62565_35879.jpg
Vemale.com
Perempuan · 4 menit baca

Milenial Siap Lawan Kekerasan pada Perempuan

Membaca cerpen dari Tenni Purwati, yang lahir 2 Mei 1986. Ia salah satu generasi milenial yang saat ini berprofesi sebagai wartawan sejak tahun 2011. Cerpen yang ditulis oleh Tenni yang berjudul “Surat untuk Anak Perempuanku” memberikan pembelajaran berharga mengingat sering kali anak perempuan menjadi korban atas kekerasan, baik verbal, fisik, psikis, dan mental.

Dalam cerpen tersebut ditulis pada paragraf terakhir serta memberi pesan moral yang sangat berharga untuk seluruh orangtua yang memilki anak perempuan khususnya. Hal itu dapat dijadikan sebagai termin terhadap kekerasan yang telah terjadi kepada perempuan belakangan ini. 

Pada akhirnya, yang bisa ku lakukan adalah memberimu bekal menjadi manusia yang menghargai kemanusiaan. Kita melawan dominasi laki-laki bukan untuk mengubahnya menjadi dominasi perempuan, tetapi untuk membuat laki-laki dan perempuan di posisi setara sebagai manusia. Baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun terhadap laki-laki dan perempuan lain. Aku yakin kau tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mengerti apa yang kusampaikan.

Tulisan ini secara persuasif mengajak generasi milenial (baby boomers) untuk menghindari karakter rasis, banalistik, vandalis, serta sarkaisme terhadap sesama.

Secara angka kelahiran, bonus demografi generasi milenial dengan kelahiran pada tahun 1980-an sampai 1990-an. Secara jumlah, generasi milenial sangat menentukan arah bangsa ke depan, mengingat 20 tahun ke depan, generasi inilah yang akan menggantikan peran dari generasi X atau saat ini sering kita sebut, generasi ‘jaman old’ yang lahir sekitar era 1960-an hingga 1970-an.

Secara karakter, generasi milenial memilki rasa percaya diri, optimistis, ekspresif, bebas, dan menyukai tantangan. Penulis akan menggarisbawahi ekspresif serta bebas. Sering kali ini dimanfaatkan melaui berbagai macam cara demi mengekspresikan kebebasannya.

Lawan Kekerasan!

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Keras berarti; padat kuat dan tidak mudah berubah bentuknya atau tidak mudah pecah. Sedangkan Kekerasan berarti; perihal (yang bersifat atau berciri) keras; perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Perihal kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi diruang privat, tetapi juga di ruang publik, termasuk di lingkungan sekolah dan kampus. Kekerasan terhadap perempuan jika dikaji secara efistimologi berarti dapat merusak masa depan perempuan tersebut, baik yang bersifat fisik dan psikis. Karena itu penulis berharap semua bentuk kekerasan harus di lawan dan semua kalangan harus bergerak bersama untuk melawan kekerasan itu. Terlebih lagi kalangan milenial sebagai pelopor utama untuk melawan tindakan kekerasan baik terhadap anak dan perempuan.

Pada Senin, (15/1/2018) hadir sebagai narasumber Kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pengendali Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi NTB, dan wakil Rektor UIN Mataram berbincang mengenai kekerasan terhadap perempuan dengan tema “Ciptakan ruangmu, Ciptakan Perubahanmu: Anak Muda Bisa Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan”. Perbincangan itu membahas segala bentuk kekerasan terhadap anak dan perempuan, sebab perempuan secara kodrati diskriminasi dan masih diasingkan baik yang soft hingga dalam bentuk yang radikal. Hal demikian lantas membuat seluruh organisasi kepemudaan dan aktivis muda ditantang menyemarakkan perlawanan terhadap kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Salah satu alasan kenapa marak terjadi kekerasan adalah lemahnya regulasi dan masih kuatnya dogmatisasi laki-laki dalam melegitamasi peran perempuan yang selalu merasa direndahkan dari laki-laki. Di balik itu menjadi hal biasa terjadi dikalangan masyarakat sekarang. Baik itu eksploitasi anak, bullying, pemerkosaan, pencabulan, dan perkawinan anak. Hal tersebut dianggap lumrah terjadi dikarenakan kita sudah terbiasa dan menjadikan hal itu “biasa saja” terjadi sehingga budaya kekerasan marak terjadi di lingkungan sekitar kita. 

Perkawinan anak juga merupakan kejadian biasa terjadi di lingkungan sosial kita, padahal jika dikaji secara kesehatan, merupakan tindakan kekerasan terhadap perempuan, sebab perkawinan anak secara tidak langsung merugikan si perempuan di bawah umur dan rentan terjadi efek sosial berkelanjutan, seperti kemiskinan, gizi buruk, hingga kematian anak dan ibu. Sebab, secara ilmiah perkawinan anak sangat berbahaya bagi fisik dan psikis perempuan.

Hasil analisis dari Badan Pusat Statistik dan Unicef pada tahun 2016 lalu tentang kemajuan yang tertunda; Analisis Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia yang dilakukan di Indonesia. Berdasarkan  hasil sensus 2008-2012  dan sensus penduduk di tahun 2010 tersebut menunjukkan Indonesia tidak hanya tetap tinggi, yakni lebih dari seperenam anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun atau sekitar 340.000 anak. (Harian Kompas, 28/12/2017).

Dalam catatan tahunan 2017 Komnas Perempuan menunjukkan kekerasan di ranah komunitas mencapai 3.092 kasus, (kekerasan seksual 2.290 kasus, fisik 490 kasus, psikis 83 kasus, buruh migran 90 kasus, dan perdaganagan orang 139 kasus). Jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual diranah komunitas adalah pemerkosaan 1.036 kasus dan pencabulan 838 kasus. Hal ini menunjukkan tingginya angka kekerasa pada perempuan membuat Negara ini dalam masalah besar dalam melindungi hak perempuan dan anak dalam menjaga kondisi sosial menjadi lebih baik.     

Maka dari itu penulis mengajak kaum milenial lebih peka terhadap masalah sosial yang dapat merusak tatanan sosial, terlebih lagi harapan penulis untuk pemerintah untuk memberikan sosialisasi secara menyeluruh tentang bahaya pernikahan dini, baik di sekolah sampai perguruan tinggi dalam upaya mengentas efek sosial berkelanjutan. 

Semoga generasi milenial lebih memperhatikan kesetaraan gender dan lebih terbuka terhadap perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan sehingga dapat membangun sinergi ke arah positif, dengan begitu secara demografi kaum baby boomers menjadi penggerak baru dalam menyelamatkan bangsa ini dari tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun.  

Pesan penulis untuk mengakhiri tulisan ini adalah, “Hai kaum milenial, kau harus menjaga dirimu agar tidak menjadi korban kekerasan, juga sekaligus tidak menjadi pelaku kekerasan itu, dengan menjaga keamananmu dan menjaga keamanan orang lain”. Lakukanlah!