei G. Indra; 2016, 39). 

Sementara filsafat memiliki jawaban yang berbeda pula. Kaum eksistensial lebih memaknai kematian sebagai suatu momen. 

Sejak kematian dihidupkan dalam percakapan filsafat, ia bernafas dengan memanfaatkan tabung udara eksistensialisme. Dengan peralatan ini, kematian menolak untuk menjadi monumen, dan memilih menjadi momen, yaitu momen reinterpretasi kehidupan (Rocky Gerung dalam M. Damm; 2011, xii). 

Filsafat mengolah kecenderungan antropologi dan sosiologi untuk menolak kematian sebagai akhir dari eksistensi manusia. Karena pada dasarnya, teladan, ide, dan karya mereka yang telah mati masih tetap eksis dalam kenangan mereka yang hidup. 

Tentu saja ada kebenaran dalam pernyataan ini. Namun hal tersebut lebih terlihat sebagai suatu pembelaan yang bertepuk sebelah tangan. Karena definisi dari kehidupan sejati itu sendiri harus meliputi kelengkapan antara unsur materi dan non-materi dari seorang manusia.

Beberapa bulan lalu, penulis sempat berkunjung ke rumah salah seorang sahabat. Di tengah perbincangan, ia kemudian mengatakan satu kalimat yang membuat oenulis terkejut. Ia mengatakan bahwa “surga dan neraka tidaklah ada; keduanya merupakan hasil imajinasi manusia semata”.

Ia kemudian melanjutkan dengan suatu pertanyaan retoris yang menjadi dasar presuposisinya, “Iya dong, memangnya siapa yang pernah ke syrga atau ke neraka, sehingga hal tersebut menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan secara faktual? Belum pernah ada, kan?”

Penulis terkejut bukan karena pernyataannya tersebut (argumentasi demikian merupakan argumentasi klasik abad ke-19 dari para penganut ateis yang berdasar pada kajian empirisisme), namun justru karena ia adalah salah seorang sahabat yang dahulu juga sering melakukan beberapa kegiatan pelayanan gerejawi bersama. 

Hal ini membuktikan bahwa ternyata di dalam lingkungan generasi muda gereja sekalipun terdapat pemikiran-pemikiran skeptis dan liberal yang sudah berkembang dengan sangat liar. Pemikiran tersebut secara tidak langsung mengonfirmasikan pengharapannya yang sangat mirip dengan cara pandang para ateis.

Artinya, jika surga dan nereka tidak dapat dikonfirmasikan melalui fakta empiris, maka Tuhan pun demikian, karena tidak dapat dibuktikan secara kasat mata. Dengan demikian, tidak ada pengharapan setelah kematian, karena setelah mati tidak ada kehidupan berikutnya di alam baka. Sangat menyedihkan.

Blaise Pascal (1623-1662) dalam salah satu karyanya, “Pensees”, pernah membuat tanggapan bagi kalangan skeptis dan ateis mengenai hal ini dengan mengajukan semacam taruhan iman. Ia mengatakan bahwa “jika keberadaan Tuhan tidak dapat dipercaya, seseorang harus bertaruh bahwa Tuhan itu ada, karena kita tidak akan kehilangan apa pun jika kita hidup sesuai dengan perintah-Nya”. 

Pascal ingin menegaskan bahwa ketika Anda meyakini bahwa Tuhan itu ada dan Anda hidup sesuai kehendak-Nya, maka pada saat Anda mati dan ternyata Ia memang ada, maka tentu saja Anda akan beruntung dan tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, jika memang Tuhan tidak ada, maka ketika Anda mati, Anda pun tidak rugi sesuatu apa pun. Malah sebaliknya, ketekunan dan karya Anda di dunia akan dikenang dan menjadi teladan serta inspirasi bagi banyak orang.

Tentu saja bagi sebagian orang tanggapan Pascal hanya dipandang sebelah mata. Namun perhatikan, apa pun jawaban dan keyakinan yang Anda dipilih (agama, bahkan ateis sekalipun), tidak akan menyingkirkan fakta bahwa “konsekuensi dari kehidupan adalah kematian”. 

Cepat atau lambat, semua yang hidup pasti akan mati, termasuk saudara dan daya. Di sini keyakinan yang saudara pilih menjadi penentu arah dari tujuan akhir kehidupan Anda. Namun tentu saja semua pilihan mengandung konsekurnsi. Karena dari semua pilihan yang ada (keyakinan agama dan sains, atau atheisme), tentu saja hanya terdapat satu kebenaran tunggal—dalam hal ini semua orang yang mati hanya akan pergi ke suatu tempat, entah surga atau nerakanya umat Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau bahkan kehampaan ateis. 

Dan ke manakah kita akan pergi setelah mati, tidak ada yang tahu. Hal ini bagaikan kegelapan pekat yang tidak dapat ditembus oleh pencapaian umat manusia modern. Untuk itu satu pertanyaan serius yang perlu kita ajukan adalah, sudah siapkah kita?

“Kematian mengonfirmasi bahwa betapa rapuhnya kita, pencapaian kita, dan kebanggaan kita, serta betapa seriusnya hidup yang harus dijalani.”