Peneliti
8 bulan lalu · 227 view · 5 menit baca · Cerpen 29895_78258.jpg
Foto: nikmatinaja.com

Misteri Karangan Cerita Pendek

Tiba-tiba aku sudah berada di rumah. Itu suatu malam. Orang-orang sudah banyak yang lenyap dalam tidur mereka. Kampung ini, jam 21.00 atau di atasnya adalah kampung yang sudah mati. Satu-satunya yang berkeliaran di sekitar rumah adalah desiran angin. Gelapnya malam. Roh-roh halus yang sebagian besar menempel di benak para warga kampung. 

Aku tak benar-benar yakin dengan cerita-cerita mistis. Tapi dalam hati yang paling dalam, tak ada hal lain yang menghuni selain ketakutan yang diam-diam.

Tapi malam itu nenekku membuat aku penasaran dan bercerita tentang tetanggaku yang meninggal dunia siang tadi.

“Tetangga yang meninggal tadi sore meninggalkan karangan sebuah cerita pendek. Tentu tak banyak yang tahu. Tapi nenek tahu itu,” kata nenekku yang duduk di sampingku sembari membelai rambutku.

 “Sungguh, Nek?” selidikku dengan rasa penasaran. Aku yang berbaring berbantal paha nenek tak dapat melihat jelas raut wajahnya. Penerang di rumahku hanya sebuah damar kecil. Tak ada lampu listrik. Pijar api kecil itu tak cukup terang.

“Iya. Sungguh!” nenek meyakinkanku.

Aku tak dapat menahan lagi penasaran ini. Aku mohon pamit sama nenek. Aku berangkat ke rumah almarhum menembus malam. Melewati jalan-jalan kecil yang diapit pohon-pohon besar. Tak ada lampu penerang. Tapi aku anak kampung yang sudah lama hidup di antara minimnya lampu penerang. 

Aku berjalan dengan cepat tanpa sedikit pun kaki tergelincir. Kedua kakiku seolah bergerak dengan baik. Terlatih bertahun-tahun menelusuri jalan-jalan yang gelap.

Menempuh sekitar satu kilometer – mungkin juga lebih – aku sudah mendapati diriku berdiri di ujung timur halaman rumah yang aku tuju. Mataku segera tertarik ke segerombolan anak muda yang entah sedang apa berkumpul di rumah berdinding anyaman bambu milik almarhum yang berada di ujung timur. Rumah itu berjarak sekitar seratus langkah dari tempatku berdiri terdiam.

Setelah beberapa saat, segalanya menjadi jelas. Mereka adalah teman-temanku sendiri yang kukenal akrab. Tapi aku masih belum tahu mengapa mereka berkumpul di rumah paling timur itu. Sementara lokasi utama tempat tahlil dan tempat orang-orang banyak berkumpul justru berada di ujung barat halaman. Tepatnya di sebuah surau. Sejak kecil aku menyebutnya langgar.

“Kalian ngapain di situ?”

Teman-teman melihat kedatanganku. Segera juga aku tertarik ke arah mereka. Rupanya tak ada yang menarik. Mereka hanya duduk dan sesekali mengobrol hal-hal keseharian mereka yang di sela-sela itu memicu tawa. Sungguh aku tak tertarik. Di benakku hanya ada satu hal. Aku ingin membuktikan cerita nenek kalau tetangga yang meninggal itu meninggalkan karangan cerita pendek.

“Lukman, apa benar nenekmu meninggalkan sebuah karangan cerita pendek?”

Lukman – cucu dari almarhum – mengerutkan keningnya. Mungkin dia berpikir bagaimana aku bisa tahu kalau ada tulisan yang ditinggalkan neneknya yang dia sendiri juga belum tahu apakah itu sejenis karangan yang aku maksud. Dia tidak mengangguk. Tapi aku melihat dia berdiri, masuk ke kamarnya dan dalam sebentar keluar lagi membawa beberapa lembar kertas. Segera aku lihat isinya: sebuah tulisan yang terdiri dari sekian paragraf.

Mungkin ini yang dimaksud nenek sebagai karangan, pikirku dalam hati. Selintas aku mendapat kesan bahwa tulisan itu memang sebuah karangan. Oh bukan! Mungkin sebuah pengakuan yang ditulis dengan gaya seorang pengarang, aku coba menebak-nebak. 

Oh, mungkin juga bukan. Mungkin dia seorang yang suka mengarang dan menulisnya seolah-olah sebagai pengakuan. Aku tak berani mengatakan apakah ini sekadar sebuah karangan atau memang sebuah pengakuan.

“Mungkin ini yang kamu maksud nenekku meninggalkan karangan. Dia hanya meninggalkan tulisan itu. Dia tidak pernah berpesan apa-apa. Aku hanya menemukannya dan aku menyimpannya.”

Teman-teman tiba-tiba saja sudah mengerubungi kami. Mereka meninggalkan obrolan semula yang memang menurutku tak menarik. Seluruh mata mereka kini tertuju pada lembaran kertas yang berada di tanganku. Mungkin juga seluruh telinga mereka sekarang siap mendengarkan apa yang bakal kami obrolkan lebih jauh tentang tulisan itu.

