Manusia adalah Human of knowing and thinking memang menuntut segala apa yang ditanyakannya terjawab. begitupun alam semesta sebagai kajian dalam Kosmologi yang turut menjadi perhatian manusia sejak dahulu kala. 

Beberapa pertanyaan mendasar yang sama selalu hadir seperti dari mana dunia ini datang?, terbuat dari apa?, bagaimana dan kapan permulaannya?, bagaimana nanti akhirnya?, seberapa besar dan lain sebagainya?. Dan begitu pula jawaban-jawaban berkembang pada masing-masing bangsa dan peradaban.

Mungkin beberapa orang belum mengetahui apa itu metafisika, kenapa dikatakan ilmu ghaib, kenapa pula metafisika mengkritik teori Big Bang? 

Sebenarnya Metafisika bukanlah  ilmu gaib seperti apa yang dipahami banyak orang dan juga disebutkan dalam  judul diatas. Metafisika sendiri adalah cabang filsafat yang membahas persoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (existence).  

Istilah metafisika berasal dari kata Yunani meta ta physika sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik. Dan pada perkembangan selanjutnya metafisika juga mengkaji mengenai ilmu-ilmu yang tak tampak, tak kasat mata, tak terlihat fisiknya yang sulit dijelaskan secara ilmiah.                        

Teori Kosmologi yang paling terkenal mengenai penciptaan jagad raya ini, tidak bisa pungkiri Big Bang menjadi keabsahan yang kuat dalam menjelaskan fenomena ini. pertama kali dirumuskan oleh George Lemaitre pada tahun 1927. 

Lemaitre menyatakan bahwa alam semesta ini mulanya berasal dari gumpalan superatom yang berbentuk bola api kecil dengan ukuran sangat kecil. dan berekspansi mengembang seperti balon dan meledak terjadilah jagad raya ini. Teori inipun semakin dikukuhkan oleh Edwin Hubble (1889-1953), astonom Amerika Serikat, menemukan pemuaian alam semesta pada tahun 1929.

Sebenarnaya tidak hanya Big Bang yang menjelaskan awal mula jagat raya ini. Teori relativitas dari Albert Einstein, serta singularitas dan lubang hitam dari Stephen Hawking  ikut membantu menjelaskan aliran materealism & Positivism Atrofisika Modern dalam pembentukan alam semesta ini. 

Tingkat yang paling ekstrim Hawking bahkan tidak mempercayai adanya campur tangan Tuhan dalam penciptaan semesta ini. seperti yang dikutip dalam wawancaranya pada tahun 2010 seorang jurnalis Pablo Jauregui bertanya kepada Hawking soal posisi Tuhan dan sains. Pertanyaan itu dilontarkan karena Pablo menemukan ambiguitas pada dua buku Hawking. 

Dalam A Brief History of Time (1988), Hawking menyatakan bahwa penemuan “theory of everything”—seperangkat prinsip saintifik yang sampai hari ini masih belum terpecahkan—bisa mendorong para ilmuwan untuk mengetahui “alam pikir Tuhan”. 

Sementara di buku yang lain, The Grand Design(2010), Hawking mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan membuat misteri asal-usul alam semesta bisa diungkap para saintis, dan karena itu “Tuhan tak diperlukan lagi”.

Metafisikan Kritik Teori Big Bang dan Stephen Hawking

Sebelum melangkah lebih jauh mengapa Metafisika mampu mematahkan argumen dari teori Bigbang maupun Stephen Hawking. Metafisika sendiri sudah menjadi hal yang tabu untuk digunakan dalam sains modern sekarang ini bahkan aliran materealism yang melihat objek harus dapat dilihat secara panca indera dan harus mampu dilihat secara materi dan aliran positivisme yang melihat sebuah sains harus dapat diukur dngan jelas valid, dan realibel. 

Metafisika akan dianggap Gaib karena tidak dapat dilihat alias tidak tampak dan dapat diuji secara empiris. Dan hal ini pula lah para ilmuwan terutama Hawking menolak adanya campur tangan sang maha pencipta dalam penciptaan jagat raya ini dan memang begitu adanya jagat raya tercipta dengan sendirinya.

Problemnya teori Big Bang itu sendiri dari Metafisika. Awal mula terjadi karena prinsip singularitas dari partikel terkecil yang terus mengembang dan menjadikan jagat raya dan konon katanya semesta akan terus bergerak dan berekspansi saling menjauhi dan pada akhirnya menimbulkan semesta baru nantinya. 

Pertanyaannya adalah jika singularitas sebagai tahap awal dari Big Bang lalu apa yang terjadi sebelum Big Bang? Kapan waktu terbentuknya Big Bang? Jika ada sesuatu terjadi sebelum Big Bang maka otomatis Big Bang bukanlah yang utama dalam dunia ini, lalu apakah sebelum tejadinya Big Bang ruang semesta ini benar-benar hampa. 

Begitu pula teori lubang hitamnya Hawking yang sampai saat ini masih menjadi hal misterius. Apakah benar adannya lubang hitam di semesta ini. Hawking sendiri yang memaparkannya belum pernah menemuinya. Lucu bukan?

Bucaille, bahwa semua data yang disampaikan oleh astronom  modern masih berdasarkan spekulatif dan praduga saja, bukan kepastian. Karena berdasarkan estimasi, maka akurasinya tidak bisa bertahan lama, dan pada perkembangan berikutnya selalu ada data yang memperbaharuinya. 

Itulah yang sering disebut dengan keterbatasan sains. Tidak semua data bisa diakomodasikan oleh sains karena pada level-level tertentu sains tidak bisa menjangkaunya atau memberikan informasi yang akurat mengenai hal tersebut.

Diinformasikan oleh Mehdi Golshani, bahwa Anna Harrison, mantan presiden American Association for the Advancement of Science, mengemukakan masalah ini dengan anggun. Ia menduga bahwa pada masa lalu komunitas sains telah menjual terlalu banyak sains dan teknologi atau masyarakat telah terlalu banyak membelinya. 

Bagaimanapun, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh sains dan hal-hal yang tidak bisa dicapai oleh sains dan teknologi. Pernyataan ini didukung oleh Peter Medawar, dalam karyanya, The Limits of Science, bahwa memang betul-betul ada batas bagi sains.

Hal ini pula penulis menjadi teringat analogi Tauhid masa kecil dulu, dimana adannya Kursi dan Meja pasti karena ada pembuatnya yakni Tukang Kayu, apakah bisa dari pohonjati yang menjulang tinggi tumbang dengan sendirinya dan terciptalah Kursi, Meja. 

Begitupula sebuah bangunan  rumah yang megah apakah terbentuk dari proses sedimen yang mengering dari aktivitas vulkanik gunung berapi dan seiring berjalannya waktu dan proses alam akhirnya menggunduk dan terbentuklah rumah megah, apakah begitu?

Begitupun teori Big Bang berpijak pada logika awal mula pembentuk alam semesta ini adanya sebab-akibat yang mendahuluinya, dan yang dikenal dengan hubungan kausalitas.

Dengan menggunakan logika kausalitas tadi, maka akan disepakati bahwa alam semesta ini adalah akibat dari suatu sebab, sebab itu adalah akibat dari sebab lain dan seterusnya sampai terdapat sebab awal (prima causa). 

Sebab awal inilah yang kita sebut degan Tuhan, seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Ibnu Sina. Begitu pula dengan alam Universe ini tatanan keseimbangannya pergerakan planet, bintang, benda-benda langit lainnyayang bergerak sesuai lintasannya pastilah ada yang mengaturnya.