Mirah dari Banda adalah Novel yang ditulis oleh Hanna Rambe, seorang mantan wartawati yang pernah bekerja pada harian pagi indonesia. Buku ini bukanlah buku pertama yang ditulis olehnya, melainkan buku ke-lima dari delapan buku yang pernah ditulisnya.

Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1983, kemudian diterbitkan kembali pada tahun 2010. Berdasar pada tahun terbitnya, maka bisa diketahui bahwa novel ini (Mirah dari Banda) merupakan novel yang lahir dalam situasi pascacolonial.

Dalam Mirah dari Banda terdapat banyak hal yang disampaikan oleh Hanna Rambe. Adapun yang disampaikan olehnya, antara lain: sejarah pulau Banda, kekayaan alam dalam hal ini Pala, Penindasan terhadap perempuan dalam era kolonialisme, dan yang paling tragis adalah pembantaian orang asli Banda.

Penulis merasa tertarik untuk menulis hal ini, dikarenakan Novel ini bukan hanya sekedar Novel yang didalamnya terdapat imajinasi semata, melainkan terdapat perpaduan antara fiksi dan fakta yang berusaha untuk menggambarkan kedudukan perempuan dalam konteks kolonialisme.

Dilihat dari gaya tulisannya, serta penggambaran kedudukan perempuan dalam konteks kolonialisme, kita akan menemukan bahwa hal ini bukanlah pertama kali ditulis oleh Hanna Rambe, melainkan juga oleh beberapa penulis lain. Sebagaimana disampaikan oleh Sudibyo, dkk (2010), bahwa gaya tulisan semacam itu telah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

Banda dalam Konteks Sejarah

Dijelaskan dalam Mirah dari Banda, bahwa pulau Banda Besar (Lonthoir)merupakan sisa kawah dari gunung berapi yang amat besar, yang telah meletus dimasa lalu.

"Menurut para ahli, Pulau Banda Besar merupakan sisa kawah sebuah gunung berapi yang amat besar, yang telah meletus di masa lalu. Seperti halnya Gunung Krakatau,gunung itupun runtuh ke dalam laut. Salah satu tepi kawah masih tertinggal sebagai Pulau Banda Besar yang biasa pula disebut Pulau Lonthoir menurut nama kampung yang terbesar di situ"(hl.38-39).

Setelah kejadian itu, munculah sebuah gunung api baru tepat dihadapan gunung api yang sekarang dan dihadapan sisa kawah yang menjadi pulau banda besar, dan memiliki dua pulau kecil diujuangnya.

"Entah bagaimana prosesnya, sebuah gunung api lain muncul dari dasar laut, tepat di hadapan Gunung Api yang sekarang dan di hadapan sisa kawah yang menjadi Pulau Banda Besar. Pulau ini mempunyai 'sekutu' dua buah pulau kecil di ujungnya, disebut Pulau Pisang atau Pulau Sjahrir, dan Pulau Kapal" (hl.39). 

Pulau yang baru muncul itulah yang disebut sebagai pulau Banda Neira.

Selain daripada asal usul pulau Banda, Hanna Rambe juga menyentil terkait kehidupan dari orang asli Banda, dijelaskan dalam bukunya bahwa "orang Banda asli telah punah, dibantai habis oleh Jan Pieterzoon Coen tahun 1621, karena membunuh Verhoeven". 

Walaupun begitu, sebenarnya tidak semua orang Banda asli dibunuh atau dibantai oleh Jan Pieterzoon Coen, tetapi terdapat sekitar 1.000 orang asli Banda yang berhasil kabur dari Banda.

"Di antara lima belas ribu penduduk Kepulauan Banda yang molek, hanya seribu orang yang luput dari pembantaian dan penjualan sebagai budak. Mereka lari ke Pulau Seram, ke Kepulauan Kei dan Aru" (hl.97).

