Pencapaian prestasi Messi secara individu sudah mentereng. Dia melampaui Zidane, Ronaldo dan Cristiano Ronaldo dalam perebutan gelar sebagai pemain terbaik dunia. Tapi jejak langkahnya bersama timnas sama sekali tidak sepadan dengan raihan prestasi individualnya.

Pencapaian terbaik Messi bagi timnas adalah mengantarkan negaranya berlaga di final (empat kali final Copa America dan sekali final Piala Dunia). Cukup beralasan bagi Messi mundur dari timnas. Di balik keputusan itu pasti ada rasa patah arang. Semua kemampuan terbaiknya sudah dia keluarkan demi meraih title juara bersama Argentina. Tapi segalanya berakhir dengan kegagalan justru di pertandingan puncak.

Dalam ajang Copa America 2016, Argentina adalah tim yang selalu meraup kemenangan telak. Lawan-lawan yang dihadapinya tidak berkutik menghadapi serangan agresif yang dimotori Messi. Argentina manyapu bersih setiap laga dengan kemenangan. Di semifinal, Amerika Serikat, yang digadang-gadang menjadi juara, dihantam babak belur dengan skor 4-0.

Kemenangan meyakinkan ini tentu menjadi modal mental yang sangat kuat saat menghadapi Chile. Tapi apa yang terjadi? Saat melakoni partai puncak, Argentina justru tampil antiklimaks. Sentuhan kaki “magis” Messi yang kerap memberikan assist dan membuahkan gol sama sekali tidak terlihat. Seolah dihantui oleh kegagalan karena selalu kalah di partai final, Messi tidak mampu memperlihatkan permainan yang memukau.

Aksi individunya gampang dipatahkan. Sulitnya menembus pertahanan membuat Messi melakukan aksi diving. Akibat aksinya itu, Argentina tidak mendapat hadiah pinalti. Messi malah diganjar kartu kuning oleh wasit.

Kenapa kontribusi Messi selalu minim bagi timnas Argentina di laga final? Pertanyaan itu menjadi sebuah pertanyaan yang tidak asing bagi Messi. Sebelum rakyat Argentina mempersoalkan minimnya kontribusi Messi, Messi sendiri sudah menyadari pertanyaan itu. Tapi Messi tidak bisa memberikan jawaban. Bukan sebuah jawaban verbalistik, tapi jawaban dengan pembuktian di atas lapangan, jawaban dengan membawa pulang tropi juara bagi negaranya.

Rakyat Argentina tentu masih berharap Messi bisa menjadi Maradona jilid kedua yang bisa membawa tim tango kembali ke tradisi juara. Tapi Messi memilih memutuskan mundur. Dengan nada kesedihan yang sangat mendalam Messi mengucapkan salam perpisahan buat tim tango. “Masaku bersama timnas (Argentina) telah berakhir. Timnas Argentina bukan untukku,” demikian cuplikan kalimat terakhir Messi seperti yang dikutip panditfootball.com.

Guratan kesedihan sangat jelas terpancar di wajahnya setelah melihat timnya kalah dalam drama adu pinalti. Kesedihan makin terasa menghujam karena dia termasuk eksekutor yang gagal. Menjadi algojo pertama Argentina, Messi gagal menuntaskan tugasnya dengan sempurna. Tendangannya sudah membuat Cladio Bravo salah mengantisipasi, tapi bolanya melayang di atas mistar gawang.

Tiap pemain pasti sangat berambisi mempersembahkan gelar bagi negaranya. Persembahan gelar bagi tempat kelahiran itu bisa dibilang jauh lebih punya makna dibanding sumbangan gelar bagi sebuah klub. Itulah kenapa sering terdengar nada-nada sumbang terhadap sejumlah pemain yang sukses menambah pundi-pundi gelar bagi klubnya tapi gagal bersinar saat tim membela negaranya.

Messi sepertinya terlahir sebagai pemain yang gagal meretas jalur kebuntuan Argentina menggondol tropi juara.