Anak adalah sebuah karunia Tuhan yang sangat berharga. Tanpa seorang anak, sebuah keluarga tentunya merasakan ada hal yang kurang lengkap dalam kehidupannya. Kendati demikian, pantas kiranya negara kita memberi hari istimewa untuk sosok seorang anak.

Seperti halnya peringatan hari-hari penting lainnya, hari Anak Nasional juga perlu dihayati dan direfleksikan. Agar hak dan kewajiban seorang anak dapat terpenuhi, minimal dari lingkungan keluarga.

Terus bagaimana cara yang pas untuk memperingati dan merefleksikan hari Anak Nasional ini? Tentunya dari kita memiliki cara masing-masing dalam merefleksikan hari Istimewa tersebut. Bisa dengan bermain bersama anak, membaca buku atau artikel-artikel bertemakan parenting, hingga menonton film bersama keluarga.

Jika kalian memiliki waktu luang lumayan banyak dan lebih memilih untuk memperingati hari Anak Nasional ini dengan menonton film, saya rekomendasikan untuk menonton film Mid90s. Film sederhana yang pas ditonton di hari Istimewa ini.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang film ini, saya mau kasih peringatan, bahwa artikel ini mengandung spoiler sebanyak lima sendok makan. Jadi bagi kalian yang nggak ingin kemanisan buat menikmati filmnya, sebaiknya tonton dulu filmnya baru balik ke artikel ini lagi. Kalau tetap doyan spoiler, ya nggak masalah dilahap saja.

Oke, lanjut…

Jika kalian pernah menonton film yang pemeran utamanya anak kecil, maka adegan atau scene yang akan disajikan bakal nggak jauh sama petualangan, problem keluarga, sekolah, dan paling mentok dikasih adegan nusuk leher para perampok, seperti peran Reina di film “The Night Comes For Us” (2018). Itu pun hanya jadi pemeran pendukung.

Namun di film Mid90s ini, sang sutradara (Jonah Hill) berani keluar dari zona itu semua. Ia siap menerima stigma dari penontonnya akibat keputusannya memberi adegan-adegan ngawur kepada anak di bawah umur. 

Bagaimana tidak, dalam film ini, Stevie (Sunny Suljic) yang menjadi pemeran utama akan menjalani beberapa adegan yang sangat tidak etis jika dilakukan oleh anak seusianya. Seperti merokok, mabuk, nge-flay, sampai yang paling ngeselin main cewek (nggak usah bayangin gimana cara mainnya).

Film Dua Garis Biru yang modelnya kayak gitu aja sudah banyak yang debat, padahal yang meranin udah tergolong dewasa. Apalagi film Mid90s ini, pastinya haram total masuk bioskop Indonesia.

Secara garis besar, film ini menceritakan kisah Stevie yang berumur 12 tahun (kurang lebih kelas 6 SD) mengalami problem serius dengan sang kakak, Ian (Lucas Hedges). Stevie merasa nggak kerasan tinggal di rumah karena sering mendapat penganiayaan dari sang kakak, sehingga ia memilih untuk mencari kebahagian di luar rumah.

Sayangnya, keputusan tanpa pertimbangan yang matang menjadikan Stevie anak yang nakal dan nggak nurut orang tua (maklum, namanya juga bocah). Yang semula Stevie adalah anak pendiam dan polos, kini sifatnya berubah drastis semenjak ia jarang di rumah.

Stevei merasa nyaman dengan lingkungan barunya, meski orang-orang yang ada dalam kelompok tersebut tergolong lebih tua dari dirinya. Hari-hari Stevie dihabiskan bersama kelompok yang berisikan 4 remaja tanggung, Ruben (Gio Galicia), Fuckshit (Olan Prenatt), Ray (Na-kel Smith) dan Fourth Grade (Ryder McLaughlin), yang mana mereka semua datang dari latar belakang keluarga yang sama; keluarga yang nggak harmonis.

