Lek Sun demikian saya memanggil pria penjual mie ayam dikampungku, sudah lebih 30th dia berjualan mie ayam sebagai lahan nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya. Sosoknya yang sederhana, murah senyum dan lapak yang ala kadarnya membuat pikiran ini tersadar bahwa Tuhan menjamin rezeki setiap hambanya selama dia mau berikhtiar.

Persisnya tahun 1985 saat pertamakali saya mencicipi mie ayam racikan lek sun, tak ada yang menyuruh dan mengiming-imingi saat itu namun ramainya pengunjung membuatku berkeinginan mendekat dan mencoba adonan mie buatannya. sambil menahan air liur saya mencoba membayangkan berapa enaknya mie ayam yang saat itu lagi menjadi buah bibir orang dikampungku, setelah hampir satu setengah jam mengantri tiba pula giliranku untuk mencecapnya.. dan rasa itu memang benar adanya, dia tak bohong.. bahkan sampai 30th kemudian saya masih jadi pelanggan setianya.. 

Banyak yang memberikan nasehat saat itu untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi mie ayam, mereka bilang kebanyakan saus akan membuat otak kita jadi bebal dan susah buat belajar, ada lagi yang bilang mie ayam ini makanan tanpa gizi dan hanya sekedar memanjakan lidah belaka. tapi bagi orang kampung kayak saya mie ayam ini sudah jadi kemewahan tersendiri, maklum saat itu kita tak mengenal makanan kota kayak spaghetti ataupun bakmie GM yang namanya melegenda di ibukota.

Entah semacam sugesti atau apalah, belom lengkap saat pulang ke semarang tanpa mampir ke warung mie ayam lek sun ini, aku abaikan ungkapan seorang filosof 'Let your food be your medicine, and your medicine be your food' [Hippocrates]. Lha wong nyatanya mie ayam itu mampu membuatku berkeringat saat menyantapnya, kata orang jawa saat kita makan makanan sembari berkeringat itulah tandanya jasad kita masih sehat. Bahkan dikala sakit ringan, salah satu 'obat' tradisional yang biasa saya jalani ya makan mie ayam ini..

Kalau menurut orang Cina [berhubung ini malam imlek] mie itu memiliki filosofi yang tinggi, mie juga memiliki sejarah yang cukup panjang dalam tradisinya. Bagi bangsa Cina, mie adalah simbol kehidupan yang panjang. Bentuknya yang panjang dan tidak mudah putus adalah gambaran harapan umur panjang. 

Mie ayam di Indonesia tentunya sudah mengalami modifikasi menyesuaikan dengan selera penggemarnya, walaupun beda2 versi, inti mie ayam ini ada pada  adonan mie dan daging ayam cincang manis plus sedikit daun bawang. sisanya saus sambal dan kecap manis secukupnya jadi tambahan penyedap rasa, apalagi kalau ada kerupuk gendar renyah yang tiba2 menyelinap dikala mie ayam mulai terhidang diatas meja..

Bagi sebagian orang makanan cukuplah asal membuat perut kenyang, tp Bondan winarno, seorang ahli kuliner yang terkenal dengan ungkapan 'mak nyuss' ini punya pandangan lain tentang makanan. Menurutnya makanan ini tidak semata berurusan dengan goyang lidah dan perut kenyang, tp juga sebagai identitas diri dimana seni dan gaya hidup mempengaruhi laku seseorang didalamnya. Hal ini berkorelasi positif dengan semakin menjamurnya wisata kuliner dibeberapa daerah.

Sekarang kita bisa jumpai banyak wisata kuliner bertebaran dengan sajian khas yang dibarengi brand citarasa sebagai pembungkus jualan. lokasi strategis dan kenyamanan tempat tentu juga menambah khusyuk orang kala menyantap makanan, dalam iklan mereka semua berlomba menyajikan sebagai yang nomor 1. dari mobil yang terparkir kita juga bisa bayangkan berapa harga yang harus dibayarkan saat memasuki wisata kuliner tersebut. singkat kata wisata kuliner bisa menjadi alternatif bisnis yang menjanjikan selama kita bisa mengemasnya [branding] dengan baik.

Branding makanan ini juga bukan sesuatu yang mudah karena makanan juga memiki kelas sosial, karl max dalam teori sosialnya pernah berpendapat ada dua kelompok sosial yang bersisian satu dengan yang lain, yakni borjuis dan proletariat. Teori marx ini  penting dimana kelas kepentingan sarat didudukkan dengan peran dan atribut masing2.

Hal ini juga senada dengan makanan,  contohnya nih.. walaupun dibuat dari bahan yang sama [mie] dan memiliki bentuk yang mirip, bisa dikategorikan spaghetti termasuk kelas borjuis dan mie ayam ini masuk kategori proletariat. Kelas penikmat spaghetti tentu berbeda dengan kelas penikmat mie ayam bukan.. ??

Mungkin dibutuhkan 'bungkus' yang lebih elegan terkait dengan mie ayam ini, supaya citra dan identitas yang melekat bahwa mie ayam ini makanan masyarakat kelas bawah [baca proletar] bisa sedikit terangkat ke permukaan sebagaimana pecel lele lela dan surabi teras yang telah sukses mentransformasi diri jadi kuliner yang memiliki identitas, disini tentu dibutuhkan sentuhan tangan kreatif dan promosi yang memadai supaya para pedagang mie ayam bisa sedikit berbangga diri bisa bersanding dengan lainnya.

Tidak butuh teori yang ndakik ndakik semacam blue ocean strategy atau continual processing improvement untuk bisa memplacement bisnis mie ayam ini dengan baik, tempat yang strategis dan bantuan modal nir agunan bisa jadi modal awal yang cukup, plus perlindungan dari para preman yg suka main palak seenak jidatnya sendiri. sisanya biarkan seleksi alam yang berbicara, toh mereka juga paham dalam logika bisnis pelanggan akan datang sendiri manakala rasa sudah melekat dalam benak penggemarnya.

Akhirul kalaam.. bisa dibayangkan orang kayak saya yang  lebih menggemari mie ayam daripada spaghetti, laku dan pikiran ala orang kampung pun pada akhirnya tetap melekat walau lidah ini sudah mencecap beberapa menu timur tengah dan eropa, mulai kuliner harga kaki lima sampai restoran d hotel bintang lima pun pernah dicoba. [walaupun subjektif] dengan bangga saya bisa berujar 'mie ayam lek sun' masih tetap yang paling mak nyusss dibanding masakan lainnya.

Tak peduli mau dianggap kelas proletar atau tidak, selama lidah ini masih cocok bungkus sajalah.. Ini selaras dengan salah satu ungkapan bijak jawa yg saya yakini 'dumuning urip ono sak jeroning ati, dumuning roso ono sak jeroning lathi.. '. 

Semarang, 7 februari 2016