Kekayaan Alam

Indonesia adalah suatu negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Selain itu, indonesia adalah negara kepualauan yang menghubungkan antara  pulau yang satu dengan pulau yang lain, menjadikan sumber daya alam Indonesia lebih kaya dan berlimpah ruah serta lebih beragam. Keragaman serta kekayaan inilah yang menjadikan indonesia menarik dimata dunia (Melawati dan Kuswono, 2018: 153).

Berawal dari kekayaan alam inilah, sehingga menjadikan Indonesia didatangi oleh berbagai bangsa di dunia seperti Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol.  Adapun tujuan awalnya adalah untuk berdagang rempah-rempah, namun seiring berjalannya waktu, semangat berdagangnya berubah menjadi nafsu untuk menguasai rempah-rempah dari tanah indonesia.

Nafsu menguasai rempah-rempah kemudian bertransformasi menjadi nafsu untuk menjajah Indonesia dengan tujuan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi. 

Banda merupakan sebuah pulau yang sangat kaya akan rempah-rempah dalam hal ini pala, hal inilah yang mendasari sehingga Banda merupakan salah satu pulau yang juga dijajah oleh para penjajah dalam hal ini Belanda guna mendapatkan keuntungan sebagaimana dimaksud diatas.

Secara historis, Pala bukanlah buah asli dari pulau Banda, melainkan pemberian dari seorang putra mahkota dari Timur, yang dalam penggunaannya hendak dijadikan sebagai syarat untuk menikahi putri Raja Banda yang bernama Ceilo Bintang.

"Beberapa lama kemudian datang lagilah utusan raja. Kali ini dari negeri bernama Timur. Putra mahkota dari Timur tampan dan gagah, sama elok dengan sang putri. Keluarga Raja Mata Guna menerima pinangan mereka, berdasar persetujuan sang putri. Ceilo Bintang mengajukan syarat, harus dibawakan baginya pohon pala yang sudah dikeluarkan dari pesemaian sebanyak seribu batang" (hl. 80).

Syarat itu dipenuhi oleh putra mahkota dari Kerajaan Timur, hanya saja ketika sampai di Banda Besar (Lonthoir) sebelum menjemput sang putri dan memberikan yang dia minta,  mereka beristirahat disuatu tempat dan terjadi perselisihan dalam internal rombongan, sehingga mengakibatkan mereka saling membunuh.

"Pada saat yang tepat, berangkatlah rombongan Putra Raja Mahkota Kerajaan Timur menuju ke Pulau Banda Besar, tepatnya ke negeri Lonthoir. Mereka hendak menjemput sang putri sekaligus mengantarkan hadiah yang diminta. Sebelum mencapai tujuan, mereka beristirahat di sebuah tempat. Rombongan terpecah belahkarena timbul perselisihan. Salah seorang anggota rombongan jatuh cinta kepada Putri Ceilo Bintang. Ia juga berhasrat mengawininya. Caranya dengan membunuh Putra Mahkota dan menyamar sebagai almarhum. Rencana ini ketahuan oleh orang lain. Mereka saling membalaskan dendam Putra Mahkota. Akhirnya, semua anggota rombongan tewas sebelum bertemu dengan para bangsawan dari Lonthoir" (hl. 80-81).

Dari penggalan cerita diatas, kita dapat mengetahui bahwa sebenarnya Pala bukanlah buah asli Banda, melainkan buah yang dibawah oleh Putra Mahkota Kerajaan Timur sebagai syarat untuk menikahi Putri Ceilo Bintang.

Perempuan 

Mirah adalah sosok perempuan yang diambil oleh Hanna Rambe guna menggambarkan situasi kolonial pada saat itu, Mirah digambarkan sebagai sosok perempuan yang polos, yang tak tahu membaca dan hanya bisa mengiyakan perkataan Tuan Besar.

