Entah mengapa aku sering merasakan keberadaan seseorang di dekatku. Kau tahu, seperti saat kita berdua dengan orang lain dan tanpa sadar kita mulai menjaga sikap.

Seseorang itu terasa begitu dekatnya denganku. Ia bagaikan sedang memeluk lenganku, atau menggelayut di betisku – terkadang seperti menjambak rambutku.

Yang paling sering, ia menggantungkan tubuhnya di punggungku seperti bocah yang minta di gendong. Hal-hal semrawut semacam itu acapkali kudapati kalau sedang ingat-ingatnya. 

Ia – di beberapa momen - adalah teman rasa pacar. Di momen lainnya, adalah pacar rasa teman. Ia adalah sepenggal prase yang sulit dirangkai oleh kamus diksiku.

Kali terakhir aku melihatnya, ia sedang menggelantung di sela-sela pelipis kiriku. Kukira siapa, tahunya dia orangnya. Aneh, bukan? Acapkali ia datang pada jam-jam tak terduga, saat-saat yang di mana aku sedang sibuk-sibuknya. 

Ya, sekedar untuk membisikkan kata kangen, sih, katanya. Gendang telingaku hampir pecah dibuatnya. Tak jarang, ia juga menyelinap ke rongga-rongga kepala.

Semua itu berawal empat tahun yang lalu, kira-kira begitu, tepatnya aku tak tahu. Eh, saat kami berpapasan di lorong waktu itu mungkin. Itu adalah kali pertama pertemuan kami – sekaligus sebagai penanda peradaban baru pada hati masing-masing. 

Aku pernah mengajaknya ke sebuah ruang kosong, tapi ia menolak. Katanya, ia takut gelap. Padahal, ia yang selama ini bergentayangan.

Ia adalah seorang perempuan yang berpenampilan buruk dan kumal. Jika kau tanya ke lelaki bajingan, pasti akan mereka jawab dengan malas sembari bertanya balik: “Apa kau sudah gila hingga menanyakan pendapatku tentang perempuan buruk itu?” 

Tetapi, mau tak mau harus kuakui kalau aku sudah sekian lama terhipnotis oleh ketidak-karuan bentukannya.

Omong-omong, dia sudah memasuki bulan kelahirannya, Agustus. Bukan karena ibunya menetaskan ia di bulan itu, bukan. Ia senang karena ia lahir pada bulan yang sama dengan tanah tempat ia dilahirkan. 

Namun, perempuan itu masih bingung, ia sudah berbentuk manusia atau belum. Sampai saat ini, perempuan itu masih berdilema perihal asal-usulnya.

Saking bingungnya, ia putuskan untuk pergi mengembara ke tanah tetangganya, Negeri Jiran, Malaysia. Oleh sebab itu pula, akhir-akhir ini, ia tampak begitu murung karena harus melewatkan ulang tahun tanahnya di tanah milik orang lain yang jarak tempuhnya tak main-main. 

Namun ia senang, sebentar lagi ia itu akan menemukan wujud aslinya – seorang manusia atau sebangsa lainnya.

***

Ini adalah hari ke dua puluh dua sejak lamunan pertamaku di bulan kelahirannya. Aku sering melamunkan percakapan dengan perempuan itu – seringnya ketika menjelang tidur, saat sedang berada di toilet dan sehabis dari kamar mandi. 

Tak jarang aku harus bergelut dengan insomnia manakala wajahnya tiba-tiba muncul di permukaan ingatan. Entahlah, antara takut atau rindu.

Malam ini aku sengaja membiarkan diri terjerumus dalam insomnia yang berkepanjangan. Alasannya tak lain agar aku bisa menjumpainya dari alam bawah sadar. 

Aku hanya penasaran tentang keberadaannya, benar manusiakah atau hantu yang sedang menyamar? Itu pula yang ingin kutanyakan nantinya. Pada titik alpha di sepertiga malam, aku berhasil menjumpainya dan obrolan pun terjadi.

Siapa yang kamu tunggu selama ini?" Ternyata pertanyaanku di luar rencana. Perempuan itu tak langsung menjawab.

Apa kamu bisu?

Aku menunggu seseorang,” jawabnya tanpa menoleh.

Kekasihmu?

Bisa dibilang begitu.

Sebuah degub mengetuk dadaku. Siapakah lelaki misterius – yang bahkan lebih misterius darinya – yang rela membuatnya menunggu berbulan-bulan? Atau bahkan bertahun-tahun lamanya? 

Ketika kami bertatapan, mata perempuan itu mengingatkanku pada seseorang. Aku kenal betul dengan orang itu. Ia juga lahir pada bulan yang sama – Y. Agustina.

Setelah peristiwa nahas di dalam bus menuju Melaka – di mana perempuan itu merelakan kepalanya bersandar di bahuku – beberapa tahun silam, aku kini hanya bisa mengingat lekukan wajahnya dengan samar. Lekukan itu kadang kujumpai di cermin setiap pagi sebelum berangkat kerja.

Berbeda dengan perempuan yang selalu kujumpai di dunia halusinasi, ia justru jauh lebih banyak senyum daripada murung. Inisial Y itu tak pernah bisa kuingat lagi setelah beberapa bulan ia vakum di pikiranku. 

Sekali lagi, aku hanya bisa mengingat-ingat lekukan wajahnya. Inisial Y yang dua kali lipat lebih misterius daripada si wanita misterius yang di hadapanku saat ini.

Siapa lelaki itu?

Aku tidak tahu siapa dia, tapi setiap malam aku bermimpi, ia menemuiku di sini.

Jadi, lelaki itu tak pernah ada?

Mungkin ia ada, atau memang tidak pernah ada, hanya saja aku sudah jatuh cinta padanya.

Tetapi lelaki itu tidak pernah datang?” Perempuan itu menggeleng pelan-pelan.

"Apa kamu tahu namanya?

Aku hanya ingat inisialnya saja.

Siapa?

O, “ ucapnya pelan.

Lalu, apa yang kau ingat selain itu?

Aku hanya bisa mengingat-ingat lekukan wajahnya.

Itu saja?

Iya.

Lalu, bagaimana kamu tahu kalau suatu saat nanti ia benar-benar datang?” Perempuan itu terdiam sejenak.

Aku tidak tahu. Mungkin ia akan menemuiku, atau aku bisa merasakannya ketika ia datang.

Angin Agustus yang dingin menggigit tubuh kami berdua. Waktu seperti berhenti ketika perempuan itu mengatakan bahwa ia akan merasakannya jika lelaki itu datang. Setelah menghirup napas panjang dan menegakkan kepala, ia melanjutkan, “Aku benar-benar merasakannya sekarang.

Segera kukeluar dari dunia kontemplasiku. Aku pun sadar bahwa aku terbangun di pagi hari - tanggal dua empat, kosong delapan.