Dalam sekian menit, telinga mereka telah mengumpulkan sedikit pengetahuan dari perbincangan kami. Pertama, mereka telah mendengar kalau aku punya kepentingan untuk mengetahui benar tidaknya nenek Lukman adalah seorang pengarang. 

Kedua, mereka telah mendengar dan melihat karangan itu tak lain adalah dua lembar kertas yang berisi tulisan tangan. Dan kini mereka mendesakku untuk melanjutkan langkah yang ketiga. Mereka penasaran apa sebenarnya isi dari tulisan itu?

Lukman tak dapat merahasiakan lembaran itu setelah dikerubungi mereka. Aku tak dapat mencegah mereka yang mendesakku untuk membacakan agar mereka semua tau.

“Bagaimana, Luk?” aku memandang mata Lukman meminta persetujuan. Lukman mengangguk. Aku anggap dia mengiyakan. Aku memulainya.

*

Suatu malam nenek itu terbaring di sebuah ruangan di rumah sakit di Jakarta. Tulisan itu tak menyebutnya secara detail rumah sakit apa dan ruang berapa. Dia hanya menyebut Blok M. Aku tak tahu apa benar ada rumah sakit di daerah blok M. Tapi orang kampung ini – yang karena kebutuhan mendesak untuk operasi tumornya ini, dan yang akhirnya berada di Jakarta, dan itu juga karena desakan dari tetangga-tetangganya yang peduli melalui sumbangan sukarela yang dikumpulkan agar tumor ganas di badannya itu diangkat – hanya menyebut blok M tanpa detail.

Begini penggalan karangan itu:

Seluruh hubunganku dengan orang-orang di luar akan terbatasi untuk sekian waktu. Terputus. 

Mataku nanti akan terpejam tak dapat melihat apa-apa. Mulutku nanti tertutup tak dapat berbicara dengan mereka. Seluruh kesadaranku akan lenyap sama sekali. Dalam keadaan itu, proses dari pengangkatan penyakit dari tubuhku akan berlangsung.

Sebagai orang kampung, aku membayangkan nanti bagian dari badanku akan dikerat-kerat, dirobek-robek, dilubangi dengan menggunakan peralatan tertentu. Aku mendengar dari cerita tetanggaku yang juga mendengar dari cerita tetangga-tetangga lainnya bahwa begitulah prosesnya. Itu yang dilakukan untuk mengangkat penyakit tumor yang katanya berada di dalam tubuhku.

Aku tak tahu persisnya alat-alat yang digunakan untuk melubangi tubuhku itu. Sejak kecil dulu, aku tak pernah mendengar penyakit ini dan pengobatan seperti ini. Orang-orang di kampung melewati siklus hidup secara sederhana: lahir, tumbuh dan bertambah umur dalam beberapa waktu lalu mati.

Tak ada upaya-upaya untuk mencegahnya. Memang ada dukun-dukun tradisional. Dan kepada mereka, yang sakit berdatangan. Ada yang sembuh. Ada yang tetap mati. 

Tapi aku adalah satu dari warga kampung yang melewati proses penting dalam upaya menunda kematian. Zaman terus maju. Orang-orang makin pandai menunda kematian. Berbagai hal dilakukan untuk memperpanjang kehidupan. 

Aku yakin kampungku juga akan terus maju. Nanti orang-orang makin banyak yang merasakan kemajuan zaman. Yang tertinggal sebagai bagian dari masa lalu akan terus tertinggal dan tenggelam oleh waktu.

Kami penasaran benarkah ini ditulis oleh neneknya Lukman. Aku sendiri diam-diam tidak percaya kalau ini hasil karangan atau pengakuan darinya. Kampung kami baru mendapatkan pendidikan secara lebih layak pada era generasi kami. Sekolah-sekolah mulai digalakkan di mana-mana di era kami. Sebelum itu, tak ada cerita tentang sekolah. Generasi dari nenek Lukman, begitu juga nenekku, adalah generasi yang lahir, tumbuh dewasa dan menikah. Lalu menjadi petani yang baik.

Siapa pengarangnya? Pertanyaan itu akhirnya menjadi teka-teki belaka.

Ketidakpercayaan kami biar tersimpan saja. Kami seolah terdorong oleh kekuatan gaib untuk membenarkan saja kalau itu karangan atau pengakuan dari neneknya Lukman. Tapi segera kami dilanda rasa takut malam itu. Mula-mula aku bercerita tentang roh-roh halus dari orang yang mati. Dia bisa berdiri di mana-mana di antara kita, mengamati dan menguping pembicaraan kita. Sesekali menampakkan diri dan kita dapat melihatnya. 

Kami semakin takut. Cerita-cerita nenek dan orang-orang tua benar-benar seolah bergentayangan mengisi benak kami. Lalu seperti dorongan gaib, kami lari menuju orang-orang yang berkumpul di langgar.