18198_12009.jpg
La Nota Sociológica
Seni · 6 menit baca

Mimesis dan Fungsi Psikologi Seni

Aristoteles (384 SM-322 SM) menyuguhkan bagaimana dasar prinsip penciptaan segala bentuk seni dan sains, atau segala hasil buah tangan manusia, yang pada gilirannya merupakan sebuah mimesis dari alam, baik secara moral, kepercayaan, dan kelangsungan dalam bertahan hidup.

Dalam ranah estetika, Aristoteles mengkhususkan perhatiannya pada sastra tragis dan komedi. Namun, sebagaimana yang banyak dijelaskan dalam buku-buku estetika bahwa manuskrip Buku II tentang komedi lenyap dari muka bumi. Maka yang tersisa sebagai panduan untuk mengupas seni, menurut Aristoteles, hanya Buku I yang fokus pada sastra tragis.

Mimesis pertama kali diperkenalkan oleh Platon (427 SM-327 SM), gurunya Aristoteles. Mimesis dijadikan sebagai dasar konsep untuk menjelaskan perihal penciptaan karya seni. 

Platon dalam buku-buku estetika lazim dikenal sebagai pemikir yang secara komprehensif menjelaskan masalah seni. Platon melahirkan bayi gagasannya tentang seni sebagai tiruan atas citraan (mimesis). 

Apa persisnya yang dimaksud dengan seni sebagai imitasi dari alam tidak terlepas dari teori dunia idea-nya Platon yang sangat terkenal itu. Agar kita mudah memahami apa yang dimaksud Platon dengan mimesis, perlu rasanya bagi penulis untuk terlebih dahulu membeberkan secara sederhana teori dunia ideanya Platon.

Dalam banyak pengalaman sehari-hari, kita membiarkan adanya suatu ilusi yang membuat kita manganggap bahwa benda-benda dan objek-objek di sekeliling kita merupakan sebuah realitas terdalam. Platon akan membuktikan bahwasanya itu salah; apa yang kita lihat sebagai realitas, tak lain dan tak bukan hanyalah suatu tampakan atau sebuah tiruan tak sempurna dari dunia idea yang sempurna. 

Hal ini seturut dengan apa yang dijabarkan Palmquis dalam bukunya Pohon Filsafat mengenai epistemologi Platon yang mendasari asumsinya bahwa “forma” atau “idea” merupakan satu-satunya realitas sejati; sedang “zat" atau "bahan”, atau juga disebut “benda”, hanyalah sebuah penampakan dari realitas.

Platon sering dianggap mempromosikan dualisme, yang artinya ada satu dunia ideal yang mendahului dan sekaligus menjadi penyebab adanya dunia indrawi. Merujuk pada novel filsafat yang berjudul Dunia Shopie, Jostein Gaarder menjelaskan dengan sederhana teori dunia ideanya Platon. 

Gaarder menerangkan bahwa teori ideanya Platon diandaikan seperti cetakan kuda, yang bersifat kekal dan tak berubah. Bila di dunia ini kita berhadapan dengan kuda-kuda indrawi yang berubah, menurut Gaarder, kita masih bisa menangkap adanya idea kuda yang tetap, kekal, dan abstrak (Gaarder,2017:146).

Adanya dunia indrawi yang riil ini adalah tiruan atau representasi tak sempurna dari dunia idea yang sudah jelas tentu sempurna. Singkatnya, yang menjadi realitas yang pada hakikatnya nyata adalah idea.

Konsep mimesis karya seni merujuk kepada teori dunia idea yang artinya adalah bahwa karya seni bukanlah tiruan langsung atas hal sesungguhnya, melainkan tiruan atas citraan yang terberi dari alam. Karya seni adalah imitasi dari alam, sedangkan alam adalah imitasi dari dunia idea. Jadi seni, bagi Platon, adalah imitasi dari imitasi. Dalam hal ini, kita bisa menangkap maksud Platon bahwa karya seni haruslah sesuai dengan objeknya.

