Bakpia rasa kacang dan keju? Apakah masih bakpia? Pernah melihat deretan nama bakpia di Kota Jogja? Nah,pastinya kita semua mengetahui apa itu bakpia, yaitu cemilan ringan yang sangat terkenal di Daerah Istimewa Yogyakarta, makanan yang sering kita temui pada saat ingin membeli oleh-oleh yang disajikan dengan ditemani secangkir teh dikala panasnya Kota Yogyakarta memperlihatkan terik sinar mentarinya.

Hubungan baik  antara Tionghoa dan Indonesia sudah lama terjalin dan berkembang. Sejak dahulu, Tionghoa sudah berimigrasi ke Indonesia melalui sebuah kegiatan perdagangan. Sebagian orang beranggapan bahwa bakpia merupakan makanan asli dari Yogyakarta. Bahkan, sebagian orang tidak mengetahui secara jelas siapakah pembuat bakpia pertama kali di Yogyakarta.

Makanan yang terbuat dari tepung ini, mempunyai sejarah cukup menarik jika ditelusuri. Berikut ini merupakan sejarah bakpia yang sangat terkenal sampai saat ini. Bakpia merupakan makanan yang sudah tenar sejak dibawa dari zaman Cina yang kemudian berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepat berada di daerah ketandan, sejak zaman itu banyak kaum Cina yang menempati daerah itu.

Seakan tidak terlepas dari budaya Cina, maka banyak bermunculan makanan khas dari Cina, yaitu salah satunya adalah bakpia, memang ketika kita mendengar dan membaca nama bakpia, pasti dipikiran kita akan langsung teringat tentang babi, memang benar jika bakpia konon dalamnya atau isinya adalah olahan daging babi,

Namun, kenapa perkembangan sekarang yaitu tentang bakpia mulai berubah rasanya? Banyak dari kita berpendapat bahwa ini merupakan sebuah pengaruh dari munculnya komodifikasi budaya. Sebelum itu apa yang dimaksud dengan komodifikasi budaya? Yaitu fenomena yang terjadi ketika suatu budaya sudah hilang keasliannya dan berpindah fungsi seiring berjalannya waktu, untuk digunakan dalam pasar bisnis agar budaya atau peninggalan tersebut bisa di pasarkan di industri ekonomi.

Jika dikaitkan dengan bakpia, maka memang benar jika budaya Cina yang sudah lama ada mulai bergeser dengan berjalannya waktu dikarenakan munculnya pengaruh komodifikasi budaya. Di Indonesia, makanan ini dikenal  dengan sebutan pia atau kue pia. Kue ini sebenarnya berasal dari Cina, aslinya bernama Tou Luk Pia dari bahasa mandarin artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau.

Bakpia pertama kali dibawa oleh pendatang asal Tiongkok, Kwik Sin Kwok ,pada tahun 1940-an di Yogyakarta. Saat itu, ia menyewa sebidang tanah milik warga lokal yaitu Niti Gurnito di Kampung Suryowijayan, kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta.

Semula bakpia dimasak menggunakan minyak babi. Namun, setelah tahu banyaknya mayoritas penduduk Indonesia yang berkeyakinan muslim yang berada di Yogyakarta. Ia mencoba membuat bakpia tanpa menggunakan minyak babi dan diganti dengan margarin. Setelah melakukan proses yang panjang dalam modifikasi budaya. Hingga cita rasa bakpia buatan Kwik sesuai dengan lidah masyarakat setempat dan mulai banyak disukai orang.

Adanya bakpia dari komodifikasi budaya menunjukkan keterbukaan masyarakat Yogyakarta terhadap etnis pendatang salah satunya Tionghoa. Dengan pesatnya perkembangan zaman saat itu sejalan dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berlibur ke Kota Yogyakarta seakan menjadikan salah satu ikon oleh-oleh Kota Yogyakarta, sebenarnya berasal dari Tionghoa.

Dengan banyak munculnya pembuatan bakpia di Kampung Pathuk Yogyakarta dengan ciri khas dan merek masing-masing. Tak lagi hanya dijualkan di Kampung Pathuk namun malioboro dan beberapa toko-toko ikut menjualkan bakpia. Beberapa sumber mengatakan Kampung Pathuk dinobatkan sebagai pusat bakpia.

Teknologi juga mempengaruhi perkembangan inovasi dari segi rasa, yang menjadikan bakpia tidak hanya dengan berisi olahan babi dan kacang hijau namun mengeluarkan berbagai varian rasa. Ada berbagai varian baru seperti keju, cokelat, selai nanas, durian, ubi ungu. Inovasi juga dilakukan dengan bentuk bakpia selain bulat, ada juga bentuk persegi dan stik.

Dan jika dilihat dari merek bakpia yang dijualkan  kebanyakan merek-merek yang dipasang adalah merek bakpia dengan angka-angka. Beberapa bakpia yang terkenal yaitu bakpia Pathuk 25 dan 75.Pertama kali diperdagangkan, bakpia masih dikemas dalam besek tanpa label dan dijual secara eceran dengan peminat yang pada saat itu masih terbatas.

Setelah itu, perdagangan bakpia mulai mengalami perubahan  menggunakan kertas karton disertai dengan label tempelan. Liem Bok Sing yang merupakan teman dari Kwik semula menjualkan arang kepadanya, juga ikut membuat dan menjualkan bakpia kepada masyarakat.  Kue ini sangat lembut dan cocok sebagai oleh-oleh.

Dalam sebuah penelitian Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gadjah Mada ,Yogyakarta, Prof Dr Murdijati Gardjito, mengatakan, sejarah terciptanya bakpia khas Yogyakarta merupakan bukti bahwa benturan budaya yang paling tidak berbahaya adalah benturan budaya kuliner. “Bakpia adalah wujud budaya akulturasi Tionghoa dan Jawa yang hasilnya nikmat serta enak”.

Bentuk modifikasi budaya yang mengubah varian rasa, dan olahan menjadikan Kota Yogyakarta sebagai salah pusat oleh-oleh bakpia. Para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta tak pernah lupa untuk terlebih dahulu membeli oleh-oleh bakpia. Walaupun Tionghoa yang membawa masuknya kuliner bakpia, ttidak menjadikan hubungan diantara budaya tersebut menjadi rusak.