2 bulan lalu · 550 view · 4 menit baca · Agama 79309_33187.jpg

Milenial dan Fenomena Hijrah 4.0

Indonesia sedang terkena dampak revolusi industri 4.0, banyak hal yang mempengaruhi perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia, di antaranya aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Pada era ini juga, pembaharuan teknologi begitu canggih, di mana segala aktivitas bisnis sampai cara pandang beragama pun dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat mengelola teknologi. Lalu, apa hubungannya revolusi industri 4.0 dengan hijrah?.

Pembahasan kali ini mencoba mengulas fenomena hijrah yang sudah tak asing lagi ditemui pada banyak kalangan Muslim Milenial  ̶ terutama para akhwat atau muslimah. Aktivis hijrah yang mulanya berasal dari daerah perkotaan, perlahan memasuki wilayah pedesaan. Hal ini disebabkan arus informasi yang begitu cepat.

Hal yang tampak secara fisik adalah bagaimana kaum muslimah milenial tampil modis dengan model pakaian yang tertutup  ─style hijab─ yang digunakan begitu banyak menghiasi tanah air kita.

Pemahaman keagamaan terkesan instan didapatkan dari akun-akun dakwah berupa cuplikan-cuplikan ceramah bahkan video singkat, melalui jalan dakwah media sosial para Ustadz Milenial mulai membagikan cuplikan motivasi seputar Islam.

Sebagaimana dapat dilihat dari banyaknya followers Instagram dari beberapa akun ustadz atau pun organisasi aktivis dakwah, seperti  ustadz Hanan Attaki 6,4 juta, akun Organisasi Pemuda seperti Shift (Pemuda Hijrah) yang mencapai 1,9 juta pengikut.

Jelas, strategi dakwahnya dikemas secara unik dan menarik. Materi dakwah disuguhi hal-hal yang konteksnya sedang hangat diperbicangkan. Sasaran dakwah kebanyakan adalah kawula muda muslim ─sekitar jati diri, motivasi, politik, pergaulan dan bahkan bagaimana menjaga hati.

Apabila ditinjau dari makna, dalam buku Kelengkapan Tarikh Jilid 1 yang ditulis oleh Moenawar Chalildijelaskan bahwa kata hijrah berasal dari Bahasa Arab dan dapat disimpulkan menjadi tiga makna.

Pertama, berpindah dari suatu tempat menuju tempat lain. Kedua, meninggalkan semua perbuatan yang dilarang oleh Allah. Ketiga, menjauh dari pergaulan dengan orang-orang musyrik. Makna pertama dan kedua tidak menjadi soal pada pembahasan ini, akan tetapi makna yang ketiga menjadi topik menarik untuk dibahas.


Makna ketiga yakni menjauhi pergaulan dengan orang-orang musyrik, maka yang dijauhi ialah orang-orang musyrik. Akan tetapi, kejadian yang bermunculan bukan hanya orang musyrik yang dijauhi tetapi dengan saudara sesama muslim pun juga seperti ada stratifikasi sosial, artinya ada kesenjangan antara kelompok atau komunitas yang sudah berhijrah dengan orang yang belum berhijrah. Seseorang yang baru berhijrah akan bergaul dengan orang yang dirasa se-kufu dalam segi fashion, majelis ta’lim dan kelas sosial.

Pemahaman mengenai hijrah menimbulkan sebuah asumsi, bahwa arus informasi seputar Islam terjadi begitu cepat dan mudah.  Kalau dahulu kala, masyarakat harus mendatangi langsung (metode Talaqi), majelis-majelis pengajian dengan jarak tertentu. Saat ini para kaula muda atau Muslim Milenial begitu cepat dan praktis dalam mempelajari Islam  ̶ dengan media sosial baik Instagram, Facebook, Twitter, dan Youtube.

Terjadinya revolusi hijrah 4.0 ini berdampak pada banyaknya kalangan muslim dan muslimah muda yang berhijrah, sehingga banyak bermunculan influencer muda yang memulai dakwahnya dari media sosial.

Akan tetapi, tidak sedikit dari para pelaku hijrah yang menampilkan bahwa berhijrah itu tidak murah. Merubah penampilan ternyata lumayan menguras kantong, dan jika dilihat kembali hijrah dapat disebut sebagai ajang untuk aktualisasi diri.

Biasanya, seorang yang berhijrah dikarenakan tertular virus hijrah yang sedang trend pada saat itu, dapat merubah secara ekstrem individu seseorang, ─misalkan menjadi muslim yang ke-arab-araban dengan menutup aurat secara menyeluruh. Atau memunculkan konten dakwah yang mengkritisi secara keras apa yang terjadi disekitarnya, dan menganggap salah kepada mereka yang tidak sepemikiran.

Lantas apakah hal yang seperti ini yang diinginkan dalam Islam? Tentu tidak. dikarenakan Islam mempermudah seseorang dalam beragama, dan bergaul dengan sesama tanpa melihat stratifikasi sosial. Bahkan, Islam tidak mempermasalahkan adanya perbedaan.


Dalam surat Al-Hujrat [49]: 13 misalnya menyebutkan “Hai manusia, sesungguhnya kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”.

Sikap yang ditawarkan penulis kepada  Muslim Milenial yang hendak berhijrah, atau yang sudah berhijrah ialah,  pertama hendaknya berfikir secara moderat akan tetapi tidak liberal, faham benar batasan-batasan akan tetapi tidak kaku dalam menjalankan syari’at.

Kedua, hendaknya lebih bijaksana dalam menerima perbedaan. Ketiga, memperbanyak referensi lagi mengenai dasar-dasar yang dianut seseorang yang memiliki pemikiran berbeda ─setidaknya membaca sendiri, dan berdiskusi dengan orang lain hingga memperluas wawasan.

Dalam tulisan ini penulis ingin berpesan, percepatan informasi yang begitu cepat, kita tidak hanya menerima informasi dari apa yang didengar, akan tetapi dengan memfilter informasi dan tetap belajar dari sumber yang lebih objektif, kemudian selalu menjunjung kedamaian antar sesama manusia sebagai makhluk-Nya.


Sebagaimana kata-kata yang dikutip dari Ibnu Arabi “Sesungguhnya cinta tulus antar manusia adalah awal perjalanan menuju pengenalan kepada Tuhan, memasuki pengalaman mencintaiNya dan limpahan anugerah serta kemurahanNya”.

Oleh karena itu, tebarlah cinta kepada manusia dengan cara-cara yang baik dan lembut, kurangi memprovokasi, karena itu hanya akan mengeraskan hati. Islam itu rahmat bagi seluruh umat, baik bagi muslim sendiri maupun bagi ia yang non muslim.

Artikel Terkait