Menarik membaca artikel yang ditulis oleh Dara Adinda Kesuma Nasution di situs Qureta ini yang berjudul Dilan, Milea, dan Modal Erotis. Artikel tersebut dimulai dari pembacaan kritis Dara tentang sebuah artikel yang ditulis Pertiwi Yuliana, di mana Yuliana merasa bahwa ada yang salah dalam film Dilan, terkhusus dalam merepresentasikan Milea sebagai sosok perempuan.

Bagi Yuliana, penggambaran Milea dalam novel maupun film sangat mengecewakan. Sebab, bagi Yuliana, karena Milea dihadirkan tidak lebih sebagai objek semata. Objek yang dimaksud adalah objek seksual bagi Dilan, yang nampaknya begitu “agresif” berusaha mendapatkan cintanya.

Yuliana sendiri mengaku telah mencoba mencari-cari di mana letak “kelebihan” Milea selain paras cantiknya. Ternyata, menurut pengakuan Yuliana, ia tidak berhasil menemukannya.

Semula ia berpikir bahwa Milea unggul dalam hal akademik, tetapi ternyata Dilan lebih unggul. Sehingga hanya faktor cantiklah yang membuat Dilan tertarik pada Milea. Lalu Yuliana menarik kesimpulan bahwa dalam film Dilan, sosok Milea adalah wujud “pengaminan konstruksi patriarki” yang menurutnya mereduksi wanita sekadar tampilan fisiknya saja.

Di mata Dara, penyimpulan ala Yuliana tidak sepenuhnya tepat. Bagi Dara, modal cantik –dalam istilah Dara modal erotis– itu bukan sesuatu yang selalu terkait dengan dominasi patriarki dan akan menyudutkan kaum wanita. Justru dengan modal kecantikan itulah wanita dapat memetik keuntungan tidak terkira di berbagai bidang.

Semisal di dunia kerja, di mana menurut Dara, wanita yang memiliki modal erotis berpotensi memiliki penghasilan di atas rata-rata manusia pada umumnya. Termasuk tentunya kaum laki-laki.

Dengan kata lain, di mata Dara, kecantikan wanita bukan sesuatu yang “kotor” dan harus “dikutuki”, tetapi harus disyukuri. Tentunya dengan syarat jika wanita sebagai subjek itu mampu mempergunakannya secara bijak.

Sebenarnya cara berpikir Dara tentang konsep modal erotis ini sejalan dengan konsepsi Bourdieu mengenai modal budaya. Di mana kecantikan atau ketampanan (bisa alamiah atau “kreasi”) mempengaruhi posisi seseorang dalam ranah sosial, termasuk juga menjadi sumber kekuasaan penting yang dapat dia gunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan status sosialnya.

Itulah mengapa masyarakat remaja Korea Selatan, misalnya, mendambakan kado ulang tahun mereka berupa “tiket” untuk operasi plastik. Alasannya bisa ditebak, dengan mengubah wajah mereka yang mungkin “pas-pasan” menjadi secantik Bae Suzy atau Lee Min Ho – konon Lee Min Ho sendiri oplas – maka dengan segera mereka punya daya tarik tersendiri yang dapat dikapitalisasi untuk meningkatkan status sosial mereka. Impian untuk memasuki dunia modelling, keartisan, dan dunia gilrband/boyband, misalnya, menjadi terbuka lebar.

Impian semacam ini, misalnya, dapat disaksikan dalam sebuah film layar lebar berjudul 200 Pound Beauty, yang juga diproduksi oleh sineas Korea Selatan. Dalam film ini dijelaskan transformasi seorang Hanna Kang menjadi Jenny – identitas barunya – setelah melalui rangkaian operasi plastik.

Hanna Kang yang dulu dihina, dilecehkan, dan dianggap sebelah mata karena tubuhnya yang “gendut” berubah statusnya menjadi orang yang dipandang dan begitu dihargai saat menjadi Jenny yang cantik dan berpostur ideal.

Sebagai contoh, dalam sebuah adegan di film tersebut, Jenny tidak sengaja menabrak mobil orang. Ketika para pengemudi yang marah mendatanginya – termasuk polisi – untuk meminta ganti rugi padanya, dengan segera mereka mengurungkan niatnya bahkan menganggap masalah tidak ada. Lebih jauh, mereka justru menanyakan apakah Jenny mengalami luka karena kejadian tadi. Nampak jelas kekuatan kecantikan dalam penggambaran tersebut.

