Bila ditanya mengenai tokoh idola, aku tak akan menyangkal jika Cak Nun merupakan salah satu orang yang kukagumi. Rasa kagumku terhadapnya begitu besar dan barangkali jika bertemu padanya, hatiku akan berseri-seri. Sebagai orang yang lahir dan besar dalam nuansa kekatolikan, tak ada dasar yang membuatku menyangkal kekaguman dan sifat karismatik beliau.

Awal perjumpaanku dengan nama Cak Nun tergolong tidak sengaja. Saat itu, aku sedang mengerjakan PR sejarah tentang detik-detik kejatuhan rezim Soeharto. Pada saat membaca beberapa artikel dan buku, aku menemukan nama-nama tokoh yang dimintai Soeharto sarannya dalam menyelesaikan tuntutan reformasi.

Adapun tokoh-tokoh tersebut adalah Malik Fadjar, Gus Dur, Ahmad Bagja, Ali Yafie, Anwar Harjono, Ilyas Rukhiyat, Ma'ruf Amin, Soetrisno Muhdam, Nurcholish Madjid atau Cak Nur, dan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Untuk nama-nama yang disebut di awal tergolong familiar di telingaku, sementara untuk nama terakhir seakan tidak pernah terdengarku di pemberitaan nasional.

Sekilas, aku mengabaikannya dan aku menganggap bahwasanya akulah yang tidak sering memperhatikan siaran berita nasional. Namun rasa penasaranku akan Cak Nun mulai tereksplorasi di masa SMA. Tak sengaja di beranda instagramku kutemukan quotes yang menarik. Di bawah quotes itu tertulis nama Cak Nun.

Isi quotesnya adalah “yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang". Aku yang sedang merasa dalam titik nadir seolah mendapat cambukan kuat melalui kalimat tersebut. Hasil yang kuanggap mengecewakanku segera kurenungkan.

Lamban laun, aku mulai sering memutar videonya dari YouTube jika memiliki waktu senggang. Di acara “sinau bareng” yang diadakan oleh beliau itu, tampak ribuan orang yang antusias mengikuti acaranya. Tidak ada keluh kesah dan malah senyum yang menyemburat dari wajah mereka yang turut serta dalam acara itu.

Penjelasan yang diberikannya mengenai kejadian aktual maupun masa lalu dilakukan dengan bahasa yang sederhana. Hal tersebut seolah menggenapi pepatah yang mengatakan, hanya seorang yang ahlilah yang mampu menjelaskan suatu persoalan dengan sederhana. 

Maka tak dapat disangkal beliau terlihat sebagai orang yang karismatik. Setiap ucapannya mampu menyihir orang yang menyaksikannya. Hal itu membuatku memandang dia itu ibarat Marthin Luther King yang dikenal karismatik oleh orang di zamannya. Kata-kata yang diucapkannya jernih dan menimbulkan gairah untuk hidup lebih baik bagi pendengarnya, ibarat air sungai yang memberi kehidupan bagi makhluk di sekitarnya.

Tutur bahasanya juga tergolong sederhana, namun tajam menyerobot ke hati pendengarnya. Beliau itu seakan mengamini istilah yang mengatakan, seorang ahli yang hebat adalah orang yang mampu menjelaskan hal-hal rumit dengan kata yang sederhana. Maka tak heran dia dikenal merakyat sehingga dapat diterima oleh kalangan mana pun.

Kerendahan hatinya pun ditunjukkan dengan ikut duduk di lantai seperti orang di sekitarnya tanpa takut dicap sebagai orang yang “tidak tahu tata krama”. Sebenarnya bisa saja beliau duduk di kursi untuk lebih menunjukkan kewibawaannya, bahkan sekelas mantan presiden saja pernah minta nasihat darinya. Tapi itu tak dilakukan demi perwujudan manusia itu sederajat dan menunjukkan bahwa kehormatan tidak hanya bisa diperoleh melalui pangkat dan kekayaan.

Dan baru-baru ini, sewaktu aku sedang di perpustakaan, aku terkaget bukan kepalang. Soalnya baru aku mengetahui Cak Nun seorang penulis buku. Bukunya pun bervariasi, mulai dari agama, ekonomi, kebudayaan, dan politik.

Kepiawaian tersebut menunjukkan bahwa dia adalah seorang pembelajar yang tulen. Apalagi yang makin membikin aku terheran-heran, ternyata beliau tidak tuntas pendidikan sarjananya. Perkuliahannya pada fakultas ekonomi di UGM ditinggalkan dan memilih “belajar” di Malioboro.

Namun tulisannya mampu menembus kolom Kompas dan Tempo yang terkenal superketat, dan lagi-lagi pencapaian itu didapatkan dalam rentang usia yang belum mencapai 30-an. Pencapaian itu membuat saya makin geleng-geleng kepala. Dan sekadar untuk bertahan hidup di perantauan di Yogyakarta, dia pun melatih bakat menulisnya sehingga ragam cerpen, esai, dan puisi mampu dihasilkan dari tangan dinginnya.

Tapi yang makin membuatku bertanya-tanya adalah kenapa beliau tidak disorot oleh televisi nasional sebagai seorang yang dimintakan pendapatnya mengenai suatu permasalahan? Padahal melihat sederet prestasinya itu sudah menunjukkan kualitas yang dimilikinya.

Akhirnya aku pun mulai menemukan titik terang kenapa beliau tidak ingin lagi tampil di televisi. Ini semata-mata soal idealisme dan prinsip yang dipegang teguh olehnya. Alasannya, Cak Nun menganggap fungsi sebagian besar media massa sudah terlalu jauh masuk ke ranah kepentingan materialistik hingga cenderung membodohi masyarakat.

Melihat segenap pencapaiannya tersebut, maka tak heran Cak Nun yang dikenal sebagai intelektual islam masa kini pantas menjadi idola bagi semua kalangan. Menerobos agama, suku, dan ras. Sebab kehadiran orang sepertinya adalah langkah dan mustahil ada di tiap zaman. 

Hal itu semua mengingatkanku pada perkataan Gus Dur; jika orang mampu bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, maka orang-orang tidak akan menanyakan agamanya. Mudah-mudahan Cak Nun diberi umur yang panjang agar tetap bisa berperan sebagai guru bangsa.