Penulis
1 tahun lalu · 315 view · 7 menit baca · Budaya 90223.jpg
Google Image

Miniatur Kampus dari Kisah Secangkir Kopi

Tentang kopi. Saya ingin sedikit berkisah mengenai perjalanan secangkir kopi. Tentu saja, setiap orang punya pengalaman berbeda dari satu, atau puluhan kopi yang mereka minum. Baik tentang cita rasa, pertemanan, perjalanan dan segala kisah yang ada di balik jutaan cangkir kopi yang bermula dari dataran Ethiopia, Yaman, Mesir, Turki, sampai ke seluruh penjuru dunia.

Perkenalan saya dengan kopi, seingat saya, ketika masih kecil. Sedikit demi sedikit ikut mencicipi kopi Bapak di pagi dan sore menjelang Maghrib. Saya ingat betul ketika Bapak dengan sangat hati-hati melukiskan gambar sederhana di sebuah batang rokoknya dengan menggunakan ampas kopi pekat.

Kadang mengukirnya seperti sketsa batik, atau hanya berupa titik-titik polos nan unik. Rangkaian memori saya tentang kopi ketika itu hanya sebatas kopi pekat punya Bapak, pahit, dan ampasnya bisa dibuat untuk melukis. Hanya itu saja.

Tidak ada yang baru bagi saya tentang secangkir kopi ini, hingga saat pertama kali menginjakkan kaki di sebuah warung milik Pak Bayan. Tetangga saya yang sudah membuka warung kopi sejak puluhan tahun lalu. Mungkin ketika saya baru pertama kali mencicipi kopi Bapak dahulu.

Warung kopi Pak Bayan ini menjadi tempat favorit bagi siapa saja yang ingin menikmati secangkir kopi hitam pekat, juga bagi siapapun yang ingin berbicara bebas. Tanpa sekat, lintas kelas sosial dan pandangan politik.

Sesekali saya turut nguping pembicaraan bapak-bapak yang sedari tadi terlihat asik sekali membicarakan segala hal. Dari hasil panen, harga bensin, perihal keluarga, sampai kenaikan biaya sekolah anak-anaknya.

“La mosok, rego seragame anakku petang atus ewu, iku nggur siji lo. Durung seragam pramuka, olah raga lan liyo-liyone”. Wes ngene iki nggur iso tirakat sak isone.”

“Masa, harga seragam anak saya sekolah sekarang empat ratus ribu, itu baru satu saja. Belum seragam pramuka, olah raga dan yang lainnya. Saya hanya bisa pasrah saja sekarang”.

Menarik juga nyangkruk di warung kopi Pak Bayan, batin saya. Tanpa harus membeli Koran setiap hari, paling tidak saya sudah mendapatkan sekilas gambaran tentang realita kehidupan di sekitar kami tinggal. ‘Dunia kecil’ ini, sekejap sudah beralih dan menyebar ke beberapa kepala yang singgah ke warung kopi Pak Bayan. Bahkan hanya dengan Dua Ribu Lima Ratus Rupiah saja. Pas sekali dengan isi kantong kami saat itu.  

Maqha, ‘Bak Istri Kedua’

Pengalaman tentang secangkir kopi masih berlanjut. Tepatnya saat pertama kali kaki ini menginjakkan bumi Seribu Menara, Kairo. Sebuah kota yang menjadi saksi akan perjalanan sebiji kopi di tanah ini yang dibawa oleh beberapa pelajar dari Yaman abad 16 M. Konon, mereka adalah para pelajar Madrasah Al- Azhar, cikal bakal universitas Al Azhar yang didirikan ketika Dinasti Fatimiyah tahun 970 M.

Sepertinya, saya memang berjodoh dengan kopi. Di sekitar asrama tempat saya tinggal dan kampus utama, berjejer warung kopi lokal yang selalu ramai pengunjung. Mereka menyebutnya dengan Ahwa, atau Maqha. Siapapun bisa datang, memesan secangkir kopi plus shisha. Di Kairo, kopi, teh dan shisha seakan tak terpisahkan. Lengket sekali.  

