2 tahun lalu · 3078 view · 5 menit baca · Saintek pltypus.jpg
Platypus. Foto: Wikipedia

Missing Link: Apanya Yang Missing?

Seri Kajian Ramadhan

Almarhum kakek saya seorang kiai, cukup disegani di bilangan Klender, Jakarta Timur. Pada pertengahan tahun 1970an, beliau memiliki pesantren, dua buah empang besar dan kali yang cukup lebar melewati halaman belakang rumahnya.

Di kali itu, kakek saya memasang perangkap ikan yang kami sebut “sero.” Setiap sore, saya selalu mampir di sero itu, yang dibuat sedemikian rupa nyamannya sehingga kami betah berlama-lama di sana.

Berbagai macam jenis ikan nyangkut di sero. Ada gabus, mujaer, sepat, keting (sejenis lele), dan betik. Kadang-kadang dapat juga ikan lele dan betok. Dua ikan terakhir ini lebih mudah didapat lewat pancingan ketimbang sero.

Di antara semua jenis ikan yang saya dapat lewat mancing ketika kecil, ikan betok adalah yang paling bandel, paling lama meregang nyawa. Kadang-kadang, tanpa air di ember, ikan betok masih hidup ketika kami bawa pulang. Ikan-ikan yang lain sudah almarhum sejak lepas dari mata pancing.

Belakangan, setelah banyak membaca buku-buku tentang evolusi, saya baru paham perihal ikan betok itu. Dalam teori evolusi, betok ini makhluk ajaib semacam tiktaalik, ikan purba yang dipercayai oleh para imam besar Evolusi sebagai “missing link” yang menghubungkan antara makhluk air dan makhluk darat.


Istilah “missing link” muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-19 ketika pembuktian evolusi masih didominasi oleh temuan-temuan fosil. Istilah itu kini sudah jarang digunakan. Setelah teknologi pemindaian gen semakin maju, teknik pembuktian dengan fosil ditinggalkan; para ilmuwan lebih memilih tes DNA.

Yang masih sering menggunakannya adalah kaum kreasionis dan mereka yang tertutup mata-hatinya dari hidayah Darwin. Kaum kreasionis menganggap “missing link” sebagai senjata ampuh buat menggugurkan teori evolusi. Tapi, sebagaimana umumnya kaum yang tertutup mata-hatinya, mereka hanya asyik dengan dirinya sendiri.

Ikan betok adalah sejenis missing link jika kita mau menggunakan istilah ini. Sebut saja missing link masa depan antara makhluk air dan makhluk darat. Studi anatomi terhadap betok mengungkapkan bahwa ikan ini berbeda dari kebanyakan ikan lain yang hidup di air tawar.

Dari membaca buku dan penelusuran ke beberapa situs di internet, saya mendapatkan keterangan yang menarik tentang betok. Nama Latin ikan ini adalah Anabes testudineus. Dalam bahasa Inggris kerap disebut dengan “climbing gouramy” atau “climbing perch” karena perilakunya yang suka “memanjat” ke darat.

Yang mencengangkan saya (dan ini menjawab teka-teka saya sejak kecil) adalah karena alat pernafasannya bukan hanya insang, tapi sudah dilengkapi dengan semi-paru-paru yang disebut labyrinth. Ketika berada di daratan, betok menggunakan organ labirin itu untuk bernafas. Menurut Wikipedia, betok bisa bertahan hidup di darat tanpa air hingga 6 hari. Subhanallah!

Dalam kerangka evolusi, betok adalah “divergent” yang mencoba keluar dari habitatnya. Sebagai karnivora yang memakan segala jenis serangga kecil, tentu ikan ini ingin juga coba-coba meluaskan wilayah perburuannya. Kali-kali aja di darat dapat mangsa yang lebih lezat. 

Ingat pelajaran Biologi dasar tentang PARAM (pisces, amphibi, reptil, aves, dan mammal)? Betok adalah penghubung paling awal dunia pisces dan amphibi. Siapa bilang mata-rantai itu hilang?

Di Klender, betok memang sudah tak lagi dijumpai. Pesantren kakek saya sudah digusur dan empang serta kalinya sudah diganti dengan mesin-mesin Kapitalisme. Tetapi di beberapa perairan pulau Jawa dan Kalimantan, betok masih banyak dijumpai.

Yang Normal dan Yang Tak Normal

Jadi, jika ada kaum kreasionis yang bertanya kepada Anda tentang rantai yang hilang pada evolusi makhluk-makhluk bertulang belakang, carilah makhluk yang “tak normal” seperti betok. Ada kemungkinan itulah missing link-nya.

Mau tahu “missing link” lumba-lumba dan paus? Tengoklah anjing laut atau singa laut. Kira-kira 40 juta tahun silam, perilaku nenek-moyang lumba-lumba kurang-lebih seperti singa laut sekarang: berjemur di pantai seperti ragu-ragu memilih antara air dan darat. Lumba-lumba telah menjadi hewan yang “normal” (sepenuhnya di air), sementara anjing laut berada pada tahapan “pra-normal.”

