Penulis
6 hari lalu · 228 view · 3 menit baca · Budaya 71566_91531.jpg

Mewariskan Budaya yang Hampir Punah

Terancam punah.

Situasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan ini harus segera dicarikan jalan keluarnya. Garus ada langkah raksasa agar ada kepedulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara; tidak sekedar parsial, namun dalam scope nasional secara komprehensif. 

Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat, dan terhormat.

Pentingnya Budaya

Budaya merupakan seperangkat nilai yang tak bisa dianggap remeh. Karena kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur sebagai hasil adanya interaksi manusia dengan lingkungan alam dan sosialnya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam. 

Nilai-nilai luhur tersebut telah menjiwai sebuah bangsa dan masyarakat. Sehingga kebudayaan sangat mewarnai sekaligus memberi karakter pada jiwa suatu bangsa (volkgeist). 

Budaya menjadi cerminan nilai kejiwaan yang merasuk ke dalam setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup manusia atau. Oleh sebab itu, sistem budaya sangat berpengaruh ke dalam pola pikir (mind-set) setiap individu manusia. 

Budaya berkonotasi positif sebagai buah dari budi daya manusia dalam menjalani kehidupan dan meretas kreativitas hidup yang setinggi-tingginya. Maka budaya pun bisa dikatakan nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan suatu masyarakat atau bangsa yang lahir sebagai hikmah (implikasi positif) dari pengalaman hidup selama ribuan tahun lamanya. 


Adanya budaya juga membedakan mana binatang mana pula manusia. Manusia tidak disebut binatang karena pada dasarnya memiliki kebudayaan yang terangkum dalam sistem sosial, politik, ekonomi, dan kesadaran spiritualnya. Setuju atau tidak setuju, kenyataannya budaya sangat erat kaitannya dengan moralitas suatu bangsa.

Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) menyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” 

Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.

Nilai luhur budaya di suatu daerah harus terus ditanamkan kepada generasi muda sebagai fondasi menghadapi kuatnya arus dan pengaruh budaya luar. Agar generasi muda tak tercerabut dari jati diri bangsa.

"Anak-anak muda perlu dikenalkan budaya-budaya lokal, sehingga tidak tercerabut identitasnya, identitas budayanya, identitas sosialnya. Hal ini sangat penting," kata Pemerhati Budaya Bozz Andeng. 

Bagi saya pribadi, menikmati musik etnik itu bukan hanya persoalan selera musikalitasnya, melainkan juga karen adanya relasi antara nilai-nilai histori serta kenangan masa lalu, yang tertanam dalam memori masa kecil atau sudah sedemikian terpatri dalam diri sang penikmat.

Demikian pula musik biola dan gambar versi Orang Reo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mungkin hanya generasi 70an atau 80an ke bawah yang bisa menikmati dan meresapi pesona alunan irama magis penuh keindahan dan kenangan masa silam tersebut. 

Bahkan musik etnik ini bisa meluruhkan rasa rindu pada kampung halaman atau mungkin juga pada orang-orang yang kita cintai, terlebih kerinduan pada orang tua kita yang telah tiada.

Notasi dan aransemen musiknya memang sangatlah sederhana. Namun kesederhanaan bermusik dengan alat seadanya ini tidak lalu menghilangkan esensi nilai-nilai filosofi dan pesan moral di balik syair dan pantunnya. 

Hal lain bisa saja menggambarkan berbagai suasana batin sang pelantun, bisa perasaan kasmaran, juga bisa berupa nasihat dan atau petuah, serta hiburan untuk Sahibul Hajat lewat padanan kata dalam syair-syairnya yang jenaka penuh keriangan.


Majulah terus musik etnik lokal. Karena hanya dengan cara ini kita bisa merawat budaya di tengah arus globalisasi yang tak terbendung, yang menawarkan ingar bingar berbagai genre musik kontemporer dewasa ini. 

Artinya, perlu kesadaran budaya dan upaya bersama agar musik biola dan gambus ini tidak punah ditelan zaman hanya karena ketiadaan generasi penerus dan rendahnya minat generasi muda untuk mempelajarinya dari sang maestro saat ini.

Salah satu alasan mengapa kesenian biola daerah Reo harus tetap eksis di era modern ini adalah karena biola merupakan bentuk konsep berkesenian tradisional yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga perlu untuk dikembangkan oleh generasi muda kontemporer seperti sekarang.

Sungguh betapa bernilainya kesenian biola dalam kehidupan manusia. Karena ia merupakan representasi dari nilai-nilai kemanusian yang ada di dalam setiap manusia, seperti estetik falsafah hidup daerah tersebut dan kesemua nilai tersebut termanifestasi ke dalam alunan musik biola yang direpresentasikan oleh setiap tokoh dalam pemainnya. 

Saya berharap tulisan ini dapat menginspirasi seluruh pembaca agar bisa mencintai dan menghargai budaya Kecamatan Reo serta bangsa Indonesia. Jika bukan bangsanya sendiri, siapa lagi yang akan menghargai dan melestarikan kebudayaan Indonesia?

Semoga suatu saat kebudayaan Indonesia bisa berkembang pesat hingga mancanegara. Dan untuk bangsa Indonesia, mari lestarikan budaya kita sebelum diambil alih oleh bangsa lain. Jangan sampai penyesalan datang di akhir.

Artikel Terkait