Selain tentang fakta bahwa sesungguhnya Indonesia adalah kaya akan beragam sumber daya, berbicara mengenai lingkungan hidup, kita tidak bisa melupakan letak geografis Indonesia yang berada di silang benua dan silang samudera.

Selain itu, Indonesia juga berada dalam zona Ring of Fire yang membuat di Indonesia banyak terdapat gunung api aktif. Hal ini membuat kerentanan terhadap bencana, baik berupa bencana hidrometeorologis maupun bencana geovulkanis di Indonesia lumayan tinggi.

Ditambah lagi dengan keadaan hari ini. Pemanasan global yang semakin parah membuat pencairan lapisan es di dua kutub bumi semakin cepat sehingga memicu terganggunya sirkulasi arus laut. Terganggunya sirkulasi arus laut memicu terjadinya perubahan iklim dan akhirnya menyebabkan lebih sering timbul badai di daerah lintang sedang yang ekornya sangat berpengaruh di daerah tropis seperti Indonesia.

Meningkatnya intensitas bencana alam berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat Indonesia yang masih belum tangguh bencana alam. Masih kurangnya pembelajaran serta pelatihan mitigasi bencana menyebabkan masih tingginya jumlah korban ketika suatu bencana alam terjadi.

Selan itu, di sebagian lingkungan masyarakat tradisional, mempelajari kebencanaan juga terhambat adanya pandangan tabu membicarakah hal-hal buruk yang akan terjadi di masa mendatang, termasuk mengenai bencana alam.

Kita tidak akan pernah mungkin menghapuskan sebuah bencana alam. Itulah mengapa satu-satunya hal yang bisa dilakukan, sesuai dengan rumus mitigasi bencana adalah meningkatkan kapasitas dari objek rentan bencana melalui kurikulum mitigasi (pembelajaran dan pelatihan mitigasi secara terstruktur dan konsisten).

Ketidakberdayaan Manusia di Hadapan Bencana Alam

Dua tahun yang lalu saya pernah mengikuti pelatihan daerah yang khusus diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan provinsi Jawa Tengah bagi siswa yang akan berangkat ke Olimpiade Sains Nasional. Saat itu, dari seorang teman satu pelatihan, saya mendapat sebuah film yang belum pernah saya tonton sebelumnya. Krakatoa; The last Days, sebuah film yang dibuat tahun 2006, mengisahkan tentang letusan sebuah gunung yang terletak di Selat Sunda pada tahun 1883.

Saat itu letusan Gunung Krakatau menyebabkan tsunami yang menerjang bagian barat Pulau Jawa dan selatan Pulau Sumatera serta berdampak bagi penurunan suhu global selanjutnya. Salah satu cuplikan adegannya adalah ketika akan terjadi tsunami, warga sekitar justru berbondong-bondong mendekat ke arah pantai. Menyaksikan laut yang surut, yang mungkin baru pertama kalinya mereka lihat dalam hidupnya.

Akibatnya sudah jelas, ribuan orang tewas tergulung dahsyatnya gelombang tsunami. Sebuah adegan yang cukup miris, menggambarkan ketidaktahuan masyarakat terhadap karakteristik sebuah bencana yang ada di depannya. Kala itu saya hanya menganggapnya hal yang biasa. Ketidaktahuan yang umum terjadi di tengah kondisi masyarakat yang belum mengenal pendidikan.

Namun, kemirisan itu kembali terulang 123 tahun setelahnya. Ketidaktahuan masyarakat terhadap karakteristik sebuah bencana yang ada di depannya menuntut banyak korban berjatuhan kembali. Sekalipun dengan jenis bencana yang berbeda. Tepatnya 27 Mei tahun 2006, Yogyakarta dan sekitarnya diguncang gempa bumi.

Gempa bumi dangkal berkekuatan 6,2 SR ( versi United States Geological Survey) menewaskan lebih dari 6000 jiwa. Sebagian korban tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang mutunya kurang memadai dan tidak didesain untuk dibangun di wilayah bertanah lengas yang sulit meredam getaran seperti Sleman.

Setelah kejadian itu, lembaga bantuan non-pemerintah bekerja sama dengan Domes for The World Foundation membangun rumah dome yang dirancang lebih tahan gempa bumi di daerah Prambanan, agar dampak gempa bumi serupa tidak terlalu merugikan di masa mendatang.

Alam dan segala dinamikanya, termasuk bencana, memang berdampak dahsyat bagi kehidupan manusia. Tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, bencana alam juga menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan bagi mereka yang selamat pasca bencana. Seperti halnya yang terjadi dengan penghuni barak pengungsian yang masih bertahan setelah tsunami Aceh tahun 2004.

Kerusakan dan ‘kekacauan’ pasca bencana tidak hanya akibat kekuatan dahsyat dari bencana alam yang tak mungkin dihilangkan. Akan tetapi, juga berasal dari kapasitas masyarakat Indonesia yang masih belum tanggap bencana.

Hal yang demikian membuat masyarakat tidak paham karakterisitik bencana yang akan terjadi dan tanda-tandanya serta seringkali panik dan tidak tahu harus berbuat apa saat bencana terjadi. Tentunya hal ini tidak akan terjadi jika sedari dini mereka mendapat pengetahuan tentang kebencanaan.