Seni apa pun itu haruslah merepresentasikan sesuatu, maka tiruan itu harus mirip atau setidaknya mendekati dengan objek yang ditiru. Lebih lanjut, dia akan menjelaskan bahwa proses dalam karya seni juga harus memiliki tujuan dan bahkan kegunaannya bagi masyarakat. Mimesis karya seni dengan Platon bisa kita tempatkan kepada terang dunia idea yang hendak ditirunya. 

Puncak dari segala idea bagi Platon adalah kebaikan, maka nilai keindahan karya seni ditentukan seberapa jauh karya tersebut bisa merealisasikan idea yang baik bagi alam dan manusia. Platon menempatkan kriteria kegunaan moral karya seni sebagai hal yang lebih mendasar dari maksud dan tujuan dari mimesisnya (Suryajaya, 2016:53).

Sebagai seorang murid, Aristoteles juga menggunakan istilah mimesis untuk menjelaskan tentang masalah karya seni. Meskipun Aristoteles menentang sistem gurunya, tapi ia tetap menggunakannya dengan menambahkan beberapa konsep baru. Hal ini merujuk kepada sistem yang coba dibangunnya mengenai mimesis. 

Aristoteles mendasarkan sistemnya pada suatu metafisika yang berseberangan dengan gurunya. Ia menganggap bukan idea yang menjadi dasar dari realitas, melainkan materi dan forma, yang gabungan dari keduanya akan membentuk apa yang dia sebut sebagai substansi.

Apa yang membentuk realitas bagi Aristoteles adalah gabungan antara materi dan forma, bukan dunia idea sebagaimana yang dimaksud oleh Platon. Materi adalah suatu gerak terus-menerus yang pada prosesnya bisa menciptakan bentuk-bentuk yang mengantarkan realitas pada kesempurnaan dunia ideanya Platon. 

Artinya, Platon memulai sesuatu pada aras yang universa menuju yang partikula; sedangkan Aristoteles justru sebaliknya, dari yang partikula menuju yang universa.

Apa yang mengemuka dari perbedaan pandangan dari keduanya adalah mengenai mimesis. Aristoteles mengkritik gurunya, karena baginya mimesis bukan hanya serta-merta meniru sebagaimana adanya, sebagaimana bentuk aslinya dengan syarat-syarat yang berkesesuaian dengan alam, melainkan sebagaimana seharusnya. 

Augusto Boal dalam bukunya Teater Kaum Tertindas memperlihatkan dengan tajam kritikan Aristoteles mengenai mimesisnya Platon. Bagi Aristoteles, kenyataan (realitas) bukanlah salinan atau tiruan idea, meskipun realitas itu memang mengarah kepada kesempurnaan, tapi dia mensyaratkan suatu kekuatan penggerak yang akan membawanya pada kesempurnaan. Kekuatan itulah yang disebut Aristoteles sebagai materi dan forma, sebab materi adalah potensi murni dan forma adalah tindakan murni. 

Gerak segala sesuatu menuju kesempurnaan adalah apa yang kita sebut dengan pelaksana potensi, suatu gerak yang memajukan meteri ke arah bentuk finalnya. Jadi mimesis, menurut Aristoteles, berarti menciptakan kembali gerak sesuatu menuju kesempurnaannya.

Lebih lanjut, Boal menjelaskan bahwa bagi Aristoteles, alam itu cenderung kepada kesempurnaan, yang tidak berarti bahwa alam selalu dapat mencapai kesempurnaan. Singkatnya, alam adalah gerak itu sendiri yang belum tentu dapat mengantarkan alam pada status kesempurnaannya. Tubuh cenderung kepada kesehatan, tapi tubuh dapat sakit; manusia cenderung pada negara sempurna, tapi perang dapat terjadi. 