Kehidupannya sebagai perempuan meliputi babu, kuli, Nyai. Sebagai babu Mirah memiliki kewajiban untuk mengurus urusan rumah tangga, mengurus Nyonya Besar, menyiapkan segala peralatan sebelum Noni berangkat sekolah, dan ia pun tidak diizinkan untuk beristirahat.

Sebagai kuli, para perempuan dituntut agar tidak melakukan kesalahan, jika mereka berbuat salah maka akan dihukum mencabut rumput di rumah Tuan Besar dan tidak mendapatkan uang, Prosedur jam kerja yang sangat ketat, dan ironisnya sebagai kuli mereka sering mendapatkan tindakan pelecehan.

Kemudian sebagai nyai, dalam relasi pergundikan sebagaimana kita tahu bahwa seorang nyai akan mengalami berbagai penindasan, pengabaian, dan kekejaman seksual. Sebagai nyai pekerjaan hanya terpusat pada melayani sang suami, hal ini dapat kita lihat dalam penggalan kalimat berikut.

"Susahlah menjadi perempuan semacam saya ini. Ke sana kemari hanya alat. Alat pemuas nafsu Tuan Besar, alat pemeras dari para buruh kontrak yang dulu rekan saya di hutan pala" (hl. 213-214).

Penindasan yang dialaminya pun bukan hanya datang dari para penjajah Belanda (Tuan Besar) saja, melainkan juga datang dari pribumi itu sendiri. 

"Ia duduk di samping saya, di tanah. Saya bergeser, ia bergesar. Geser menggeser akhirnya kami bergumul. Pergumulan itu seru dan saya mendapatkan kekuatan luar biasa karena dilanda amarah. Saya murka dan benci kepada marinyo itu yang sudah lama mengganggu saya. Saya tidak mengerti kekuatan apa yang mendorong saya waktu itu" (hl. 187-188).

Penindasan yang demikian itu tidak hanya terjadi dalam zaman penjajahan Belanda, namun juga berlanjut ketika dijajah oleh Jepang. Bahkan bisa dibilang kehidupannya jauh lebih susah dibanding ketika dijajah oleh Belanda.

Hal ini bisa dibuktikan dengan pengungsian Mirah di daerah terpencil, mengalami kelaparan, dan kekurangan pakaian serta rentan terhadap kekerasan seksual yang dilakukan oleh penduduk pedalaman. 

Jika dilihat dari kehidupannya, maka kita dapat melihat perbedaan antara zaman penjajahan Belanda dan zaman penjajahan Jepang sebagaimana disampaikan diatas. Tetapi jika dilihat dari bagaimana perlakuan mereka terhadap perempuan, maka dapat dilihat bahwa keadaannya tetap sama, yaitu perempuan hanya dianggap sebagai pemuas hasrat seksual. Hal ini dapat dilihat dalam penggalan kalimat berikut.

"Serdadu yang datang biasanya bahkan memandang wajahnya pun tidak. Mereka langsung menyerbu tubuhnya dan mempersetan dunia di sekitar mereka" (hl. 320-321).

Akhir kata, kehadiran novel yang bernafaskan resistensi yang membangkitkan kesadaran akan ketertindasan dalam era kolonialisme bukan hanya membicarakan kolonialisme semata, akan tetapi merupakan novel yang ingin merefleksi kita agar tetap waspada terhadap kekuasaan imperialisme yang dapat memungkinkan adanya penindasan ganda (imperialisme dan patriarki) yang bersifat dominatif dan hegemonik dalam wujud-wujud yang lain.

Referensi: 

1. Rambe, Hanna (2010). Mirah dari Banda. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

2. Ilma, Akbar Wala (2016). Representasi Penindasan Ganda Dalam Novel Mirah dari Banda Berdasarkan Perspektif Feminisme Poskolonial. Jurnal Poetrika, 4 (1), 3-11.

3. Melawati, Cici Eliya, Kuswono (2018). Marhaenisme: Telaah Pemikiran Sukarno Tahun 1927-1923. Jurnal Swarnadwipa, 2 (3), 153-163.