55779_54464.jpg
The Black Rocks at Trouville (1866) by Gustave Courbet
Filsafat · 4 menit baca

Metafisika Rasional
Hanya para filsuf yang tak ingin diangkat menjadi nabi

Hidup adalah peristiwa sebab-akibat. Hanya para filsuf yang tak ingin diangkat menjadi nabi, karena ia menyadari bahwa jika ia mengeluarkan suatu dalil filosofis yang bertujuan untuk memfinalkan satu peradaban, maka hilanglah kesempatan sejarah untuk menguji kembali dalil yang pernah ia ucapkan tersebut. 

Para filsuf lebih suka diuji dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih berat yang tentunya belum pernah dipikirkan sebelumnya, misalnya seperti bagaimana alam itu berawal, evolusi binatang serta tumbuh-tumbuhan lainnya. Seorang filsuf akan menyadari bahwa semakin berat kebingungan yang membebani akal dan batinnya, maka semakin besar kesempatan baginya untuk menemukan makna baru bagi peradaban.

Sementara para pemuka agama sering kita perhatikan lebih memantapkan posisi di mana surga sudah ada di depan mata. Keyakinannya merasa paling suci membuatnya untuk beranggapan untuk apa berpikir berat, seperti mereka yang merasa ahli surga dengan bangganya akan pamer kesalehan di mana-mana. 

Berkaca dari beragam aspek kultural tersebut bahwa seseorang yang memiliki pengaruh besar dalam peradaban tentu tidak membutuhkan pujian apalagi dianggap sebagai suara dari illahi. Nietzsche misalnya tak menginginkan penganut-penganut. Ia lebih suka menyaksikan manusia mencari jalan hidupnya masing-masing. 

Bahkan Nietzsche lebih suka dirinya ditentang dan dilawan yang membuktikan bahwa para filsuf sibuk menciptakan pengetahuan baru, sementara para imam sibuk jihad menuju surga yang belum pasti teruji secara empiris. Kedangkalan berpikir itu menyebabkan keyakinan lebih membludak untuk dipertahankan dan merasa haram untuk dikritik adalah bagian dari mundurnya suatu peradaban. Kita jangan sampai seperti itu dan cukup tahu saja untuk tidak merasa nyaman dengan segala situasi.

Filsafat itu bergerak terus mencari tanpa mempermasalahkan akhir segala sesuatu bakal masuk surga atau tidak adalah salah satu tujuan dalam mempelajari filsafat. Tidak ada yang mudah. Kalau terlalu cepat mengambil keputusan dan ego terlalu membludak dalam menetapkan, maka hilanglah esensi sejati dari refleksi pemikiran. Seyogianya seperti itu bahwa nalar mendahului iman; yang di langit memiliki urusan yang di langit, sementara yang di bumi memiliki hukum tersendiri, yaitu hukum berupa undang-undang yang realistis.

Bagaimanapun di dalam diri manusia akan selalu ada keinginan untuk mencapai pengetahuan akhir yang sama dengan berharap menuju keabadian, atau tenggelam dalam harapan surga yang menyebabkan kekhawatiran dalam melakukan ibadah semakin mencemaskan. Ketika keyakinan teologis membengkak, maka ketajaman pikiran akan tumpul.

Terjadi defisit pada akal dan surplus pada keyakinan menyebabkan buta pada kebebasan berpikir. Seseorang tidak bisa menentukan secara tepat tentang iman dan pahala, tetapi seseorang bisa mampu meningkatkan kemampuan berpikir hingga ke tingkat radikal penuh pemaknaan. Melihat tidak sekadar dengan ketentuan dari keyakinan, melainkan terstruktur dari dasar sampai mendapat kesimpulan. 

Lupa berpikir atau tak sempat memiliki waktu? Kita banyak kehilangan kesempatan untuk berpikir serius disebabkan beberapa hal. Pertama, tingginya pengaruh media sosial yang di mana lebih banyak hiburan viral sekadar cari sensasi. Kedua, pudarnya semangat untuk mencari penjelasan baru untuk keluar dari teologi konservatif.

