Pada suatu kesempatan, saya sedang duduk di balkon rumah sambil menonton acara masak di chanel youtube kesukaan. Sedang asyiknya menonton tiba-tiba mendengar keributan di perempatan jalan sebelah rumah dan orang-orang mulai berkerumun. Saya juga mendekat dan menyadari sepertinya baru saja terjadi tabrakan antar kendaraan roda dua. Saking seringnya terjadi tabrakan di titik jalan itu, saya memilih balik ke rumah meneruskan tontonan saya. Ramai terdengar mereka saling menyalahkan dan beberapa orang mulai mengambil ancang-ancang mencegah terjadi kekerasan berikutnya.

Tentang ribut-ribut saling menyalahkan itu memang jamak terjadi. Mulai dari rumah kita, dengan keluarga, tetangga, rekan kerja atau dengan orang asing di jalanan. Biasanya keributan akan berakhir juga baik karena bantuan orang lain maupun karena kedua belah pihak sepakat untuk berdamai saja. Lalu sederatan kalimat permintaan maaf terucap sembari berjanji untuk tidak mengulangi lagi atau berjanji menjadi lebih baik lagi. Tapi kadang, permintaan maaf ini juga jarang diungkapkan.

Dalam rumah tangga misalnya, minta maaf itu jarang sekali dilakukan. Membuat pasangan menunggu sekian lama hanya untuk makan malam bersama harusnya adalah sebuah kesalahan. Saya pikir itu hal sepele saja. Saya selalu nyaman berpikir kalau ibu negara di rumah sangat memahami alasan keterlambatan saya. Ya, kan sudah belasan tahun menikah. Pastilah ibu negara sudah membangun databasenya sendiri untuk menyimpan semua alasan saya berdasarkan urutan kasus yang paling sering terjadi. Itu yang selalu saya pikirkan ketika jarang meminta maaf setelah membuat kesalahan.

Dulu pernah seorang publik figur - motivator beken - sampai disomasi untuk meminta maaf secara publik karena tidak mengakui keberadaan anaknya yang lain. Alih-alih meminta maaf, dia malah menuntut bukti identitas kepemilikannya melalui tes DNA. Terlepas dari apapun latar belakang lainnya, kita tentu terkejut sang motivator malah telah lebih lama terjebak dalam masalah serius dibanding rata-rata jutaan penggemarnya. Mayoritas pendengar setianya, termasuk saya tentu saja, lebih ingin mendapat pencerahan tentang hal terbaik apa yang sebaiknya dilakukan ke depan dibanding memperbaiki masa lalu. Bagi saya, ini jelas sebuah kesalahan dalam memotivasi. Sang motivator semestinya diberi ruang dan waktu ideal untuk minta maaf saat itu. Minimal di hadapan para Sahabat Super yang baik hatinya.

Saya memperhatikan bahwa meminta maaf itu sangat terkait dengan rasa kepemilikan dan rasa tanggung jawab. Hanya orang yang memiliki rasa kepemilikan dan rasa tanggung jawab yang besar yang akan meminta maaf. Mendengar orang meminta maaf jangan melulu dianggap sebagai  kewajiban moral paling minimal dari para pembuat kesalahan kepada yang terdampak kesalahan itu. Ketika meminta maaf ada makna kepemilikan di sana. Kepemilikan atas situasinya, kegiatannya, hubungan dirinya dengan pekerjaannya dalam segala konsekuensinya. Jadi ketika enggan meminta maaf, itu bisa berarti level keterkaitan seseorang atas sebuah masalah itu kecil atau tidak ada. Buat apa juga meminta maaf untuk sesuatu yang bukan urusan saya misalnya. Begitu yang biasanya kita sering dengar. Mungkin saja juga karena yang bersangkutan tidak punya rasa tanggung jawab atas pekerjaannya.

Menghindar mengakui kesalahan itu memang manusiawi seperti dalam banyak kejadian di atas. Tetapi menjadi terasa berbeda ketika dihadapkan pada urusan yang bersentuhan dengan perhatian masyarakat luas. Meminta maaf bukan lagi refleksi atas sekedar hubungan kepemilikan semata, tapi lebih pada tanggung jawab kepada publik.

Kita mungkin masih ingat akan kasus yang menimpa Bupati Nganjuk periode 2018-2023, Novi Rahman Hidayat. Beliau ditangkap KPK beberapa waktu lalu karena terlibat kasus dugaan korupsi terkait lelang jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Pemberitaan media seputar kasusnya yang menggelitik saya bukan  pada besarnya nilai uang dalam korupsi itu, tapi pada masalah pengakuan kepemilikan ini.

