"Apa Jadinya Tanpa Generasi Penerus " 

"Generasi Milenial - Penerus Anak Bangsa"

Hari lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni, biasanya generasi muda memaknai hari bersejarah yang penuh perjuangan dan pengorbanan. 

Sebagai penerus anak bangsa tidak hanya memperingati dengan ucapan ataupun memposting gambar di media sosial, melainkan harus tertanam dan melekat di sanubari sepanjang hayat.

Menyongsong hari lahirnya Pancasila dengan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan. Jejak anak muda dari Sabang sampai Merauke harus tetap mempersatukan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Mengukir sejarah dari pidato bung Karno bahwa 1 Juni 1945 menetapkan dan merumuskan hari lahirnya Pancasila. Meneruskan sebagai konsep Negara Indonesia yang menjadi panduan berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemudian Pemerintah menetapkan hari libur Nasional sejak tahun 2017 lalu, mengajak kepada seluruh warga negara Indonesia memperingati hari Pancasila sebagai Ideologi bangsa. Himbauan ini menjadi landasan utama.

Di dalam butir-butir Pancasila hubungan dengan kehidupan sehari-hari, mempererat seluruh unsur anak muda peduli terhadap lingkungan sekitar.

Salah satu contoh peduli kepada tetangga, masyarakat, lingkungan sekitar, cinta sesama dan tentunya berinteraksi sosial menjadi suri tauladan satu sama lain.

Peradaban bangsa dilihat dari generasi penerus terutama dalam menghadapi fenomena kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal menjadi cermin utama bagaimana moral dan etika dalam pergaulan anak milenial.

Tantangan generasi penerus bukan berperang seperti zaman dulu seperti pahlawan ikut berjuang merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Justru berperang menghadapi musuh tanpa senjata api maupun senjata tajam.

Ironisnya generasi muda sudah dipengaruhi terhadap pergaulan teknologi digital, tentunya hal ini bukan hanya Pancasila yang rusak tapi pikiran dan akhlak sudah mulai terkikis.

Apa penyebabnya rusak pikiran dan akhlak, salah satu unsur penyebaran berita hoax. Sulit dipercaya dan yang mana juga mau dipercaya, bahkan yang benar bisa salah yang salah bisa menjadi benar.

Bingkai anak muda Indonesia sangat terlihat dari menghadapi perang non militer, maksudnya adalah menghadapi kesimpangsiuran berita dan informasi yang tidak bermanfaat untuk disebar luaskan.

Sebagai mana yang dijelaskan diatas untuk mempersatukan nilai yang ada didalam Pancasila, namun menjadi berbeda di zaman era digital. Tentunya menjadi tantangan tersendiri baik dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia.

Terjemahan yang keliru ada yang sok-sok-an Pancasilais, paham isi Pancasila, nilai-nilai Pancasila, perbedaan pandangan tentang Pancasila, dan bahkan poin-poin Pancasila akan digantikan.

Keutuhan Pancasila tidak perlu diperdebatkan dan pertentangan sehingga merubah persepsi atau pandangan masyarakat. Hal seperti ini kurang membangun rasa persatuan dan kesatuan.

Analisanya dari uraian diatas untuk membangkitkan dan mencerdaskan dalam menghadapi teknologi digital yang semakin canggih. Sisi lain harus mengikuti perkembangan, namun harus dicegah juga dijalan yang tidak bermanfaat.

Sisi lain tetap menjujung tinggi nilai-nilai Pancasila untuk tetap menetapkan pikiran yang bisa berkontribusi untuk bangsa Indonesia. Apa saja bisa untuk memperkokoh anak mudah di masa akan datang, berikut uraiannya : 

Cita-cita Luhur :

Sebagai anak muda meneruskan perjuangan pendiri bangsa sebelumnya, untuk dijadikan dorongan kekuatan bersatunya anak muda tanpa ada keraguan yang dipengaruhi oleh orang lain. 

Jangan sampai sebagai anak muda Indonesia hanya ikut-ikutan dan tidak mempunyai tujuan yang jelas, harus mencari ide sendiri terutama cita-cita untuk membangun bangsa.

Berbeda Tetap Satu :

Generasi anak Indonesia harus bangga, karena memiliki kekayaan yang berbeda dengan negara lain. Maksudnya dengan beranekaragam ragam suku, ras, budaya, bahasa tetap satu bangsa yakni Indonesia. 

Pandangan dan pendapat boleh beda, namun sebagai anak milenial tetap melihat sisi lain bahwa bangsa Indonesia mempunyai keunikan dan khas terutama dalam memberikan ide atau gagasan tertentu.

Persatuan dan Kesatuan :

Menjadi tradisi generasi penerus untuk memperkuat persatuan bangsa Indonesia melalui kegiatan-kegiatan positif. Tidak hanya ucapan namun harus dibuktikan dengan tindakan yang berdampak.

Bersatunya generasi penerus dengan tidak saling menghujat, kecerdasan emosional, menghargai pendapat yang keliru, tidak egois, dan yang paling penting jiwa semangat untuk memperbaiki satu sama lain.

Tiga pandangan diatas bukan suatu hal yang berbeda melainkan untuk menjelaskan, bahwa anak muda menjadi tolok ukur keberhasilan suatu bangsa. Pelihara dengan keilmuan untuk bangsa masa akan datang.

Jika tidak bisa berbuat baik jangan menjadi menyumbang ketikan jari yang berdampak negatif. Karena pada dasarnya untuk menjaga Pancasila dengan tidak bermain di media sosial yang tidak penting.

Generasi milenial atau anak muda harus lebih cerdas menghadapi kehidupan digital teknologi. Karena sangat mempengaruhi kerukunan hidup berbangsa terutama bila tidak digunakan yang berfaedah.

Gunakan jari zaman digital dengan menyebar berita hoax, sebelum mencari sumber atau refrensi yang jelas dan nyata. Sering terjadi juga sebar informasi yang ikut-ikutan orang lain tanpa sumber yang tepat.

Sisi lain hari Pancasila untuk milenial adalah menjadi role model perbuatan dengan memperbaiki moral seperti tidak menggunakan Narkoba, kriminal, menyebar informasi palsu, dan lain sebagainya.

Mari sebagai generasi penerus secara bersama-sama, untuk mewujudkan butir dan nilai-nilai Pancasila. Bangsa butuh anak muda yang berprestasi, butuh generasi muda yang berkontribusi, dan butuh generasi penerus yang jadi contoh orang lain.