1 bulan lalu · 9361 view · 3 min baca menit baca · Politik 64310_40966.jpg

Mimpi Buruk DKI Jakarta di Tangan Anies Baswedan

Anies Baswedan, dalam kebijakannya menghilangkan program razia yustisia, akan membuat Jakarta makin ramai setelah lebaran.

Biasanya, orang-orang yang bekerja di Jakarta pergi ke kampung untuk merayakan hari besar mereka bersama sanak saudara. Lebaran adalah tradisi yang dirayakan oleh umat Islam di Indonesia. Mudik menjadi sebuah tradisi lebaran yang sangat meriah.

Komposisi penduduk kota yang paling banyak melakukan mudik tentu adalah kota Jakarta. Orang-orang perantauan yang tinggal dan hidup di Jakarta pulang barang sebentar untuk merayakan dan sungkem kepada orang tua mereka, merayakan hari besar itu bersama keluarga.

Mereka larut dalam suasana kebahagiaan dan kemenangan atas satu bulan menempuh proses menahan hawa nafsu yang disebut dengan puasa. Mereka beramai-ramai merayakan lebaran. 

Dari orang dengan taraf hidup di bawah garis kemiskinan, di garis kemiskinan, di atas garis kemiskinan, sampai kepada orang kaya, semua merayakan kemenangan ini. Para politisi besar pun melakukan acara open house di rumah mereka masing-masing.

Mengundang sanak saudara sampai kepada rakyat kecil yang tidak bisa pulang kampung, mendapatkan kebahagiaan barang sehari dua hari. Ini adalah perayaan besar bagi umat Islam di Indonesia.

Perayaan ini menjadi perayaan yang sangat baik dan meriah. Mereka larut dalam suasana kemenangan. Melakukan salat di pagi hari, menikmati hari-hari mereka bercengkerama dengan keluarga.


Setelah itu, mereka harus berkemas dan bersiap-siap lagi melakukan arus balik. Mereka bersama-sama menyiapkan satu tahun baru hijriah ke depan, untuk lagi mengadu nasib. Yang ada di kampung, mulai kembali mengadu nasib. 

Di sinilah, daerah-daerah yang dianggap sebagai daerah lahan basah, menjadi favorit. Satu orang bisa mengajak temannya, dan mengajak saudaranya untuk datang mengadu nasib di tempat lahan basah tersebut. 

Coba bayangkan jika orang-orang yang pernah di Jakarta ini mengajak orang-orang saudaranya yang dari kampung untuk ke Jakarta. Dapat dipastikan, Jakarta akan makin ramai dan makin macet. 

Anies meniadakan operasi razia yustisia untuk membiarkan mereka datang dan ramai-ramai mengadu nasib di Jakarta. Hal ini sebenarnya adalah hal yang baik. Tapi ada beberapa risiko yang dapat terjadi di Jakarta.

Pertama, Jakarta akan menjadi sangat padat. Bayangkan saja, kepadatan penduduk Jakarta saja saat ini sudah tinggi. Bagaimana dengan kepadatan penduduk Jakarta nanti setelah Lebaran jika mereka datang ke Jakarta, dan menunggu pekerjaan? Jakarta akan menjadi tempat yang sangat padat.

Kedua, Jakarta yang padat akan membuat Jakarta makin kumuh. Kepadatan tanpa pendidikan sosial yang baik akan membuat kota itu akan kumuh. Makin tinggi kepadatan, makin kumuh tempat tersebut. 

Bahkan hal ini terjadi di kota-kota padat negara besar sekalipun. Mereka harus dididik untuk mengenal higienitas. Di Jakarta, semuanya masih belum ada. Pemerintah Daerah masih belum memberikan sosialisasi tentang kebersihan kota.

Ketiga, Jakarta yang kotor akan menjadi sangat bau dengan sampah. Makin banyak orang yang ada di suatu tempat, maka produksi sampah juga pasti akan banyak. Tanpa pengelolaan sampah yang benar, Jakarta dipastikan menjadi tempat yang sangat kotor. Kotornya Jakarta menjadi sebuah hal yang akan terjadi.

Keempat, potensi banjir akan muncul lebih tinggi lagi. Mengapa? Apakah karena Jakarta makin berat, maka daratannya makin turun? Ya tidak begitu logikanya. 

Dengan keberadaan sampah yang makin banyak dan tidak adanya pendidikan pengelolaan sampah yang baik, saluran-saluran akan mampet, air akan sulit mengalir. Maka banjir tidak dapat terelakkan.

Keempat mimpi buruk ini akan menjadi kenyataan jika Anies tidak segera mencari solusi atas kepadatan penduduk di Jakarta ini. Seharusnya, justru yang dikerjakan Anies ini adalah bagaimana bekerja bersama dengan pemimpin daerah lainnya, untuk memeratakan penduduk yang ada di pulau Jawa.


Sayangnya, ia tidak memiliki pikiran untuk memeratakan penduduk. Apa yang ia pikirkan sepertinya hanya untuk mencitrakan dirinya yang baik dan merangkul. Padahal apa yang ia kerjakan memiliki potensi yang tidak baik. Potensi untuk rusaknya tatanan kota yang agak kritis ini.

Ia tidak pernah mengakui bahwa Jakarta sedang sakit. Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Jakarta kritis. Air bersih kurang. Transportasi tidak baik. Jalanan buruk. Drainase kurang baik. Kemacetan sangat merajalela. Semuanya masih perlu diperbaiki.

Sebenarnya, upaya Anies dalam mendatangkan pekerja luar Jakarta itu tidak ada masalah. Akan tetapi, hal ini akan menjadi bencana jika tidak ada pekerjaan yang tersedia. Lebih parah lagi, mereka akan menjadikan Jakarta sebagai lahan mereka, untuk menguatkan premanisme. Premanisme muncul karena pemerintahan lalai.

Sayangnya, Anies ini lebih suka memoles dirinya sendiri, melalui pencitraan yang ia kerjakan, ketimbang memikirkan betul-betul Jakarta ke depannya. Ketika dia membuka pintu lebar-lebar bagi para perantau, dia menutup balai kota rapat-rapat dengan tirai dan kain.

Semoga lebaran kali ini warga Jakarta tidak membawa orang untuk ke Jakarta lagi. Kasihan Jakarta, sudah sakit, tambah sakit.

Artikel Terkait