Kompas.com menurunkan berita dengan judul "Saat PKB dan PDI-P Tak Akui Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat sebagai Kader". Singkatnya, para petinggi kedua partai tidak mengakui keterkaitan partai mereka dengan Bupati Nganjuk ini. Padahal semua juga tahu, peran kedua partailah yang membawa politisi ini menjadi pejabat publik.

Menyangkal keterkaitan dengan sesuatu yang mencoreng nama baik organisasi tentu hak setiap pihak. Tindakan ini juga berarti mengambil jarak dari timbulnya rasa turut serta bersalah. Otomatis dengan cara ini pula, maka tidak perlu ada semacam tekanan psikologis pada pundak organisasi melalui organ hierarkisnya untuk meminta maaf. Organisasi akan selalu dijauhkan dari tanggung jawab moral kepada publik untuk mengakui kesalahan. Sebab apa? Pengakuan itu hanya akan menurunkan wibawa identitas partai. Padahal, publik hanya butuh permintaan maaf dari kedua partai itu secara resmi dan terbuka atas kesalahan kebijakan Bupati Nganjuk yang mereka dukung. Pesannya adalah partai pendukung wajib punya tanggung jawab bersama atas kesalahan yang dilakukan. Dengan begitu, kita bisa belajar untuk terus menjadi lebih baik ke depan dan memilih pemimpin yang integritasnya teruji.

Sepekan terakhir ini, kita disuguhi hal yang langka. Saking seringnya kita melakukan atau menyaksikan sejumlah kesalahan tanpa ada permintaan maaf pelaku, jadi lupa rasanya bagaimana memaknai kata maaf yang kita dengar.

Sebelumnya Pak Luhut mewakili Pemerintah meminta maaf atas kurang maksimalnya penerapan PPKM Darurat sebelumnya dalam menekan laju penyebaran Covid-19 di Jawa dan Bali. Bagi saya, permintaan maaf Pak Luhut mencerminkan rasa keterikatan yang kuat dirinya dengan pekerjaannya sebagai koordinator kebijakan PPKM. Dia menyadari betul kekurangan dari kebijakan sebelumnya. Akibat dari kebijakan itu, warga mengalami kesulitan ekonomi yang makin parah. Selain itu, kemauan politik mengucap kata maaf secara terbuka ini adalah bentuk tanggung jawab kepada publik. Bukankah publik ingin dengar bahwa Pemerintah juga bisa lamban dalam penangangan pandemi ini.

Meski demikian, kita juga masih memiliki banyak ruang dan waktu mendengar pejabat publik lainnya untuk melakukan hal serupa. Harapan itu tentu saja sedikit berlebihan karena ini soal keterikatan yang kuat dengan pekerjaan juga rasa tanggung jawabnya.

Baru-baru ini Eko Yuli Irawan, atlet angkat besi kita juga meminta maaf karena belum mampu mempersembahkan medali emas di Olimpiade Tokyo. Sejujurnya, saya bingung mengklasifikasi permintaan maaf ini ke dalam jenis yang mana. Loh, ini ada seorang atlet Olimpiade meminta maaf. Bisa berlaga di level tertinggi olah raga se-planet Bumi saja sudah luar biasa. Kita bangga saja ada Tim Indonesia berlaga di semua cabang olah raga. Tapi ternyata atlet kita ini memaknai pencapaian medali peraknya dengan minta maaf karena gagal memperoleh medali emas. Minta maaf gaya atlet kita ini merefleksikan hal yang lain lagi bahwa tidak mencapai target tertinggi adalah kegagalan.

 Mengakui secara verbal telah melakukan kesalahan atau kekeliruan itu sesuatu yang serius. Anda tidak mungkin sembari meminta maaf, mimik wajah sedang tersenyum. Anda harus terlihat serius, kecuali anda memang sedang bercanda dengan rekan sepermainan anda. Ketika ingin mengatakan mohon maaf, katakanlah saja dengan sungguh-sungguh. Anda mungkin saja sedang bersalah. Berita bagusnya publik tahu bahwa anda benar-benar mencintai pekerjaan anda dan bertanggung jawab penuh untuk itu. Kita sih berharap suatu ketika masing-masing kita sudah terbiasa meminta maaf ala Eko Yuli Irawan. Gagal mencapai target tertinggi itu wajib minta maaf.