Judith Rudakoff merupakan seorang Professor Teater di Universitas York di Toronto, Kanada. Ia mendapatkan penghargaan Elliott Hayes atas kiprahnya dalam dunia dramaturgi pada tahun 2000. Salah satu bukunya adalah Between the Lines: The Process of Dramaturgy (ditulis dengan Lynn M. Thomson).

Judith Rudakoff menyusun metode non-preskriptif untuk mencipta dan mengembangkan karya artistik lintas disiplin yang berbasis teks atau tidak berbasis teks. Metode tersebut ia namai dengan The Four Elements (empat elemen). Judith menyatakan bahwa metode yang ia rancang dapat berguna sebagai alternatif dari teknik analisis drama konvensional.

Tahapan Dalam Metode Dramaturgi Empat Elemen

Metode ini dapat digunakan untuk membuat karya baru atau menganalisis lakon yang sudah ada. Proses ini dimulai dengan memeriksa dan memahami sifat-sifat dari empat elemen: Udara, Bumi, Api, dan Air. Elemen tersebut memunyai gambaran untuk membangun karakter dan memahami relasi mereka satu sama lain.

Dalam merancang "panduan" atas empat elemen ini , Judith mengembangkannya dari banyak sumber, baik ilmiah maupun non-ilmiah. Panduannya bersumber dari pengamatan empiris, ajaran neo-pagan yang ditransmisikan secara lisan, studi tentang sistem kepercayaan spiritual berbasis bumi dan referensi mitologis dari budaya dunia. 

Panduan ini akan memberikan titik awal untuk diaplikasikan secara individual. Kunci dari metode ini adalah personalisasi dan adaptasi. Panduan ini berkaitan dengan elemen itu sendiri dan juga menempatkan elemen dalam hubungan kekuatan tertentu dengan elemen lainnya.

AIR


Air transparan dalam bentuknya yang murni. Air dapat membawa benda yang sangat berat. Air mencerminkan hal-hal. Itu digunakan sebagai cermin di zaman kuno. Air tidak bisa dibuat lebih kecil dari itu.

Air akan mengembang agar sesuai atau mengisi ruang atau bentuk apa pun yang diberikannya. Air akan mengambil bentuk apa pun yang mengelilinginya. Air mengalir dengan lancar (tetapi kurang lancar daripada udara).

Air bereaksi terhadap api (tetapi kurang dari Udara). Air dapat diubah menjadi bentuk lain (seperti es atau uap). Air membuat orang, tempat, atau benda tetap hangat atau sejuk, tetapi kurang efektif dibandingkan Udara atau Bumi.

Air tidak akan bergerak dengan sendirinya. Air akan menyerap hal-hal (termasuk Udara dan Api). Air adalah satu-satunya unsur yang dapat menembus Bumi dengan mudah, bagaimanapun kondisi Bumi.

BUMI


Bumi tidak dapat diubah menjadi unsur lain. Kekuatan bumi didasarkan pada kekokohannya, daya tahannya. Bumi bertahan dan bertahan. Bumi itu padat. Anda tidak dapat membuatnya lebih kecil atau lebih besar dari itu. 

Bumi tidak akan bergerak kecuali ada sesuatu yang membuatnya bergerak. Bumi dapat membuat orang, tempat, benda tetap hangat atau sejuk. Bumi akan menolak upaya untuk memindahkannya. Bumi menerima unsur-unsur lain, tetapi sebagian besar untuk Air.

API


Api tidak dapat diubah menjadi unsur lain, tetapi dapat berubah dari satu bentuk energi/Api ke bentuk energi lainnya. Kekuatan api berasal dari gerakan. Api membuat orang lain, benda, bahkan tempat bergerak, berubah, atau pergi.

Api mengeluarkan panas. Api tidak berat, tetapi bukan berarti tidak kuat: kekuatannya tidak berasal dari ukuran. Api dapat menghancurkan Air atau Bumi ketika menyerang secara langsung.

UDARA


Udara jelas dalam keadaan alami. Udara membawa energi dan benda-benda ringan. Udara memantulkan objek, seperti fatamorgana. Udara dapat menempati ruang apa pun yang tersedia. Itu bisa dikompresi atau diperluas.

Udara bereaksi terhadap energi, sehingga bisa menjadi panas atau dingin tergantung pada apa yang mempengaruhinya. Udara mengalir dengan mudah, bahkan lebih mudah daripada Air. Anda dapat mengubah "bentuk" Udara dengan mengelilinginya dengan bingkai, kotak, atau wadah.

Udara, dalam kondisi tertentu, dapat diubah menjadi zat cair (oksigen cair) atau zat padat (es kering). Statusnya tergantung pada keadaan eksternal. Udara dapat membuat benda, orang, atau tempat tetap hangat atau sejuk. 

Udara tidak bergerak kecuali ada sesuatu yang menggerakkannya. Udara diperlukan untuk Api. Udara ringan, tetapi memiliki kekuatan yang besar.

Menerapkan Elemen: Latihan Awal

Sebagai permulaan, kita harus mengenali dan mengidentifikasi aspek empat elemen dalam kepribadian kita sendiri. Pola perilaku, suka dan tidak suka, dan juga dalam diri satu sama lain antara rekan dalam satu produksi. Setelah kita mempelajari elemen tersebut, cobalah menginternalisasi elemen tersebut. 

Temukan berbagai frasa, ekspresi, lema, istilah dan pernyataan yang mencerminkan unsur-unsur yang berkaitan dengan empat elemen.  Istilah sehari-hari akan sangat memudahkan kita memahami prosesnya, contohnya; kepala batu (Bumi), makan angin (Udara), mengikuti arus (Air), terburu nafsu (Api).

Metode empat elemen juga dapat diterapkan sebagai metode analisis teks lakon. Judith memberikan beberapa contoh diantaranya seperti Hamlet yang diumpamakan sebagai 'Air yang murung'. Hamlet membanjiri lingkungannya dengan penjelajahan emosional. Dia transparan dan tidak bersalah ketika dalam keadaan tidak terganggu atau netral. 

Hamlet merupakan tokoh yang berusaha memenuhi harapan, menjadi apapun yang diinginkan, dan juga berusaha menyerap sebanyak mungkin apa yang terjadi di sekitarnya. Pada sisi yang lain, Ophelia umpama udara. Dia terbuka dan percaya pada keadaan alaminya, tetapi sangat reaktif terhadap energi di sekitarnya.

Dalam Miss Julie karya Strindberg, interaksi antara Miss Julie dan Jean adalah hubungan antara Air dan Api miliknya. Hubungan itu menyiratkan kemungkinan kehancuran, tergantung pada keseimbangan kekuatan yang bergeser antara Air dan Api. Jean mungkin menguapkan Miss Julie atau Julie mungkin memadamkan Jean.

Sutradara dapat menerapkan pola dan sifat perilaku kepada aktor, baik dalam interpretasi teks maupun dalam gestur tubuh setiap karakter. Desainer dapat memanfaatkan elemen dalam merancang pencahayaan, warna, tekstur kostum hingga konsep set. Aktor dapat menggunakan teknik ini untuk memahami cara karakter saling berinteraksi.

Apa saja bentuk latihan dalam metode empat elemen?

Judith Rudakoff mengembangkan serangkaian latihan dramaturgi yang terutama ditujukan untuk memulai produksi pertunjukan. Latihan ini juga dapat diadaptasi pada proses yang sedang berjalan, sebagai latihan karakter atau analisis teks untuk aktor, sutradara, desainer, atau dramaturg. Berikut ini adalah contoh dari beberapa latihan:

Monolog Elemen

Kenapa monolog? Monolog sering menjadi bagian dari drama atau menjadi akhir dari sebuah drama. Monolog juga menyediakan detail untuk biografi karakter. Dalam latihan ini peserta latihan ini akan menulis sebuah monolog yang mewakili salah satu elemen. Tahap selanjutnya pelatih mengajukan beberapa pertanyaan.

Pertanyaan umum yang diajukan biasanya; Siapa karakter yang ditulisnya dan kepada siapa dia berbicara? Mengapa dia menceritakan monolog ini? Apa yang baru saja terjadi sehingga cerita ini harus diceritakan? Dimana posisi karakternya? Tergolong pada elemen apa karakter dan  dunia dalam monolog tersebut? Bagaimana interaksi karakter dan dunianya? 

Untuk aktor yang memulai karakterisasi, latihan ini akan dilakukan dalam bentuk yang berbeda. Langkah pertama adalah mengidentifikasi elemen karakter dalam sebuah adegan, kemudian fokus pada elemen yang dimanifestasikan dalam lakon, dan kemudian menulis monolog atau bagian deskriptif dalam elemen itu.

Wadah Gambar

Tujuan dari latihan ini membangun sebuah wadah dan mengisinya dengan gambar untuk menciptakan hubungan visual dan ikonografi antara sebuah ide dan tindakan yang dapat direalisasikan. Sebagai latihan pengembangan project baru, atau sebagai sarana analisis lakon. Latihan ini dapat diwujudkan dalam tiga cara berbeda. 

Pertama, Eksplorasi Umum  yaitu menawarkan dunia gambar yang ditempatkan dalam wadah yang mengabstraksikan keadaan pikiran, keadaan artistik dari orang yang menciptakannya. Jenis latihan memungkinkan kita untuk mewujudkan berbagai aspek elemen dalam bentuk yang nyata. 

Kedua, Snapshot yang menawarkan kesempatan untuk melihat dengan cara yang spesifik dan terarah pada satu pengalaman terbatas, satu waktu atau satu tempat dalam kehidupan orang yang menciptakannya. Jenis latihan memungkinkan pemeriksaan dengan sangat rinci pada momen atau bagian tertentu dari dunia, peristiwa, atau orang. 

Ketiga, Dunia Karya yang menawarkan kesempatan untuk merangkum dunia karya kreatif dan semua yang ada saat ini di dunia ciptaannya. Ini akan berisi artefak dari dunia lakon yang diacu. Latihan ini meneliti dunia dan penghuninya sebagai suatu totalitas. Ini sangat berguna ketika mencoba memahami lingkungan lakon yang lebih besar.

Inti dari latihan ini adalah setiap jenis wadah gambar haruslah memiliki korespondensi elemen. Acuannya bisa pada elemen orang yang membuat wadahnya maupun pada elemen karyanya. Pada jenis yang kedua akan sangat berguna jika digunakan untuk mengeksplor satu adegan atau satu peristiwa dalam kehidupan karakter.

Gambar Flash

Gambar Flash mengharuskan peserta untuk memilih momen dalam hidupnya, atau dalam kehidupan karakter yang dia ciptakan atau pelajari. Latihan biasanya dimulai dengan menulis kata-kata, “Ada cerita tentang . . .” atau kalimat pembuka yang sebanding yang dipilih oleh peserta. 

Selama kurang lebih lima belas menit, pelatih menuangkan gambar yang menangkap kilatan peristiwa, perasaan, pikiran, tindakan, orang, atau apa pun yang membangkitkan hubungan dengan momen yang mereka pilih. Dalam latihan ini pelatih didorong untuk menggunakan pengulangan, seperti, "Yang dapat saya pikirkan hanyalah Api" (atau, jika lebih tepat, "Bumi," atau "Udara," atau "Air").

*Artikel ini merupakan sebuah terjemahan bebas dari artikel Judith Rudakoff tahun 1953 yang berjudul The Four Elements: New Models for a Subversive Dramaturgy. Bagi yang berminat membaca silahkan mengunjungi tautan ini.