Keberadaan ahwas ini pun lambat laun dianggap sebagai ‘istri kedua’, karena warga lokal gemar sekali menghabiskan waktunya untuk nongkrong di warung kopi. Bahkan ada yang lima sampai enam kali sehari. Setiap orang pasti mempunyai maqha langganan.Terlebih jika kebetulan ada isu-isu social politik yang sedang panas di Mesir. Seperti ketika Revolusi Mesir yang terjadi beberapa tahun silam. Ahwas, merupakan tempat yang paling diminati sekaligus ditakuti masyarakat.

Di tempat inilah ide-ide sederhana tentang revolusi mulai mengakar dan diperbincangkan. Dari mulai kalangan politisi, pedagang kaki lima, pedagang sayur, pelajar, jurnalis dan berbagai macam latar belakang lainnya. Di masa-masa seperti ini, ratusan bahkan ribuan ahwas seakan menjadi ancaman yang luar biasa. Tak ayal, penjegalan, penculikan dan pembubaran oleh aparat militer menjadi hal biasa.

Dalam sejarah penyebaran kopi, Mesir memang lebih dulu dari pada Turki. Budaya masyarakat yang begitu lekat dengan maqha bukanlah hal baru. Abad 16 M, seakan menjadi saksi akan berdirinya ratusan kedai kopi di seantero Kairo. Minuman kopi awalnya memang disebarkan oleh para sufi dan penganut tarekat. Hal ini menjadi semakin populer ketika Mesir menjadi rumah yang subur bagi pengikut banyaknya tarekat yang tersebar luas dan diikuti oleh mayoritas penduduk lokal.

Azbakiyah, Mosky dan Khan Khalili merupakan daerah-daerah yang sangat populer bagi penjaja kopi. Setiap kedai seakan mempunyai ruh tersendiri. Disinilah tempat berkumpulnya sastrawan kenamaan Mesir, termasuk petinggi dan ulama Al-Azhar, dan juga penganut tarekat. Sebut saja, Naguib Mahfudz. Dari maqha favoritnya di bilangan Azhar, bernama Kafe El- Fishawy, terlahirlah karya novel populer Awlad Haratina dan al-Bidayah wa al-Nihayah.

Bagi para pengikut darvesh sufi, lain lagi. Kafe Wali Ni’am menjadi tempat favorit mereka. Tak jarang ketika festival Maulid Nabi, yang biasanya dirayakan besar-besaran oleh pengikut berbagai tarekat, café-café ini pun mendadak seperti pasar. Ramai sekali. Jangan harap menemukan satu tempat duduk kosong. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan kursi sendiri dari rumah penduduk sekitar.

Bagi saya pribadi, secangkir kopi, selalu membawa kisah sekaligus perubahan. Sebuah perubahan yang bisa dilihat kasat mata oleh telinga, mata, juga seluruh anggota badan. Lintas zaman dan peradaban. Buah pikiran yang terejawantahkan dalam bentuk ide-ide segar bisa saja muncul dari sepetak warung kopi sederhana di pinggir jalan. Atau justru, anda dan secangkir kopi yang sedang anda minum, juga mampu melahirkan karya besar yang kelak akan menjadi kisah tersendiri yang akan terus anda ingat.

Kopi dan Identitas

Membaca sejarah kopi, yang telah menyatu dengan budaya setempat sekaligus pengaruh-nya, membuat saya semakin cinta kopi. Membuat semakin penasaran tentang lika-liku penyebaran, juga beberapa nama besar yang terinspirasi membuahkan karya setelah ber’semedi’ di warung kopi. Dimanapun, saya akan menyempatkan untuk turut mencicipi secangkir kopi, berikut juga suasana, kenangan dari kedai-kedai yang melegenda itu.

Pun, ketika kaki ini berpijak di belahan bumi sebelah utara. Daratan Eropa. Benua ini, turut berkontribusi mengenalkan secangkir kopi ke penduduk dunia. Tak terkecuali, Cappucino. Dari Ottoman, yang bermarkas di Konstantinopel, minuman ini sampai ke Venesia melalui jalur perdagangan. Abad 16, Venesia merupakan jalur perdagangan tersibuk di Eropa. Tidak hanya dengan Ottoman yang berada di Istanbul, tetapi juga dari Alexandria.