Jadi, bagi Aristoteles, alam punya tujuan-tujuan pada kesempurnaannya, tetapi alam bisa gagal. Maka di situlah arti dari mimesis bagi Aristoteles, mencipta kembali prinsip-prinsip kreatif di mana seni dan sains bisa mengoreksi alam pada titik kegagalannya (Boal, 2015 :11).

Momen di mana fungsi psikologi seni untuk mengoreksi kesalahan alam atau manusia dapat kita jumpai dalam drama tragedi Yunani. Tragedi Yunani merupakan contoh terbaik untuk menggambarkan mimesis dan fungsinya bagi manusia. 

Aristoteles memperkenal istilah yang menjadi tujuan puncak tragedi Yunani, yaitu katarsis. Tragedi merupakan mimesis dari tindakan atau laku manusia yang berdasarkan jiwa rasionalnya. Hal itu juga berarti bahwa materi dari drama tragedi adalah tindakan.

Tragedi Yunani, bagi Aristoteles, berada pada kerangka epistemologi, yang mana tragedi berupaya memperlihatkan kekeliruan yang diperbuat manusia akibat dari ketidaktahuannya. Dalam drama tragedi Yunani, Aristoteles menyebutnya sebagai pembalikan epistemik, dari kondisi tidak tahu menjadi tahu, sehingga pada akibatnya kekiliruan akibat ketidaktahuanlah yang membuat nasib manusia menjadi tragis.

Momen tragis itulah yang kemudian memunculkan rasa takut dan iba dalam benak penonton, sehingga kemudian penonton secara tidak langsung telah mengalami pembersihan jiwa, atau yang kerap dikenal dengan katarsis. 

Selain dua elemen takut dan iba, ada satu elemen lagi yang tak kalah penting, yakni rasa cinta terhadap manusia. Sebagaimana yang disimpulkan Martin, bahwa tragedi yang baik harus mampu menyentuh sentimen Philanthropon dalam diri penonton (Suryajaya, 2016:59).

Melalui fungsi katarsis, kita bisa menangkap tujuan tertinggi dari seni menurut Aristoteles, yaitu mengoreksi kesalahan alam dan manusia. Berdasarkan itu, kita bisa kembali bertanya, jika sains sebagai penunjang secara praktis dalam kehidupan manusia, lalu apa tujuan dan kegunaan seni bagi manusia dewasa ini? 

Kita perlu berpikir ulang kembali dan menengok lagi pada penjelasan yang diutarakan oleh Aristhopanes. Ia menyatakan bahwa seni adalah gurunya moralitas dan pengamat politik, karena alam telah gagal mengayomi manusia sebagai guru (Aristhopanes, dalam Boal, 2015 :1).

Ini dapat pula kita lihat bagaimana prinsip penciptaan seni lainnya, seperti tari dan musik. Seni sebagai refleksi kehidupan manusia terkait dengan banyak hal ideologi, kritik atas kehidupan, ilmu pengetahuan, budaya, dan kepercayaan sekaligus. Bahwa pada saat ini, ketika alam, agama, budaya, rasio, dan moralitas dalam diri manusia telah gagal menjadi pedoman hidup, maka tugas senilah untuk jadi pembimbing dan pedoman untuk menggambarkan langsung situasi manusia.

Seni sebagai edukasi manusia bukan hanya sebagi hiburan dan entertainer yang dapat mengisi waktu luang dan kekosongan hari manusia, melainkan juga sebagai juru kritik atas pengawasan dari kebutaan manusia yang cenderung melakukan kesalahan tanpa kesadaran. Inilah persisnya apa yang dimaksud dengan fungsi psikologis seni.

Referensi: 

  • Augusto Boal , Teater Kaum Tertindas (Theater Of The Oppressed)
  • Jostein Gaarder, Dunia Shopie (Shopie Word)
  • Martin Suryajaya, Sejarah Estetika
  • Stephen Palmquis, Pohon filsafat (The Tree Of Philosophy)