Jangan salah paham, dalam evolusi tidak ada yang “normal” dan “tak normal.” Istilah ini saya pinjam dari cara pandang manusia yang kerap memilah-milah mana yang normal dan mana yang tak normal. Alam sendiri tidak mengenal yang normal dan yang tak normal. Kita yang membuatnya demikian.

Manusia cenderung berpikir berdasarkan kategori-kategori. Ilmu Biologi mengakomodasinya dengan taksonomi. Hewan bertulang belakang dibaginya menjadi lima: ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia. Tapi, begitu ada hewan-hewan yang tak masuk dalam salah satu dari kategori ini, manusia bingung setengah mati.

Hal itu pernah terjadi di Inggris pada tahun 1799 ketika George Shaw, ilmuwan negeri itu, memperkenalkan platipus, hewan asal Australia. Komunitas ilmiah Inggris dibuat geger dan menganggap informasi tentang hewan seperti bebek itu sebagai sebuah hoax.

Australia adalah pusat bagi segala keanehan satwa. Di sana, taksonomi lama tentang hewan bertulang belakang dijungkirbalikkan. Apakah platipus itu? Unggas? Reptil? Mamalia? Atau ketiga-tiganya? Secara tongkrongan, platipus menyerupai unggas, tapi secara anatomi, dia adalah mamalia, saudara jauh manusia.

Dalam dunia Biologi, platipus adalah enigma; dia bertelur tapi juga menyusui. Hewan lain yang punya kemampuan seperti ini adalah ekidna. Salah satu definisi mamalia adalah menyusui dan tak ada hewan menyusui di muka bumi ini yang bertelur. Platipus melanggarnya. Dan itu normal-normal saja.

Kanguru adalah enigma dalam bentuk lain. Dia termasuk hewan mamalia, melahirkan dan menyusui. Tapi, cara kanguru melahirkan dan membesarkan janinnya di luar rahim adalah sesuatu yang subhanallah, tidak umum sama sekali bagi mamalia.

Jika Anda penasaran, lihatlah video di bawah ini. Seekor bayi yang tampak prematur (lebih mirip janin) keluar dari rahim ibunya dan ditampung ke dalam kantung di mana sang bayi meneruskan proses pertumbuhannya. Kantung kanguru adalah “jalan ketiga” selain telur dan rahim. Dan itu normal-normal saja.

Kanguru lahir


Alam menampung banyak sekali “missing link” dan hal-hal yang menurut kacamata manusia “tidak normal.” Meski telah hidup di abad ke-21, akal pikiran kita cenderung terperangkap dalam pola-pikir Abad Pertengahan --Pra-Copernicus. Lebih parah lagi, bukan hanya percaya bahwa Bumi adalah pusat alam semesta, tapi merasa bahwa manusia adalah pusat segala-galanya.

Ukuran-ukuran moral, karenanya, kemudian dibuat berdasarkan paradigma dan cara pandang orang-orang yang hidup pada zaman pertengahan itu. Cara kita membeda-bedakan jenis kelamin dan orientasi seks, misalnya, masih sangat medievalis --kendati bukti-bukti baru dari alam tentang beragamnya jenis kelamin dan terbukanya orientasi seks sangat meyakinkan.

Moralitas dibangun berdasarkan kesepakatan masyarakat. Sebagian sumbernya digali dari kitab suci, sebagian lainnya dari pemahaman terhadap bagaimana alam bekerja. Untuk yang terakhir ini, pemahaman seseorang sangat tergantung pada pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan yang berkembang di mana orang tersebut hidup.

Pada abad pertengahan, manusia percaya bahwa homoseksualitas adalah sebuah penyimpangan yang bahkan binatangpun tak akan melakukannya. Pengetahuan mereka tentang dunia hewan dipengaruhi oleh paradigma pengetahuan pada saat itu.

Namun, ketika dunia berubah dan ilmu pengetahuan modern datang dengan temuan-temuan baru seputar alam raya beserta isinya, pikiran Abad Pertangahan kita tak mudah dihilangkan. Kita masih tetap menggunakan cara pandang manusia yang hidup 1000 tahun silam.

Pada 1999, Bruce Bagemihl, ilmuwan asal Kanada, menerbitkan Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity. Buku ini mengulas sejumlah penelitian tentang homoseksualitas di dunia satwa. Bagemihl mencatat, tak kurang dari 450 species hewan di dunia ini memiliki orientasi seksual sesama jenis (homo).

Buku Bagemihl mengilhami para pengambil keputusan dan pembuat undang-undang di AS tentang gender dan orientasi seksual. Dan sejak buku itu terbit, ada puluhan penelitian serupa dari berbagai universitas terkemuka di dunia yang mengkonfirmasi temuan Bagemihl. Jika Anda tertarik membacanya, silahkan kunjungi tautan ini dan ini.

Nah, dengan semua temuan itu, apakah Anda masih tetap mau berdalil seperti manusia Abad Pertengahan: “binatang saja tidak mungkin kawin sesama jenis”? 

Pegel deh.

Artikel Terkait