Sepenggal kisah sejarah inilah yang membawa saya ke Venesia dan Paris. Salah satunya untuk menelusuri kedai-kedai kopi yang melegenda dan tertua di Eropa. Caffe Florian, persis di seberang St. Marco Square, menurut beberapa catatan sejarah adalah salah satunya. Dekorasi dan arsitektur yang kental dengan nuansa klasik, bergaya Renaissance dan Baroque seakan ingin berkisah tentang pergulatan para seniman, sastrawan, politikus, dan para pedagang kala itu di café ini. Sebut saja, Goethe, Lord Byron, Carlo Goldoni, dan Giacomo Casanova. Disinilah, yang kemudian, melahirkan bibit-bibit revolusi rakyat Venesia di bawah kekuasaan Austria tahun 1848.  

Latin Quarter, tepat di seberang sungai Seine kawasan Sorbonne Paris, turut menyimpan kisah lain dari pekatnya secangkir kopi. Keramaian, aroma kopi, cerita, perlawanan, dan ide-ide segar tumpah ruah di pelataran kecil ini. Disinilah konon pusat ilmu pengetahuan di Paris yang kelak menjadi Universitas Sorbone, dan menjadi pusat berkumpulnya para intelektual, termasuk filsuf, sastrawan dan seniman di seantero Eropa. Dan, disini juga lah hajat besar sejarah dunia modern bermula. Yang ditandai dengan dimulainya Abad Pencerahan (Age of Enlightment).  

Kedai kopi itu bernama, Café Procope. Tempat dimana Voltaire, Rousseau, Denis Diderot hingga Alexander von Humbolt dan Benjamin Franklin biasanya ‘ngafe’ dan berdiskusi. Foto mereka, bahkan terpampang manis di lantai utama kafe ini. Voltaire, terlihat lebih spesial, karena mempunyai ruangan tersendiri yang dikenal dengan ‘Voltaire Desk’.

*** 

Kopi, ruang untuk berpikir, bertukar ide, dan inspirasi. Empat hal utama inilah, paling tidak, yang seringkali saya temukan ketika berkenalan dengan secangkir kopi. Dari yang semula saya temukan di sekitar rumah tempat saya tinggal, hingga ke dataran yang menyimpan ribuan kisah sejarah dan peradaban manusia. Timeless.   

Tidak melulu kaum terdidik atau para elite, siapapun bisa menemukan inspirasi dari kali pertama perjumpaan mereka dengan kopi. Tidak peduli apakah pekat, manis, pahit, bercampur dengan susu atau coklat panas. Tak masalah. Karena esensi kopi, tetaplah kopi. Dan kopi, tidak akan pernah memihak. Tidak pilih kasih. Ia sederhana, namun memikat. Lebih jauh lagi, bahkan ia mampu menghipnotis para penikmat.

‘Miniatur Kampus’. Kata itulah yang kemudian saya pilih untuk menggambarkan berbagai kisah dari secangkir kopi. Dibalik secangkir kopi, ada ribuan topik yang dibicarakan, layaknya sebuah kampus. Puisi, novel, literature, music, politik, social, hingga isu keagamaan dan tentang perlawanan. Kedai-kedai kopi seakan mempunyai fungsi ganda atau justru lebih.

Namun, lambat laun, selaras dengan semakin maraknya budaya kapitalisme dan budaya-budaya populer, pergeseran fungsi dan makna secangkir kopi mulai bergeser. Entahlah, saya pribadi tidak begitu nyaman berada di sebuah kedai kopi kenamaan yang berjejer di Mall, juga pusat-pusat perbelanjaan di berbagai kota besar. Seakan ada sekat yang membatasi. Si kaya, dan si miskin.

Pada akhirnya, pertanyaan itu muncul. Akan-kah di balik secangkir kopi yang kita minum di pagi dan sore hari akan mampu melahirkan ‘sesuatu’ atas sekat-sekat populis yang dibungkus begitu rupa dengan dalih ‘filosofi kopi’?

Akan-kah, dari cita rasa kopi yang kita nikmati, bahkan di setiap degub jantung yang dihasilkan minuman ini, mampu menjawab pertanyaan paling mendasar sebagai warga bumi atas sebuah keadilan?

Tentang identitas?

Tentang kedamaian?

Dan, di atas segalanya, tentang Tuhan?