Contoh di atas sejatinya memperkuat argumen Dara bahwa kecantikan tidak pasti harus dipandang akan merugikan wanita, tetapi bisa jadi justru memperkuat posisinya.

Satu hal yang menurut saya, ada yang kurang dari argumen Dara ketika mengkritik artikel Yuliana adalah agumentasi Dara yang “kurang membumi”. Maksud “kurang membumi” di sini ialah memang benar kecantikan tidak pasti menandakan bahwa posisi wanita tersebut termarginalkan – atau lebih tepatnya menjadi objek semata.

Tetapi, bagaimana dalam kasus relasi Milea dan Dilan? Apakah dalam kasus ini Milea merupakan objek semata? Poin inilah yang nampaknya tidak begitu terjelaskan dari argumentasi Dara – setidaknya menurut pandangan saya.

Saya berargumen bahwa posisi Milea dalam film Dilan tidaklah marginal atau sekadar objek saja, tetapi justru memainkan peran yang sentral dalam film tersebut. Kesalahan berpikir Yuliana menurut saya adalah ketika ia menyaksikan posisi Milea yang nampaknya “pasif” sedangkan Dilan dalam posisi yang “aktif” mendekatinya, maka dengan segera Yuliana mengambil kesimpulan bahwa yang “pasif” itu adalah objek semata.

Cara berpikir di atas jelas mengandung kekeliruan serius. Jika kita merujuk pada konsep relasi tuan dan budak (Herrschaft und Knechtschaft) yang dikemukakan Hegel, di mana konsepsi ini juga menjadi pijakan penting bagi teorisi feminis kenamaan Beauvoir, akan nampak ada cara berelasi yang luput diperhatikan Yulaina.

Bagi kebanyakan orang ketika membayangkan relasi antara tuan dan budak, nampak bahwa sang tuan berada pada posisi di atas budak yang dimilikinya. Namun, bagi Hegel, gambaran tersebut tidak tepat karena hanya menyentuh apa yang nampak di permukaan saja.

Sejatinya tuan tidak akan bisa menjadi tuan jika tidak ada budak. Dengan kata lain, ada ketergantungan tuan pada budak tersebut. Sehingga posisi tuan di sini sejatinya dependen dengan sang budak.

Jika dikaitkan dengan film Dilan, setidaknya berdasarkan pengamatan terbatas saya pada trailer yang sudah dirilis secara resmi, maka kita dapatkan situasi yang serupa dengan kondisi tuan-budak yang dibicarakan Hegel. Dilan tidak akan menjadi Dilan dengan segala keunikannya – cara pendekatannya yang unik, rayuannya yang unik, kadonya yang unik, dan berbagai tingkah lakunya yang unik itu. Hal ini hanya bisa terjadi ketika Dilan pertama kali bertemu dengan sosok Milea.

Memang posisi Milea terkesan pasif, walau sebenarnya lebih tepat disebut pasif yang aktif, karena sejatinya sejak ia bertemu Dilan, ia sudah memilih menunjukkan sikap tertentu, yakni cuek dan ketus terhadap Dilan. Dari sikap cuek dan ketus itulah dimulailah relasi dialektika sehingga menghasilkan sosok Dilan yang unik tersebut. Sehingga sejatinya eksistensi Dilan yang unik tersebut – sadar ataupun tidak – banyak dibentuk oleh Milea.

Tentu perlu ditegaskan di sini bahwa relasi dialektis Mila-Dilan tersebut sejatinya tidak berujung pada peneguhan posisi Milea sebagai pusat – karena kemudian sosoknya juga dipengaruhi Dilan, tetapi juga tidak lantas menjadikan Dilan sebagai pusat. Keduanya saling dependen sehingga melahirkan kisah cinta romantis yang unik tersebut.

Meminjam bahasa Derrida, mungkin inilah fase diseminasi, di mana sejatinya tidak ada pusat dan tidak ada dominasi satu pihak, entah dalam bentuk dominasi maskulin atau dominasi feminin.

Satu hal yang pasti, sosok Milea bukan representasi dari “pengaminan konstruksi patriarki”, tetapi justru gugatan terhadap konstruksi patriarki. Karena tanpa Milea tidak akan ada Dilan dan tidak akan ada pula novel dan film Dilan yang bisa kita nikmati sekarang ini.