10 bulan lalu · 25 view · 2 min baca menit baca · Budaya 94981_99020.jpg

Misionaris Difabel

Sesuatu yang indah, tidak dapat dilihat oleh mata; tak dapat didengar oleh telinga dan tak dapat disentuh dengan ke dua tangan. Yang indah itu adalah Dia yang hanya dapat dirasa dengan hati (Helen Keller).

Hampir setahun sudah Hellen Keller Yogyakarta menjadi tempat menimbah inspirasi kala Sabtu pagi (07.15-11.00) menjadi saat untuk bersekolah. Perjalanan melewati separuh Yogyakarta bermodalkan persahabatan ibarat arah angin yang memahami jarak tempuh. Ketika sampai di tujuan, kaki akan berhenti di depan gerbang lalu disambut ramai oleh anak-anak HKI. Pada saat itu seluruh pengetahuan, kehendak dan hati harus merendah sejadi-jadinya melakonkan peran yang baru sebagai Misionaris yang difabel.

Pertama kali mengalami situasi HKI, ada semacam kecemasan yang sebetulnya tak beralasan; bagaimana dapat berkomunikasi, bertahan meneguk secangkir teh sewaktu snack, dan terutama bagaimana membawa diri di depan orang-orang yang sejatinya tak dapat melihat, mendengar, menyadari bahkan memahami apa yang sedang saya lakukan?  Times flies!!! 

Perlahan namun pasti kupelajari segala teknik dan metode sejauh yang kubisa; belajar bahasa isyarat, bermain dan berolahraga bersama, termasuk menggunakan talenta bernyanyiku sebagai bukti kasih Tuhan yang menuntut harus berbuah bagi orang lain. Namun terkadang semuanya hanyalah mengukir di pasir pantai, yang setelah disapu ombak, kembali menjadi permadani pesisir tanpa garis tangan.

Satu tahun mendatang, mungkin Hendoko akan melupakan kekhasan tanganku yang membuatnya mengenali sebuah nama: Fr. Pit; Ami dan Galas termasuk Retno mungkin akan melupakan suaraku yang selalu bernyanyi senang. Beni pun demikian, pasti akan segera melupakanku, orang yang selalu mengingatkan segala hal agar dapat ia kenali dan hafalkan. Atau mungkin diriku sendiri yang akan melupakan mereka, kurasa tidak. Mereka telah terlanjur menjadi sebuah cerita besambung yang tak akan pernah selesai ditulis.

Ada alasan tersendiri judul “misionaris yang difabel” ini dipakai.  Tidak bermaksud mengobjekkan, namun suatu kenyataan bahwa merasul tak lain dari belajar menyembah- berjalan dan menemani. Belajar mensyukuri hidup. Belajar mengenal kelemahan demi pengaktifan potensi yang lebih kentara dalam mengisi peradaban. Jika tidak berlebihan, jika tidak berlebihan aspek ketiga itulah yang menjadi point of view dari definisi misionaris difabel.

Hampir saya yakin, Hellen Keller bukanlah sekolah luar biasa yang menangani anak-anak dengan pendampingan extra, melainkan gudang di mana anak-anak bangsa dituntun untuk melihat kelemahan mereka dan belajar untuk bersumbangsih. ‘Si gadis buta’ mampu bermain piano dan bernyanyi dengan baik. ‘Si Malang yang hanya tahu menangis’ punya kemampuan dalam mengingat banyak lagu, dan masih banyak lagi. Hemat saya, definisi misionaris berhasil didekatkan.

Dari pengalaman bersama mereka, saya sadar bahwa menjadi murid Kristus adalah menjadi manusia yang difabel; sadar akan keterbatasan sekaligus keterbatasan itu membuka diri kita pada Karya Allah yang mengubah. Mengenal Allah tidak dengan melihat, karena mata manusia mengenal masa senja untuk rabun. 

Tidak pula dengan telinga, karena telinga mengenal usia layu untuk tuli. Tidak pula dengan sentuhan, karena kulit mengenal ketebalan untuk keriput. Mengenali Allah adalah upaya untuk memahami diri sendiri. “there’s a hero, when you look inside the heart, you don’t have to be afraid of what you are. There’s an answer, if you reach into your soul..... when you feel like hope is gone, look inside you and be strong....” (Maria Carey “Hero”)  

Artikel Terkait