Bagi seorang filsuf yang berpikir tajam akan berpendapat bahwa sebejat-bejatnya iblis dalam melakukan kesalahan, Tuhan takkan sampai hati memasukkan iblis ke dalam neraka karena Tuhan itu maha pengasih. Itu kalau kita berani berpikir eksistensial di luar doktrin teologis dan berusaha menciptakan interpretasi baru agar tidak monoton terlihat dangkal.

Tuhan percaya dan memberi pengendalian penuh kepada manusia bahwa manusia bisa menciptakan surga di dunia ini karena manusia memiliki jutaan gagasan dalam membangun suatu peradaban. Kenapa saya katakan seperti itu, karena di situlah penting bagi kita untuk berpikir di luar doktrinasi teologi. Artinya, bebas tanpa harus terkungkung oleh ketakutan akhirat. 

Jika tuhan maha cerdas, ia akan menanyakan kepada hambanya secara rasional, menguji pikiran bukan keyakinan, karena soal keyakinan dan iman itu adalah bagian dari malaikat. Malaikat diciptakan untuk patuh dan setia, sementara manusia diciptakan untuk bijak dalam berkarya.

Filsafat eksistensialisme dan pemikiran absurditas sangat melatih manusia untuk berpikir dan menghasilkan interpretasi baru dan radikal. It banyak kita temukan di dalam novel-novel karya Dostoevsky, Albert Camus, Jean-Paul Sartre, dan lainnya yang mengandung pemaknaan di luar teologis. Bahwa manusia dikutuk untuk bebas dan memperbaiki kekeliruan yang telah diperbuat demi terciptanya keadilan yang setara.

Matafisika, yaitu pemikiran yang berusaha menjangkau apa yang (mungkin) ada di balik sesuatu penampilan yang berwujud. 

Metafisika boleh dianggap merupakan ragam berfilsafat yang tertua dan berkembang sebagai kegiatan perenungan yang cenderung mendekat pada sistem kepercayaan. Menurut Fuad Hassan dalam buku Psikologi-Kita & Eksistensialisme, manusia tidak saja hidup dalam dunia serba-kenyataan, tetapi juga dalam dunia serba-kemungkinan, dan dunia kemungkinan itu hanya bisa didekati melalui spekulasi.

Analogi dalam berfilsafat adalah seperti menangkap baseball bisa diantisipasi gerak bola jatuhnya di mana, mengira-ngira sudut elevasi, gravitasi, sehingga bisa atur langkah dalam menangkap bola. Menangkap layang-layang tidak ada dalilnya. Kita mesti pakai seluruh sistem intuisi kita sekaligus bikin kalkulasi, sekaligus bergembira. Meskinya kita hidup dengan filosofi: mari menangkap layang-layang; walaupun gak dapat, tapi kita tetap bergembira.

Untuk itu kita perlu harus curiga tanpa harus berpikiran buruk bahwa jika ada seseorang yang menasihati untuk menjadi saleh, bisa jadi dia tidak ingin disaingi dalam kecerdasan, dan bisa jadi dia tak ingin ada orang lain yang mampu menyainginya. 

Sikap ini sering kita lihat ketika seorang dosen, misalnya, tak ingin mahasiswanya lebih cerdas dari dia. Sebab jika mahasiswa lebih cerdas dari dosen, maka tergantikanlah kedudukannya sebagai pengajar tinggi. Itu makanya banyak orang tidak ingin digurui dan dinasihati, melainkan butuh support, masukan, dan inspirasi, katakanlah inspirasi pembimbing menuju jalan lurus.

Manusia harus terus-menerus melampaui dirinya sendiri, terus-menerus mencipta agar ia tak tersaingi oleh kemajuan teknologi yang dapat menggantikan pekerjaan manusia. Seorang pencipta harus berani menyatakan apa yang benar menurut anggapannya. 

Adakalanya kebenaran memang sungguh pahit untuk dinyatakan. Akan tetapi, kebenaran harus diungkapkan, sebab kebenaran tidak bisa dipendam dan disembunyikan tanpa berbalik menjadi racun yang membinasakan.

Orang yang bijaksana niscaya tidak akan ingkar terhadap kebenaran serta sanggup mengungkapkannya. Sebab, kata Nietzsche, "Diam adalah lebih buruk; semua kebenaran yang disembunyikan akan menjadi racun."