Mengurangi Dampak Akibat Bencana Alam

Bencana alam tidak mungkin dikurangi apalagi dihilangkan sama sekali. Kegiatan mitigasi pun dilakukan hanya dalam rangka mengurangi dampak sebuah bencana, bukan menghapuskan bencana dari muka bumi. Sebuah rumus mitigasi yang saya baca dalam buku Suplemen Sumber Belajar Olimpiade Geografi menjelaskan bahwa sebuah bencana alam hanya bisa dikurangi dampaknya/resikonya.

Pengurangan risiko tersebut hanya bisa dilakukan melalului peningkatan kapasitas (capacity) dari obyek rentan bencana. Baik kapasitas tempat tinggalnya maupun kapasitas dari individu rentan bencana,

Peningkatan kapasitas tempat tinggal sudah mulai dilakukan oleh pemerintah melalui mitigasi struktural. Contohnya adalah pembuatan kanal banjir untuk mengantisipasi dampak bencana banjir, relokasi warga di lereng berpotensi longsor, dan pembangunan bunker di lereng gunung berapi seperti Gunung Merapi.

Kesemua langkah struktral tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh sebuah bencana alam. Dan hasilnya memang cukup lumayan. Ketika Gunung Merapi meletus ada warga yang selamat karena berlindung di bunker yang ada di Kali Adem. Namun, mitigasi struktural belumlah cukup. Pemerintah masih perlu membuat kebijakan dalam bidang mitigasi non-struktural guna meningkatkan kapasitas individu yang tinggal di daerah rentan.

Mewujudkan Indonesia Tangguh Bencana Alam Melalui Kurikulum Mitigasi

Mitigasi non-struktural diperlukan dalam rangka memberi pemahaman mengenai kebencanaan kepada individu yang tinggal di daerah rentan. Dibangunnya bunker untuk mengantisipasi dampak letusan gunung berapi tidak akan ada gunanya jika masyarakat yang ada di sekitarnya tidak faham apa guna bunker dan bagaimana cara menyelamatkan diri ketika terjadi letusan.

Dan pembelajaran mengenai kebencanaan, karakteristik,serta tanda-tandanya di Indonesia masih sangat kurang. Sebagian besar korban jiwa tewas akibat ketidaktahuannya terhadap karakteristik bencana dan tidak mampu menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Selama ini, pembelajaran mengenai kebencanaan memang telah diajarkan di bangku sekolah. Namun, itu hanya sekilas dan tidak mendalam. Saya masih ingat pelajaran mengenai ciri-ciri sebuah gunung akan meletus hanya diajarkan saat kelas 5 SD melalui mata pelajaran IPS. Itu pun hanya sekali pertemuan.

Baru ketika SMA dan mendalami pelajaran geografi untuk persiapan olimpiade saya menerima pelajaran mengenai kebencanaan dan manajemen bencana. Bukan bermaksud sombong, tentu tidak semua orang berkesempatan mempelajari geografi apalagi sampai mengikuti olimpiade.

Bahkan mungkin tidak seluruh masyarakat Indonesia berkesempatan menempuh jenjang SMA dalam pendidikannya. Lantas bagaimana mereka paham kebencanaan jika tidak pernah mendapat pembelajaran tentang itu?

Pemerintah perlu memasukan kurikulum mitigasi bencana dalam pembelajaran di sekolah. Setara dengan membaca, menulis, dan berhitung juga mempelajari Pancasila, mengingat kemampuan bertahan dalam bencana menentukan berlanjutanya kehidupan setelahnya.

Pembelajaran mengenai kebencanaan dan manajemen bencana haruslah diajarkan sedini mungkin, sejak sekolah dasar. Dan kurikulum mitigasi bencana tidak hanya memuat tentang materi kebencanaan dan manajemen bencana secara teori, tetapi juga mengenai praktek langsung melalui simulasi rutin.

Hal tersebut tidak lain agar masyarakat Indonesia paham secara teori apa yang harus diperbuatnya ketika terjadi bencana alam dan bagaimana karakteristik serta ciri-ciri akan terjadinya serta terbiasa menghadapi situasi genting bencana. Sehingga mental panik yang biasa terjadi ketika bencana alam melanda Indonesia bisa dikurangi.

Belajar dari negara dengan kerentanan terhadap bencana alam yang hampir serupa dengan Indonesia, Jepang, pembelajaran mengenai kebencanaan dimulai sejak sekolah dasar. Dimulai dari hal sederhana berupa pembelajaran membaca peta menuju tempat evakuasi sehinga mendukung evakuasi berjalan lebih cepat dan efisien.

Program yang baik akan berjalan jika didukung oleh regulasi yang kuat dan diselenggerakan secara konsisten. Tentunya peraturan di tingkat nasional adalah regulasi tertinggi yang seharusnya dapat menjadi cetak biru bagi pelaksanaan program di bawahnya. Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pembelajaran mitigasi bencana alam, sepertinya belum ada regulasi yang cukup kuat untuk menjamin terwujudnya masyarakat tangguh bencana di Indoensia.

Untuk itu, perlu kiranya pemerintah memberikan atensi lebih bagi pembelajaran kebencanaan sejak dini dan pembiasaan melalui simulasi rutin sehingga terwujudnya masyarakat Indonesia tangguh bencana akan sesegera mungkin terlaksana. Tentunya tidak sekadar bencana yang disebabkan oleh alam, tapi juga antisipasi terhadap dampak perubahan iklim seperti yang termuat dalam tujuan pembangunan berkelanjutann (MDGs).

Sekali lagi, mitigasi hanya sebatas upaya untuk megurangi dampak dari sebuah bencana, bukan untuk menghilangkan bencana sama sekali. Dan upaya pengurangan dampak bencana adalah tugas bersama, pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan.