Pagi itu saya siap-siap untuk keluar kantor. Saya berencana menghadiri undangan dari Kepala Puskesmas. Satu teman saya berseloroh: “Wih, gasik temen.” Saya hanya tersenyum. Sebenarnya saya agak malas berangkat tepat waktu. Toh acaranya dipastikan molor. Tapi secara kedinasan saya tidak ingin mempermalukan institusi saya. Ya, biarlah saya sebagai orang yang berangkat awal. Toh bila sampai Puskesmas saya tidak hanya bengong menunggu acara dimulai.

Benar saja. Ketika saya sampai di Puskesmas, ternyata saya adalah orang nomor tiga yang datang. Sembari menunggu para tamu undangan lain datang, saya sempatkan diri membaca beberapa cerpen di smartphone saya.

Saya datang ke Puskesmas mewakili KUA untuk mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya percepatan penurunan stunting. Sebagian besar masyarakat  memang masih jarang memahami istilah stunting. Tahunya adalah masalah anak yang kekurangan gizi mengakibatkan gangguan pertumbuhan. Anak seperti ini berakibat pada  tinggi badan yang kurang standar. Orang Jawa menyebutnya sebagai anak kuntet atau kunting. Jadinya seperti cebol. Itulah stunting.

Anak yang mengalami stunting, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya saja, tetapi perkembangan otaknya juga terganggu. Anak stunting yang sudah memasuki usia sekolah juga memiliki keterbatasan daya ingat. Kondisi kognitif anak menjadi lemah dan psikomotoriknya terhambat.

***

Setelah satu jam saya duduk santai di aula itu, acara baru dimulai.  Saya tidak marah dengan kondisi semacam ini. Saya juga tidak  menggerutu dengan molornya waktu yang selalu saya temui setiap ada kegiatan. Saya sudah memaklumi hal-hal semacam ini.

Saya mendengarkan dengan khusyuk paparan dari pemateri. Yang menjadi perhatian saya adalah ketika pemateri mamaparkan antara mitos dan fakta terkait stunting.

“Banyak yang berasumsi bahwa stunting diakibatkan oleh faktor keturunan dari orang tua yang bertubuh pendek. Ini adalah mitos.” Begitu kata pemateri. Kemudian dia menambahkan, padahal penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Mitos lainnya yang disodorkan pemateri adalah anggapan bahwa stunting yang paling terlihat berupa tubuh penderitanya yang pendek. Sebenarnya, secara medis, dalam jangka panjang, stunting tidak hanya pada tubuh yang pendek saja. Tetapi menyebabkan perkembangan kognitif anak bisa terhambat sehingga kecerdasannya kurang. Ada juga risiko penyakit degeneratif di masa depan, seperti diabetes melitus, hipertensi hingga jantung koroner.

Stunting dimulai ketika seorang anak lahir juga bagian dari mitos masa lalu. Faktanya, kekurangan nutrisi selama sang ibu hamil bisa menyebabkan janin tidak tumbuh dengan baik sehingga meningkatkan risiko stunting. Makanya momentum di 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) yang dimulai sejak anak dalam kandungan hingga usia 2 tahun sangatlah penting. Ibu hamil selalu disarankan untuk mengonsumsi makanan beragam dan bergizi seimbang agar janin tumbuh sehat. Ini juga upaya menghindari anak dari risiko stunting.

Anak kurang banyak makan juga bisa menyebabkan stunting  menurut mitos masa lalu. Ya, masih banyak yang menganggap stunting disebabkan karena anak kurang makan. Faktanya, penyebab stunting bukan karena kurang makan, tetapi asupan makanan yang tidak seimbang. Oleh karena itulah makanan bergizi seimbang, yang mengandung karbohidrat, protein, lemak vitamin, dan mineral sangat penting untuk mencegah stunting pada anak.

Mitos masa lalu yang menyebabkan anak mengalami stunting adalah semakin cepat memberikan makanan pendamping asi dianggap semakin baik untuk mencegah stunting. Makanya bayi pada lalu, baru beberapa hari lahir saja sudah dicekoki pisang atau nasi yang dilebutkan. Katanya biar bayinya kuat.

Sementara WHO dan IDAI merekomendasikan makanan pendamping asi  pertama dilakukan saat bayi berusia 6 bulan. Pemberian makanan pendamping asi yang terlalu cepat dikhawatirkan dapat mengganggu pencernaan bayi yang belum sempurna. Jika dipaksakan mengonsumsi makanan padat, bayi bisa sering mengalami diare atau infeksi saluran pencernaan atas. Perlu diingat, bayi yang sering sakit-sakitan akan lebih tinggi berisiko menderita stunting karena energi yang sebenarnya diperlukan untuk pertumbuhan justru digunakan untuk proses penyembuhannya dari sakit.

Begitulah kira-kira paparan pemateri dalam acara itu yang saya tangkap antara mitos dan fakta dari anak yang mengalami stunting. Saya manggut-manggut.

***

Saya kok jadi mikir, jangan-jangan apa yang disampaikan pemateri itu bukan mitos dan fakta. Tapi mitos yang diubah. Atau kerennya adalah metamorfosa mitos tentang stuting. Ya, mitos baru untuk mengalihkan kepercayaan masyarakat terkait dengan stunting.

kenyataan ini bisa dijelaskan dengan terlebih dulu memahami secara mendalam logika mitos. Bagi saya, mitos itu adalah semacam propaganda yang mempersuasi masyarakat dengan cara menyebarluaskan informasi sehingga masyarakat percaya. Kalau dulu orang menyebut mitos karena tidak ada dasarnya. Tetapi herannya masyarakat percaya dan menemukan kebenaran-kebenaran bagi yang percaya pada mitos itu.

itu adalah tuduhan masyarakat asa kini. Ya, kepercayaan masyarakat masa lalu karena budaya pada masa itu adalah budaya oral. Jadi mereka tak perlu meneliti lebih jauh karena kepercayaan itu sudah ada sejak zaman nenek moyangnya.

Begitulah mitos, selalu dikemas sedemikian rupa sehingga menarik dan terkesan sebagai informasi yang akurat. Pada akhirnya tetap tidak bebas dari ideologi kepercayaan di dalamnya,

Sementara zaman sekarang, karena masyarakat bisa mempercayai suatu informasi bila kebenarannya bisa dinalar logika. Harus ada penelitian ilmiah yang bisa membuat masyarakat percaya. Hal ini dikarenakan memang eranya begitu. Zaman sekarang manusia sudah tidak lagi hidup di tengah zaman oral. Kini manusia tengah memasuki zaman literal.

Bahkan sudah sampai pada zaman digital. Inilah yang membuat manusia yang hidup di masa sekarang kalang kabut menghadapi banjir bandang informasi. Ya, belum kokoh hidup di zaman literal, tiba-tiba sudah digempur masa digital.

Sejenak antara mitos dan fakta memang beda. Kalau dulu secara praktis pokoknya masyarakat percaya. Sekarang masyarakat bisa percaya bila ada bukti ilmiahnya.

Sebenarnya mitos dan fakta memiliki pola yang sama, yaitu sama-sama mempersuasi masyarakat agar percaya pada informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Acara sosialisasi adalah strategi paling ampuh untuk mempersuasi masyarakat. Ditambah lagi ada pihak yang kompeten di bidangnya untuk menambah keampuhannya itu informasi, yaitu pihak dari kesehatan. Dan tidak menutup kemungkinan bila sains berkembang lagi di masa yang akan datang, akan muncul lagi mitos-motos baru tentang stunting. Inilah metamorfosa mitos yang ada pada stunting. Anda percaya?

----

Moch Taufiqurrohman seorang ASN yang suka menulis dan melukis.