Karya sastra terkadang lahir dari permasalahan sosial masyarakat sehingga sering kali ketika menikmati karya sastra , kita menjumpai nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam karya sastra tersebut. Saya memilih Cerpen "Dilarangan Mencintai Bunga-Bunga" karena menurut saya adanya kesamaan alur antara alur di dalam cerpen dengan di dunia nyata dan adanya pengalaman pengarang dalam cerpen tersebut.

Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo adalah sebuah cerpen yang menceritakan tentang seorang anak laki-laki atau tokoh Aku yang dilarang keras oleh ayahnya karena mencintai bunga-bunga. 

Anak yang di panggil ayahnya dengan sebutan Buyung tersebut mencintai bunga-bunga karena pengaruh seorang kakek yang tetanggaan oleh tokoh Aku,  kakek tersebut  mempunyai kebun bunga dan menganggap kebun bunga tersebut tempat ketenangan jiwa dan kesempurnaan hidupnya sehingga tidak terlalu memikirkan duniawi.  

Sedangkan seorang Ayah yang berperan sebagai orang tua tokoh Aku selalu mengatakan bahwa laki-laki tidak perlu bunga dan Ayah  mengajarinya bahwa mencapai kesempurnaan hidup adalah dengan bekerja. Sedangkan tokoh Ibu adalah orang yang bijaksana.

Sebelum kita mengetahui pendekatan mimetik yang terdapat dalam cerpen "Di Larangan Mencintai Bunga-Bunga" kita harus tahu terlebih dahulu pengertian pendekatan mimetik tersebut. Menurut Abrams (dalam Siswanto, 2008:188) pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai imitasi dari realitas.

Pendekatan Mimetik dalam cerpen Dilarangan Mencintai Bunga-Bunga, yaitu sebagai berikut.

Pertama, dalam cerpen Dilarangan Mencintai Bunga-Bunga terdapat pendekatan Mimetik ketika seseorang ayah sedang berbicara dengan anaknya. Kutipan tersebut sebagai berikut.

" Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan bolehlah. Tetapi, engkau laki-laki."

Pada kutipan di atas dikatakan bahwa seseorang laki-laki tidak perlu bunga, namun kalau perempuan boleh. Hal tersebut sering terjadi pada kehidupan nyata, realitasnya dalam kehidupan sering kali gender seseorang menjadi beban terhadap apa yang harus dikerjakannya dalam hidup dan menjadi beban sepenuhnya yang harus diikuti. Ketika seorang laki-laki menyukai bunga, boneka, ataupun hal lainya terkadang ia disebut banci oleh lingkungan sekitarnya.

Kedua, dalam cerpen "Dilarangan Mencintai Bunga-Bunga" terdapat pendekatan mimetik seseorang kakek yang sedang berbicara kepada seorang anak. Kutipan perkataan tersebut sebagai berikut.

" Istriku sudah tidak ada lagi Cucu. Di sini aku hidup sendiri. Aku punya anak cucu, Tetapi, mereka jauh di kota lain. Maukah kau menjadi cucuku Sahabat Kecilku?"

Pada kutipan di atas dikatakan bahwa seseorang kakek yang hidup sendiri karena istrinya meninggal dan anak cucu yang tinggal jauh di kota lain. 

Hal tersebut  nampak jelas dalam  kehidupan nyata, banyak orang tua yang sudah menginjak usia manula pada realitasnya ditinggal anaknya yang sudah berkeluarga dan pindah ke kota, sedangkan orang tuanya tinggal sendiri di kampung dengan menghabiskan sisa kehidupannya dan terkadang juga orang tua dititipkan ke panti asuhan.

Ketiga, dalam cerpen Dilarangan Mencintai Bunga-Bunga terdapat pendekatan mimetik, yaitu dikatakan bahwa ayah sudah mulai bekerja dan sore hari kembali. Selain itu terdapat juga perkataan ayah sibuk dengan pekerjaan karena malas adalah musuh terbesar laki-laki.

Baca Juga: Lelaki Cerpen

Pada perkataan di atas  nampak jelas dalam realitas kehidupan, bahwa seseorang ayah harus bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Keempat, dalam cerpen Dilarangan Mencintai Bunga-Bunga terdapat pendekatan mimetik, yaitu dikatakan bahwa ibu yang sudah mulai banyak ksean, seperti biasanya ibuku di mana pun kami ditempatkan.

Pada perkataan di atas kita dapat mengetahui bahwa seorang ibu lebih cepat untuk beradaptasi dengan tetangga ketika baru pindah rumah. Dalam realitas kehidupan, hal tersebut sering terjadi ketika keluarga pindah rumah, seorang ibu cepat beradaptasi atau mengenal tetangga karena ketika berbelanja sayur, sering ibu-ibu pada ngobrol.

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa cerpen "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" terdapat pendekatan mimetik, yang di mana dalam cerpen tersebut terdapat realitas dalam kehidupan kenyataan. Bentuk-bentuk mimetik tersebut yaitu, pertama bahwa seseorang laki-laki tidak boleh mencintai bunga-bunga, kedua kehidupan seorang kakek yang hidup sendiri dan anak cucu yang tinggal di kota, ketiga kerja keras seorang ayah untuk keluarganya, dan keempat seorang ibu yang mudah beradaptasi dengan tetangga ketika baru pindah rumah.

Selanjutnya, dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga juga terdapat pendei ekspresif, yaitu dalam bentuk pengalaman pribadi pengarang yang ada di dalam cerpen tersebut.

Kuntowijoyo berkata cerpen  "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" yang saya buat pada 1968. Seinga saya, hanya ada 3 pengalaman pribadi yaitu pekerja keras, berpindah-pindah, dan laki-laki pencinta bunga.

Pertama, pekerja keras  itu adalah tetangga saya. Dia orang jepang tidak kembali setelah Jepang kalah, mengawini perempuan tetangga saya, dan berganti nama dengan Saleh. Dia bekerja di rel kereta api, entah kapan berangkatnya, tetapi selalu pulang selepas magrib lewat depan rumah.  Jalannya tampak bergegas, tidak peduli orang lain sehingga saya pun tidak pernah menegurnya

Kedua, berpindah-pindah tempat adalah pengalaman keluarga saya.  Sebagai pegawai rendahan di perusahaan Negara Garam ayah saya selalu berpindah-pindah tempat. Terakhir sekali ayah pindah ke kota Yogyakarta, sebuah kota kedua.

Ketiga,  laki-laki pecinta bunga adalah kawan saya di tingkat pertama universitas. Di kamarnya selalu ada kembang setaman, warna-warni bunga mawar yang dominan.

pengalaman itu tersebar di sana-sini tidak pernah utuh pengarang lah yang harus membuat pengalaman yang hanya berupa potongan itu menyusun struktur yang utuh dan bermakna.

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui pendekatan ekspresif dalam cerpen "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga".