Cendol Dawet! Sobat Ambyar! Apa reaksi pertamamu saat mendengar seruan itu?! Pasti kata-kata semacam ini sudah tidak asing di telinga kita. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa dangdut sudah memiliki tempat di hati milenial. Hampir setiap hari alunan dangdut tidak absen dari pendengaran kita. 

Bahkan, dangdut juga terdengar di beberapa tempat seperti klab malam, bar/cafe, hingga panggung festival. Dangdut telah melakukan modernisasi sehingga sesuai dengan selera milenial. Seperti, lirik dan tema lagu yang relevan dengan kondisi remaja. 

Selain itu, dangdut juga telah merambah ke aplikasi yang sedang digandrungi milenial, yaitu tiktok. Dengan cara-cara ini tentu dangdut lebih mudah masuk ke hati remaja.

Dangdut is the music of my country, kok bisa?!

Musik dangdut sendiri merupakan hasil perpaduan antara musik India dengan musik Melayu. Dangdut didominasi dengan iringan alat musik tabla atau gendang. Musik ini telah berkembang dan menjadi musik khas Indonesia. 

Pada tahun 1968, dipelopori oleh Raja Dangdut Bang Haji Rhoma Irama, dangdut mulai dikenal dan menyebar luas.Beliau juga seorang pemimpin dari sebuah grup dangdut bernama Soneta Group, mulai berinovasi dengan lirik-lirik tentang cinta, kritik sosial, pesan moral (keagamaan), nasionalisme dan sebagainya. 

Soneta Group telah memberi warna dominan dalam perkembangan musik Dangdut di Indonesia. Dalam perkembangannya dangdut juga berpadu dengan musik rock. Perpaduan ini terlihat pada gaya panggung, pakaian serta pemakaian perlatan musik untuk menghasilkan irama Melayu (Frederick & Kesumah 1995: 30). 

Di masa film India mulai memasuki Indonesia, perkembangan musik dangdut dan pengaruh film India yang saat itu digandrungi, membuat beberapa penyanyi dan artis muncul dengan lagu bernuansa india. 

Nuansa India terlihat dalam film musikal Serodja (1959) dibintangi oleh Said Effendi, Djuwita (1952), sedangkan lagu India terlihat pada lagu Boneka dari India (1956) dibawakan Ellya Khadam bersama Om.Kelana Ria pimpinan Munif  Bahasuan. 

Sehingga, dangdut juga mulai mendapat pengaruh dari India. Pada tahun 1970, dangdut mulai dipentaskan dengan memadukan alat musik tradisional dan  modern seperti, saxophone, tenor, satu set drum, timpani dan terompet.

Dalam perkembangannya, dangdut juga telah melebarkan sayap melalui film, acara-acara rakyat, panggung hiburan, dan acara politik. Sebagai bentuk meneruskan estafet dangdut, muncul penyanyi dangdut dari kalangan remaja, seperti Via Vallen, Nella Kharisma, Jihan Audy, Lesti, dan masih banyak lagi.

Siapasih yang gak kenal mereka! Mereka telah menjadi idola serta model yang dapat mewujudkan pengalaman pribadi milenial dan mampu menyuarakan kegelisahan mereka. Dari uraian panjang kali lebar di atas, sudah yakin dong kalau dangdut adalah musik Indonesia.

Dangdut? Ih Norak!

Ada juga pihak yang menganggap dangdut itu norak dan kampungan. Salah satu penyebabnya adalah globalisasi yang memungkinkan musik-musik negara lain masuk ke Indonesia. Saat ini banyak milenial yang menyukai musik k-pop. 

Menyebarnya demam korea di Indonesia dikenal sebagai gelombang hallyu atau Korean wave. Saat ini, minat remaja pada k-pop sangat tinggi. Tidak ada kesalahan dalam menyukai musik luar negeri, namun akan menjadi salah jika kita sampai melupakan musik bangsa sendiri. 

Kita boleh menikmati musik negara lain, tapi jangan sampai menghilangkan kebanggaan kita pada musik tanah air. Kita sebagai warga negara Indonesia memiliki tugas untuk melestarikan dan menyebarluaskan musik dangdut. 

Jika k-pop bisa menarik perhatian remaja dan go-internasional, maka dangdut memiliki peluang yang lebih besar. Dangdut tidak hanya digemari satu kalangan, tapi juga semua kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia. Oleh sebab itu, dangdut berpotensi besar untuk go-internasional.

Walaupun dangdut bisa dinikmati dan menarik minat semua kalangan, namun ketika disandingkan dengan musik luar negeri, dangdut cenderung kalah bersaing. Hal ini ternyata disebabkan oleh stigma negatif terhadap dangdut seperti norak, anarkis, dan murahan. 

Stigma ini muncul karena mereka melihat dangdut hanya sebatas hiburang dari kampung ke kampung. Sebenarnya, hal membuat dangdut menjadi negatif adalah penyajiannya. Misalnya, biduan yang dinilai berpakaian dan bergoyang dengan kurang sopan. 

Inilah yang membuat dangdut terkesan negatif dan norak. Namun dibalik semua itu, pada dasarnya musik dangdut dengan penyajian yang tepat akan sangat menghibur dan diminati.

Bahkan, dangdut bisa menjadi sarana edukasi melalui lirik lagu yang dinyanyikan. Sudah pahamkan bahwa dangdut itu keren?! Ketika kita sudah menyadari bahwa dangdut itu keren, maka diperlukan upaya untuk mengembalikan eksistensi dangdut.

Menjadi tugas kita sebagai generasi milenial untuk melestarikan budaya Indonesia. Dangdut memiliki potensi untuk lebih terkenal bahkan hingga go-internasional. Semua ini bergantung kepada milenial sebagai generasi penerus bangsa.

Selain itu, kita juga harus menghilangkan hal-hal yang menimbulkan stigma negatif pada dangdut. Jangan sampai musik Indonesia dipandang buruk karena dilihat dari sudut pandang yang salah. Sehingga dangdut bisa diterima di seluruh kalangan dan menjadi kebanggaan Indonesia.

So, jangan malu menganggap dangdut sebagai musik Indonesia, banggalah dengan musik dangdut. Bagi kalian yang saat ini sudah menyukai dangdut dan berkontribusi dalam pelestarian dangdut, kalian luar biasa membanggakan. Milenial dangdutan? Tarik sis!