Pada bagian ini, karakter Stevie dibangun dengan sangat kuat dan rapi. Sehingga kita yang menonton akan merasakan fantasi perubahan karakter yang sangat mencolok. Selain itu, dialog dan konflik yang disajikan nggak jauh dari kehidupan masa kecil kita, sehingga kita nggak perlu bingung dan mengulangi adegan-adengan sebelumnya.

Namun bagi kalian yang belum pernah menonton film ini, nggak perlu berekspektasi terlalu tinggi. Sebab sang sutradara sendiri nggak terlalu memperhatikan bagaimana memberi sinematografi yang bisa memanjakan mata, atau latar tempat yang pas buat shot-shot biar penontonnya nggak bosan. Sebab yang diutamakan oleh Jonah Hill adalah kerapian plot cerita dan pembangunan karakter yang kuat pada setiap pemerannya.

Jika di Indonesia, film ini mirip dengan alur cerita yang dibawakan oleh Angga Dwimas Sasongko dalam film NKCTHI-nya. Sama-sama mengangkat tema tentang bagaimana keluarga turut andil dalam pencarian jati diri seorang anak. 

Ibarat NKCTHI adalah pelajaran hidup yang disampaikan oleh seorang professor yang ilmunya sudah paripurna, maka Mid90s adalah pelajaran hidup yang dituturkan secara sederhana oleh guru-guru TPQ di desa. Iya, sederhana banget.

Ada beberapa poin dan pesan moral yang bisa kita ambil setelah menonton film ini.

Pertama, anak seusia Stevie adalah fase di mana anak hanya membutuhkan seorang teman bermain, bukan seorang yang suka mengklaim salah dan benar. Sebab jika ia sering mendapat diskriminasi, maka jangan salahkan jika ia akan nekat mencari lingkungan yang bisa memberi ia kebahagian, seperti apa yang dijelaskan oleh Jonah Hill dalam film ini.

Jangankan Stevie, saya pun kalau lagi nggak enak hati sama bapak atau ibu saya akan keluar rumah, entah itu main ke rumah teman ataupun nongkrong di warung kopi. Dan saya akan kembali ketika suasana hati udah agak mendingan.

Kedua, keluarga adalah faktor terpenting dalam pembentukan karakter setiap anak. Tidak hanya orang tua, saudara pun punya peran penting di dalamnya. 

Seperti yang telah disampaikan dalam film ini, bahwa penyebab Stevie merasa nggak kerasan di rumah adalah sebab kelakuan ngawur dari sang kakak. Dari situ, Stevie pun ngambek dan sering keluar rumah, sehingga keluarga kehilangan kontrol dalam mengawasi perkembangan Stevie.

Ketiga, ketahuilah bahwa anak seusia Stevie adalah peniru yang baik. Pada bagian ini, kita akan dihadapkan pada kenyataan seorang anak kecil yang mengalami transisi perilaku setelah bergaul dengan orang-orang yang tidak sepatutnya ia temani. Mulai dari bagaimana cara menyulut dan mengisap rokok, hingga bercumbu dengan wanita yang terpaut tua dengannya.

Bagi saya, Jonah Hill telah menyampaikan pesan tersebut dengan rapi dan tidak terkesan menggurui. Sebagai penonton, kita tidak akan merasa ilfil pada setiap scene dan adegan yang mengandung pesan-pesan penting. Sebab setiap dialog dan perubahan karakter diberikan sesuai porsi yang pas serta peristiwa-peristiwa yang relevan dengan keseharian kita.

Maka dari itu, di Hari Anak Nasional ini, penting kiranya kita beserta keluarga memperingatinya dengan menonton film yang berdurasi 1 jam 25 menit ini, agar kita bisa menyelamatkan seluruh anak-anak yang salah pergaulan, dan bisa membangun lingkungan keluarga yang menyenangkan.